Kalau Harga Rokok Jadi Naik, Apa Mau Maksain Beli?

“Harga rokok jadi Rp 50 ribu coy! Bakal susah nih mau ngerokok,” keluhan itu terlontar dari mulur Diko. Wacana kenaikan harga rokok memang merisaukan kalangan pencinta rokok.

Maklum, Diko dan rekan seperjuangannya seperti mau mati ketika gak merokok sehari. Kalau harga rokok sebungkus Rp 50 ribu, jelas terpengaruh kehidupan mereka ini.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik, rokok adalah penyumbang kemiskinan terbesar kedua. Kasarannya, makin sering orang merokok, makin besar risikonya jatuh miskin.

Data ini gak memerlukan perhitungan rumit untuk sampai pada kesimpulan rokok membuat orang miskin. Hitung saja, bila sehari habis rokok sebungkus Rp 12 ribu, pengeluaran sebulan adalah Rp 12 ribu x 30 = Rp 360 ribu.

Duit sebesar itu bisa buat bayar listrik atau beli beras dua bulan, lho. Apalagi kalau betul harganya naik rokok jadi naik Rp 50 ribu.

Kabar ini memang masih menjadi rumor. Namun bukan mustahil pemerintah menerapkan kebijakan tersebut demi memberantas kemiskinan.

Toh, pemerintah juga sudah menerbitkan sejumlah kebijakan buat membatasi aktivitas merokok. Misalnya mewajibkan produsen memasang peringatan merokok dengan gambar menyeramkan.

Harga Rokok Jadi Naik 1
Walaupun baru rencana, gak ada salahnya mulai berpikir ulang untuk merokok. (rokok/sindonews)

Kemudian membatasi jam tayang iklan rokok pada malam hari dan tak boleh menampilkan adegan merokok. Sejumlah pemerintah daerah bahkan membuat larangan merokok di gedung, kecuali di ruangan khusus merokok.

Sederet larangan itu bisa berujung pada aturan yang lebih ekstrem: harga rokok dinaikkan berkali-kali lipat. Namun tentu kebijakan ini membutuhkan kajian yang matang.

Sebab, akan banyak pihak yang terpengaruh. Dari petani tembakau, produsen rokok, sampai konsumen. Rokok pun menjadi penyumbang cukai terbesar di Indonesia.

Kalau gak hati-hati, pemerintah malah bisa membuat blunder. Mungkin saja kelak marak terjadi penyelundupan rokok akibat mahalnya harga di pasaran.

Selagi aturan ini masih digodok, Diko mesti bersiap menerima skenario terburuk bahwa harga rokok jadi naik Rp 50 ribu. Kalau memang naik, mesti diputuskan apakah masih maksain beli?

Sudah dijelaskan di atas, pengeluaran buat rokok selama sebulan setara dengan biaya listrik serta beras dua bulan. Selain itu, rokok hanya dinikmati individu. Sedangkan listrik dan beras bisa buat banyak kepala dalam keluarga.

Tentunya lebih bijak mengeluarkan duit itu buat kebutuhan banyak orang ketimbang individu. Apalagi buat yang sudah punya anak. Biaya pendidikan makin mahal ,lho.

Namun merokok bisa dibilang sebagai hak setiap orang. Orang-orang bebas merokok, asal taat pada aturan yang berlaku. Juga norma di masyarakat.

Misalnya gak ada larangan merokok di dekat bayi. Namun secara norma ini gak masuk. Kesehatan bayi lebih rentan ketimbang orang dewasa. Mereka lebih gampang terkena dampak rokok.

Hubungan rokok dan kondisi finansial memang erat kaitannya. Karena itulah pemerintah masih berpikir untuk menaikkan harga rokok.

Kalau masyarakat ngeyel beli rokok mesti harganya naik, ini bahaya. Lha dengan harga belasan ribu saja sudah menjadi salah satu penyumbang kemiskinan terbesar. Gimana kalau harganya sampai Rp 50 ribu?

Harga Rokok Jadi Naik 2
Keputusan ada di tanganmu lagi. Mau terus merokok atau berhenti. (the end/duniamommy)

Persoalan rokok ini mesti dikembalikan ke tiap-tiap individu. Pemerintah pun perlu menggerakkan kampanye untuk menyadarkan masyarakat bahwa keputusan beli rokok itu membutuhkan kebijakan.

Gak lucu kalau anak susah sekolah akibat kurang biaya, sementara bapaknya tiap hari setidaknya habis rokok sebungkus. Dana rokok bisa dialihkan ke pos kebutuhan yang lebih mendesak, yang lebih bermanfaat buat keluarga ketimbang individu.

“Gue mau stop merokok kayaknya kalau harga rokok jadi naik Rp 50 ribu. Mending duitnya ditabung buat kawin,” kata Diko.

 

Yang terkait artikel ini:

Uang Rokok 10 Tahun Dibelikan Reksa Dana, Bisa Tumbuh Jadi Rp170,8 Juta

Siasat Bujuk Orang Tersayang Berhenti Merokok di Tahun Baru

Cara Menambah Duit dari Rokok. Iya, Serius, Rokok!