Jual Pakaian Dalam tapi Punya Ferrari, Ini 6 Cara Hanan Supangkat Besarkan Bisnis

Para crazy rich pemilik mobil sport mewah biasanya tergabung dalam suatu klub atau komunitas. Dalam klub tersebut tentu ada pemimpinnya yang dipilih untuk periode jabatan yang sudah ditentukan.

Adalah Hanan Supangkat, Ketua Ferrari Owners Club Indonesia (FOCI) yang saat ini dikabarkan memiliki Ferrari 458 Speciale dan Ferrari 360 Modena.

Pria kelahiran 1981 ini dulu sempat mengoleksi BMW. Namun, ketika mencoba Ferrari pada 2013, dia makin jatuh cinta pada mobil berlogo kuda jingkrak ini.

Hobi mengoleksi mobil mewah memang sengaja dipilihnya lantaran bisa meningkatkan semangat kerja. Ngomong-ngomong, Hanan Supangkat kerja di mana ya? Kok bisa beli Ferrari?

Beliau merupakan Chief Operating Officer (COO) sekaligus pemilik PT Mulia Knitting Factory, sebuah perusahaan induk yang menaungi sebuah pakaian dalam bermerek Rider!

Brand satu ini tentu udah gak asing di masyarakat. Dan, brand ini bisa dibilang menguasai market share 35 hingga 40 persen di Indonesia.

Bagaimana cara beliau sukses? Yuk simak ulasannya di sini:

1. Handle semua bidang

Hanan Supangkat (YouTube)
Hanan Supangkat (YouTube)

Hanan Supangkat ternyata merupakan generasi ke-4 dari pendiri bisnis ini. Dia diminta bergabung di perusahaan ini oleh sang kakek, H. Max Mulyadi Supangkat, dan ayahnya, Henry Supangkat setelah menyelesaikan kuliah di California, Amerika Serikat.

Dia pernah blak-blakan bilang ke media bahwa kalau ditanya apa jabatannya menjawab AO alias anak owners.

Tapi, karena jadi AO itulah Hanan benar-benar harus berjuang. Meski jabatannya saat ini Chief Operating Officer (COO), dia gak cuma aktif di kantor pusat, tapi juga di pabriknya.

Intinya, jangan dibilang mentang-mentang jadi anak owner lantas bisa santai menikmati kekayaan. Justru anak owner itulah yang tanggung jawabnya besar karena harus mengurus bisnis serta karyawan-karyawannya.

2. Distribusi produk gak cuma di ritel modern

Hanan Supangkat (YouTube)
Hanan Supangkat (YouTube)

Ketika Hanan Supangkat masuk ke perusahaan keluarganya, perusahaan ini kondisinya memang sangat sulit. Kabarnya, market share-nya gak sampai 10 persen, padahal kualitas Rider boleh diadu dengan produk impor.

Alhasil, Hanan langsung memperkuat jaringan distribusi ritelnya. Gak cuma di Jakarta, melainkan di kota-kota besar lain seperti Surabaya, Semarang, Bali, Makassar, Palembang, Bangka, Medan, dan Bandung.

Produk itu gak cuma dijual di Hypermart yang termasuk ritel modern, tapi juga di toko-toko kelontong. Bahkan, PT MKF mendirikan outlet House of Rider.

3. Buat produk dengan target market yang luas

Hanan Supangkat (Rider.co.id)
Hanan Supangkat (Rider.co.id)

Saat Hanan bergabung di perusahaan ini, Rider hanya merek pakaian dalam yang gak up to date dari segi desain. Memang sih bahannya bagus, tapi percuma kalau ditujukan untuk pasar orangtua saja.

Hanan pun langsung membuat terobosan baru dengan menciptakan produk untuk kalangan anak muda, sebut saja seperti varian sport, active, hingga kids. Lengkap banget ya! Tapi inilah yang akhirnya rahasia kesuksesan Rider.

Menciptakan produk baru memang merupakan investasi. Karena itu, harus dipikirkan matang-matang. Kalau sampai asal-asalan, produk itu bisa jadi gak laris sementara biaya riset dan produksi cukup besar.

4. Merilis promo berbeda dengan kompetitor

Sebagai salah satu merek pionir pakaian dalam di Tanah Air, Rider memang terkenal dengan promo gila-gilaan. Tapi, itu semua bukan asal promo ya! Semuanya ada pertimbangannya.

Hanan Supangkat pernah mengungkapkan, promo yang dilancarkankan bersifat store promo terlebih dulu. Baru setelah itu di tahun 2008 mereka aktif melakukan promo ATL, alias above the line yang tujuannya untuk meningkatkan brand image.

Di media sosial, mereka juga aktif karena medsos merupakan sarana promosi yang cukup efektif dan murah.

Beberapa event yang digelar Rider antara lain adalah Tukar Kolor, di mana para pelanggan bisa menukar pakaian dalam bekasnya dan menerima yang baru. Selain itu, Rider juga jadi salah brand pakaian dalam pertama yang memberikan hadiah mobil ke pelanggan. Canggih juga ya!

5. Jangan terburu-buru ekspansi

Hanan Supangkat bersama tim (Instagram)
Hanan Supangkat bersama tim (Instagram)

Ini merupakan wejangan yang diberikan sang ayah pada Hanan Supangkat. Kalau di era digital ini, ekspansi merupakan hal yang bisa dilakukan dengan cepat namun di dunia ritel justru sebaliknya.

Semua harus dilakukan secara bertahap, intinya jangan langsung melompat. Ibarat jalan di tangga saja, kalau melompat tentu bisa kesandung dan berakibat fatal.

Hanan mengikuti wejangan sang ayah demi kesuksesan brand-nya.

6. Tim harus di-training

Hanan Supangkat bersama tim (Instagram)
Hanan Supangkat bersama tim (Instagram)

Sebelum bergabung dalam perusahaan ini, Hanan mengungkapkan gak pernah ada training yang ditujukan untuk memperkuat kinerja tim. Outing pun gak ada. Jadi, kebayang aja kayak apa betenya karyawan kantor disuruh kerja terus.

Hanan pun mencoba mengubah kebiasaan itu dengan mengaktifkan beberapa program kepegawaian di sana. Setidaknya itu sangat berguna untuk membentuk tim yang solid, karena cuma tim yang solid yang bisa diajak kerja keras.

Begitulah strategi Hanan Supangkat dalam membesarkan perusahaan keluarganya hingga menjadi seperti saat ini.

Pada intinya, tanggung jawab seorang anak pemilik perusahaan justru sangatlah berat karena masa depan perusahaan ada di tangannya. Ketika perusahaan itu bangkrut, maka gak menutup kemungkinan pemilik usaha bisa mendadak miskin karena harus menanggung pesangon para karyawan. (Editor: Chaerunnisa)