Kecemasan Keuangan Pengaruhi Produktivitas Kerja Karyawan, Gak Percaya?

Artikel Ini dipersembahkan oleh Mitra Perencana Keuangan

Kami Finansialku.com

logo finansialku

Ada yang bilang uang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang. Apa maksudnya? Sejatinya manusia memang harus bekerja agar menghasilkan uang untuk kehidupannya.

So, sudah gak bisa disangkal lagi kalau keuangan keluarga merupakan kebutuhan dan wajib dikelola dengan sebaik-baiknya. Sering kali gara-gara masalah keuangan keluarga, konsentrasi karyawan di tempat kerja jadi terganggu. Akhirnya gak dapat bekerja secara profesional dan produktivitas menurun.

Saat keuangan keluarga sedang gak stabil bahkan mengkhawatirkan, pasti kita akan merasa tertekan dan cemas. Kecemasan tersebut berujung pada pikiran bertambah, hilang fokus  terhadap pekerjaan, stres, ujung-ujungnya sakit dan gak produktif.

Biar kita gak mengalami kecemasan keuangan yang pada akhirnya akan berdamppak pada karir, ada baiknya simak ulasan berikut deh.

Definisi Kecemasan

Kecemasan punya definisi tersendiri baik dalam Kamus Bahasa Indonesia atau secara sosial. Menurut Savitri Ramaiah, seorang Psikolog dan penulis buku, kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hampir setiap orang pada waktu tertentu dalam kehidupannya.

produktivitas kerja karyawan
Duh mbaksis jangan kelewat cemas gitu dong, nanti pusing kepala Barbie loh hehehe (Karyawati / Blogspot)

Seseorang yang merasa cemas saat situasi sedang menekannya itu normal kok. Kecemasan bisa muncul sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi.

Sedangkan keuangan merupakan kondisi uang atau pemasukan dan pengeluaran seseorang dalam jangka waktu tertentu.

Sangat wajar terjadi kecemasan keuangan pada manusia, khususnya yang sudah memiliki gaji seperti karyawan. Namun, munculnya kecemasan ini ternyata bisa mengganggu performa dan kinerja dari karyawan. Salah satunya yakni mengganggu konsentrasi karyawan baik dalam bekerja maupun aktivitas di kantor.

Hubungan Antara Kecemasan Keuangan dan Konsentrasi Karyawan

Sebagian orang merasa dapat memisahkan antara urusan pribadi dan profesionalitas kerja. Sayangnya, fakta menunjukkan permasalahan pribadi (termasuk masalah keuangan keluarga) menambah beban pikiran dan mengganggu konsentrasi karyawan.

Sangat wajar jika karyawan mengalami kecemasan keuangan dan mengganggu konsentrasi bekerja. Oleh karena kecemasan termasuk ke dalam golongan stres atau tekanan, tinggal dikembalikan ke pribadi masing-masing. Akan menghadapinya dengan negatif atau positif.

Jika menanggapi dengan positif, maka tekanan akan dimanfaatkan sebagai bahan introspeksi atau hal yang membuat seseorang menjadi lebih kuat.

produktivitas kerja karyawan
Nah kalau senyum dan berpikir positif semua masalah pasti ada solusinya (Perempuan Tersenyum / Tstatic)

Semisal, kecemasan keuangan karena terjadi pemecatan karyawan dalam perusahaan kita. Sementara mungkin kita sedang butuh banyak uang untuk biaya sekolah anak dan cicilan rumah.

SIkap positif akan membuat kita tetap berpikir positif dan semangat bekerja agar tidak terkena pemecatan. Sedangkan sikap negatif pasti akan membuat kita resah, gelisah dan bingung. Dampaknya akan membuat kita gak mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Cara Mengatasi Kecemasan Keuangan

Tips mengatasi kecemasan keuangan yang mempengaruhi konsentrasi karyawan yang dapat dipraktekkan adalah:

1. Berikan waktu untuk rileks

Bagi kamu yang kebetulan seorang HRD dan pemilik bisnis, wajib memberikan kesempatan bagi karyawan dan pekerja untuk rileks dan jangan terlalu stres. Kecemasan keuangan memang gak akan hilang begitu saja, namun gak ada untungnya jika hanya dikhawatirkan dan dipikirkan.

Biarkan tubuh dan pikiran rileks sejenak saja dan bekerja dengan santai dan tetap tenang. Setelah pikiran lebih baik maka akan lebih mudah mencari solusi dari permasalahan keuangan.

2. Fokus dan tenang

Fokus dan tetap tenang akan membantu agar bekerja semakin maksimal dan cepat selesai. Tetap tenang akan membantu untuk melihat apa saja solusi yang bisa didapatkan dan bagaimana efek atau keuntungannya.

produktivitas kerja karyawan
Tenang dan jangan panik, bar bisa berpikir dengan jernih (Laki-laki Duduk / Hipnoterapi)

3. Cari jalan keluar yang tepat

Kecemasan keuangan mungkin disebabkan karena alasan yang berbeda-beda, maka solusinya-pun akan berbeda-beda. Jika konsentrasi gak ingin terganggu carilah alternatif dan jalan keluar secepatnya untuk masalah keuangan.

Semakin cepat permasalahan keuangan diselesaikan, maka akan semakin baik, karena gak akan membebani lagi. Solusi yang tepat bisa didapatkan jika bisa mengendalikan diri tanpa terpengaruh emosi atau cemas akibat keuangan.

Solusi dan jalan keluar yang tepat untuk menyelesaikan kecemasan keuangan adalah: segera merencanakan keuangan dan segera memegang kendali atas keuangan.

Bagi para pemilik perusahaan dan HRD mungkin dapat mengadakan seminar dan sosialisasi mengenai perencanaan keuangan kepada para karyawan. Setidaknya mereka bisa mengelola arus kas (cash flow), pemasukan, pengeluaran dengan benar. Kemudian ajarkan karyawan untuk memegang kendali atas kondisi keuangan mereka.

Masalah seharusnya cepat diselesaikan, terlebih lagi masalah keuangan keluarga. Kecemasan keuangan bisa terjadi karena adanya kejadian yang belum terjadi. Misal cemas menyiapkan dana pernikahan, membeli rumah, dana pensiun maupun pengeluaran yang sudah terjadi.

produktivitas kerja karyawan
Beda pendapat boleh kok, asal redm emosi ya, apalagi soal keuangan (Pasangan / Futuready)

Kecemasan Keuangan Bisa Dihindari

Kecemasan keuangan sebenarnya dapat dihindari, dengan berbagai cara. Intinya setiap karyawan harus memiliki rencana keuangan dan kendali atas kondisi keuangan.

Perencanaan keuangan itu seharusnya tgak mahal dan terjangkau untuk karyawan. Dengan perencanaan dan kendali keuangan, maka kecemasan keuangan dapat dihindari dengan mudah.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: 6 Hal Dilakukan Kala Badai Keuangan Menerpa Rumah Tanggamu]

[Baca: Kalau Dipecat Perusahaan Jangan Pasrah Saja Kenali Hak-hak Karyawan Dong]

[Baca: Gak Usah Maksain Bisnis Kalau Emang Masih Jadi Karyawan]