Jokowi Minta Pasar Modal Indonesia Optimis, Optimis dan Optimis

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengaku optimis dengan kinerja pasar modal Indonesia kedepan. Menurutnya, itu tercermin dari penutupan perdagangan tahun ini yang gemilang, meski ditengah ketidakpastian ekonomi global.

Seperti diketahui, pada akhir sesi perdagangan tahun ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.194 poin. Capaian tersebut di bawah pencapaian penutupan saham di 2017, yang mencapai level 6.355 poin.

Meski mengalami penurunan 2,54 persen dibandingkan tahun lalu, Jokowi tetap mengapresiasi kinerja pasar modal Indonesia pada tahun ini. Sebab dengan perkembangan ekonomi global yang tidak pasti, kinerja pasar modal Indonesia tetap berjalan dengan baik.

“Saya ingin sampaikan optimisme, optimisme dan optimis terhadap perkembangan pasar modal yang kita miliki,” tutur Jokowi.

Menurutnya, capaian kinerja bursa pada tahun ini telah sesuai target yang ditetapkan, yakni perolehan IHSG diatas level 6.000.

“Karena kita melihat capaian Bursa Efek Indonesia tahun ini sesuai dengan target IHSG-nya di atas 6.000,” ujarnya.

Selain itu, Presiden juga mensyukuri kinerja pasar modal dari sisi nilai pencapaian emiten baru sebanyak 57 pada tahun 2018 yang memecahkan rekor sejak tahun 1992.

“Berkaitan dengan jumlah perusahaan baru yang menjual efeknya di bursa efek kita ini juga terbanyak sejak 1992, ini juga patut kita syukuri,” kata Presiden.

Pasar Modal Indonesia Banyak Peristiwa Menarik

Siklus T+2 diharapkan dongkrak kinerja pasar modal. (Instagram/@idx_channel)
Siklus T+2 diharapkan dongkrak kinerja pasar modal. (Instagram/@idx_channel)

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengungkapkan, perjalanan pasar modal tahun ini diwarnai dengan berbagai peristiwa menarik, mulai dari perkembangan ekonomi global dan domestik, hingga hadirnya tahun politik.

“Satu hal yang patut kita syukuri, respon cepat dan antisipatif dari para pelaku usaha bersama pemerintah. Itu telah membuktikan komitmen yang tinggi dari pemerintah dalam memperkuat fundamental ekonomi nasional. Juga menjaga confident pelaku pasar dan investor,” ujar Wimboh.

Dalam mendukung kinerja pasar modal, berbagai kebijakan dan regulasi juga telah dikeluarkan guna meningkatkan pembiayaan melalui pasar modal. Baik untuk korporasi besar maupun sekali kecil menengah.

“Kami mencatat pada tahun ini terdapat 24 emiten sektor infrastuktur yang melakukan fund raising melalui pasar modal dengan total nilai emisi Rp 28,05 triliun,” ungkap Wimboh.

Selain itu, kebijakan dalam peningkatan likuiditas pasar juga telah dilakukan dengan mempercepat penyelesaian transaksi di Bursa Efek, dari T+3 menjadi T+2.

Dampaknya, rata-rata volume transaksi harian meningkat 37,47 persen dari 9,2 miliar transaksi menjadi 12,8 miliar transaksi. Sementara rata-rata nilai transaksi naik 26,96 persen dari Rp 8,1 triliun menjadi Rp 10,2 triliun.

“Kami juga mempermudah startup company memperoleh pendanaan dari pasar modal melalui Equity Crowdfunding. Meneruskan kegiatan edukasi masyarakat serta meningkatkan integritas pasar melalui penegakan hukum yang konsisten. Berbagai upaya ini diharapkan akan menjadikan pasar modal Indonesia lebih kompetitif baik di pasar regional dan global,” papar Wimboh.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah