Kaleidoskop Ekonomi 2018: Perusahaan Go Public Cetak Rekor hingga Investor Milenial Melonjak

Sepanjang tahun 2018, terdapat beberapa prestasi yang menggembirakan dari sektor ekonomi khususnya pasar modal di Indonesia. Pasar modal Indonesia atau dikenal dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan rekor baru meski tengah menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Perusahaan Go Public Catat Rekor Tertinggi

Margin perusahaan (Ilustrasi).

Pada acara CEO Networking 2018 Direktur Utama BEI Inarno Djayadi mengungkapkan, kepercayaan publik terhadap pasar modal semakin meningkat, dengan itu pertambahan perusahaan yang go public atau initial public offering (IPO) juga terus meningkat setiap tahun.

“Sepanjang 2018, 53 perusahaan go public. Ini pencapaian tertinggi sejak berdiri 1998 serta pasar modal tertinggi di Asia. BEI juga mengembangkan IDX incubator untuk mendukung startup-startup di indonesia. Semua sinergi ini telah mewujudkan peningkatan pasar ekonomi di Indonesia,” ungkapnya.

Sampai akhir Desember ini pun, perusahaan yang tercatat telah IPO menjadi 57 perusahaan dengan nilai IPO mencapai Rp 15,90 triliun, termasuk yang terakhir PT Phapros Tbk yang menjadi emiten terakhir pada tahun ini.

Dengan pencapaian tersebut melebihi jumlah IPO pada tahun 2017 sebanyak 37 emiten baru dengan nilai Rp 9,55 triliun. Dan melampaui target emiten IPO pada tahun 2019 sebanyak 45 emiten.

Tertinggi di Kawasan Asia

Pasar modal (Ilustrasi).

Sementara itu, Inarno mengatakan, dengan pencapaian tersebut, pasar modal dalam negeri memiliki jumlah perusahaan go public tertinggi di Asia. Bahkan melampaui IPO di Singapura pada tahun 2018 ini yang hanya 15 emiten baru dengan total nilai emisi 523 juta dollar AS.

Investor Domestik Meningkat

ekonomi turki
Investor

Selain jumlah emiten yang meningkat, dari sisi jumlah investor pun terus bertambah seiring dengan keyakinan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Saat ini jumlah investor pasar modal tercatat sebanyak 1,6 juta investor.

“Angka ini didominasi oleh tingginya angka investor milenial,” ujarnya.

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor di pasar modal hingga 17 Desember 2018 mencapai 1.606.481 atau meningkat 43 persen sejak akhir tahun 2017.

Dari sekarang investor domestik, sebanyak 73,57 persen invetor asal Pulau Jawa masih mendominasi dengan total nilai aset mencapai 96 persen, kemudian disusul Pulai Sumatera sebanyak 14 persen.

Percepatan Proses Transaksi

Pasar modal (Ilustrasi)

Tak hanya itu, BEI juga berhasil melakukan implementasi percepatan siklus penyelesaian transaksi bursa (settlement) dari T+3 ke T+2 pada 26 November 26 November 2018.

Perubahan ini diprediksi akan memberikan dampak positif bagi perkembangan pasar modal di Indonesia sehingga perputaran dana di pasar modal Indonesia juga akan menjadi lebih cepat.

Januari 2018 IHSG Cetak Rekor

IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada pembukaan perdagangan saham di awal 2018 lalu. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) membuka perdagangan perdana di 2018 lalu.

Pada awal tahun lalu IHSG naik 8,15 poin atau 0,12 persen ke posisi 6.363,29. Indeks saham LQ45 juga naik 0,02 persen ke posisi 1.079,45.

Total frekuensi perdagangan saham 6.033 kali dengan volume perdagangan 94,8 miliar saham dengan nilai transaksi harian saham Rp 76,4 triliun. Investor asing melakukan aksi beli Rp 10 miliar di seluruh pasar. Dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 13.532.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai, Indonesia cukup baik dalam merespon ketidakpastian global yang terjadi.

“Di tengah gejolak dan tekanan ekonomi dunia, Indonesia terlihat dan bisa ditandai dengan jelas bahwa ekonomi kita mampu bertahan dengan baik. Pertumbuhan ekonomi secara year-to-date itu mencapai 5,17 persen atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya walaupun ada gejolak dan tekanan,” jelasnya. (Editor: Winda Destiana Putri).