Kena Tilang Gak Perlu Panik! Dengan E-Tilang, Semua Jadi Lebih Mudah

Penerapan e-tilang memang sudah lama berlaku, tapi ternyata masih banyak yang belum tahu. Mereka yang belum tahu biasanya bingung dan kaget saat petugas menanyakan nomor handphone dan memberikan nominal denda yang harganya bisa mencapai Rp 1 juta.

Gak perlu berburuk sangka dulu dengan polisi yang bertugas. Itulah sebagian dari prosedur e-tilang alias tilang elektronik yang punya sejumlah kelebihan dibandingkan prosedur tilang sebelumnya.

Terkadang, walau tak sengaja melakukan pelanggaran, kita tetap bisa terkena tilang. Misalnya, lupa bawa STNK atau SIM, lupa menyalakan lampu kendaraan, atau keliru membaca tanda jalan sehingga mengambil jalur yang gak tepat.

Nah, biar gak panik saat kena tilang dan bisa selesaikan perkara dengan baik, pemahaman soal prosedur e-tilang jadi wajib hukumnya buat para pengendara. Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Prosedur e-tilang

prosedur e-tilang
(Image: wartakota)

Berbeda dengan prosedur tilang biasa, pada e-tilang kamu gak akan ditanya minta slip merah atau slip biru. Polisi yang bertugas akan memasukan sejumlah informasi mengenai pelanggar langsung ke dalam aplikasi. Biar mudah dipahami, berikut tahapan e-tilang:

  1. Polisi memasukan data pelanggar dan jenis pelanggaran menggunakan aplikasi e-tilang.
  2. Setelah pengisian data selesai, polisi akan memberitahu nomor pembayaran tilang yang muncul pada aplikasi.
  3. Pengendara juga akan menerima SMS berupa nominal denda yang harus dibayarkan. Besaran denda berupa denda maksimal.
  4. Pelanggar bisa langsung melakukan pembayaran melalui teller bank BRI, mesin ATM, atau mobile banking. Tenang, walau nominalnya besar, pelanggar akan mendapatkan sisa pembayaran atau “kembalian” setelah prosedur sidang dilakukan.
  5. Setelah melakukan pembayaran denda tilang, pelanggar dapat mengambil dokumen yang disita polisi yang bertugas dengan menunjukan bukti pembayaran.
  6. Jadwal sidang bisa dilihat di website pengadilan negeri wilayah pelanggaran. Misalnya, untuk wilayah Jakarta Barat bisa dicek di sini. Pelanggar boleh tidak hadir dalam persidangan dan diwakilkan petugas terkait.
  7. Dalam persidangan, hakim akan memutuskan besaran denda yang perlu dibayar pelanggar.
  8. Pelanggar akan kembali menerima notifikasi SMS berupa keputusan pengadilan mengenai tilang dan sisa denda yang bisa diterima oleh pelanggar. Sisa dana bisa diambil langsung saat sidang atau melalui layanan transfer bank.

Prosedur e-tilang ini kurang lebih memakan waktu satu hingga dua minggu.

Jika saat terkena e-tilang kamu gak punya cukup uang untuk membayar denda sehingga melewati jadwal sidang, kamu bisa mengajukan persidangan sendiri setelah melewati tanggal sidang yang sebelumnya ditetapkan. Dengan cara ini, kamu hanya membayar sejumlah denda yang telah ditetapkan persidangan (bukan denda maksimal).

Untuk mendaftar persidangan sendiri, kamu bisa melakukannya secara online di situs resmi Kejaksaan Negeri (Kejari) wilayah setempat. Tanggal kehadiran sidang minimal dua hari setelah pendaftaran dilakukan.

Pelayanan sidang melalui pendaftaran sendiri berjalan pada hari Senin-Kamis pukul 08.00-15.30 WIB.

Jangan malas urus e-tilang karena data tilang kini terintegrasi dengan database registrasi dan identifikasi kendaraan. Petugas bisa memblokir identifikasi kendaraanmu jika perkara tilang tidak segera diurus. Alhasil kamu jadi gak bisa mengurus pajak kendaraan.

Kelebihan e-tilang

prosedur e-tilang
(Image: infopku)

Prosedur ini memungkinkan penyelesaian perkara tilang tanpa adanya transaksi tunai antara petugas polisi dan pelanggar. Selain itu, e-tilang juga memiliki berbagai manfaat, baik bagi pengendara maupun polisi. Berikut di antaranya.

  1. Memudahkan pelanggar menyelesaikan proses tilang. Pelanggar gak perlu hadir dalam persidangan dan menerima informasi secara praktis melalui SMS atau cek langsung di situs terkait.
  2. Transparasi uang dari pihak kepolisian. Jumlah denda yang dibayarkan juga sudah ditentukan melalui aplikasi sehingga tak perlu lagi adu argumen antara petugas dan pelanggar.
  3. Pelanggar bisa mengatur waktu penyelesaian perkara sehingga bisa disesuaikan dengan kesibukan hariannya.
  4. Semua data pelanggaran tercatat pada sistem sehingga mudah dipantau kepatuhan mengikuti ketentuan dan peraturan yang berlaku baik dari pihak pelanggar maupun kepolisian.

Yakin masih mau “damai”?

Suka tergoda sama oknum yang menawarkan jalan “damai” alias suap? Atau justru kamu sendiri yang pernah menawarkan cara “damai” dengan memberikan sejumlah uang pada petugas?

Waduh, sebaiknya pikir seribu kali jika ingin menggunakan cara ini. Biasanya nominal denda hasil sidang berkisar antara Rp 50-100 ribu tergantung tingkat pelanggaran yang dilakukan. Nominal “damai” gak jauh berbeda atau bisa lebih mahal dari ini kan?

Pelanggar yang menyuap atau petugas yang menerima dana suap selama prosedur tilang, bisa ditindak pidana hingga kurungan penjara, lho. Lagipula, daripada denda tilang masuk kantong  petugas ‘nakal’, mending masuk kas negara kan.

Prosedur e-tilang memang sudah bagus sih, tapi lebih bagus lagi kalau kamu gak melanggar peraturan lalu lintas. Lumayan kan uang dendanya bisa dialokasikan buat yang lain. Hati-hati berkendara yah!