Jawab 5 Pertanyaan Ini Dulu Sebelum Berniat Punya Mobil Baru, Lagi…

Orang mapan diukur dari banyak mobilnya di garasi. Enggak bisa dipungkiri deh. Apalagi bagi si empunya, deretan mobil itu punya fungsi sendiri-sendiri. Ada yang untuk mobilitas harian, weekend bareng keluarga, dan satu lagi hobi. Mantap!

 

Tapi ada juga faktor lain punya mobil lebih dari satu, yakni macet. Dalam sejarahnya, Jakarta cuma bebas macet saat lebaran saja. Selebihnya, siap-siap saja habiskan umur di jalan. Apalagi kalau masing-masing penghuni rumah punya kepentingan sendiri-sendiri terkait mobil yang tak bisa disatukan.

 

Belum lagi selera yang berbeda. Misalnya si nyonya suka jenis MPV biar gampang bawa belanjaan banyak, sementara si mister senang sedan yang terlihat elegan dan menunjukkan simbol kesuksesan.

 

Memang tak salah memenuhi garasi dengan mobil lebih dari satu. Meski begitu tetap dipahami dulu konsekuensi punya mobil lebih dari satu. Jangan sampai malah menggerus keuangan lantaran habis untuk ‘membiayai’ si penghuni garasi ketimbang penghuni rumah.

 

Sebelum memutuskan punya mobil baru lagi, ada baiknya jawab dulu pertanyaan di bawah ini.

 

1. Apa alasan punya mobil lagi?

Pertanyaan ini sangat mendasar karena berkaitan dengan kondisi keuangan ke depannya. Tanyakan kepada diri sendiri fungsi mobil yang baru ketika yang lama masih ada. Apakah tujuannya untuk sekadar hobi ataukah memang untuk mobilitas.

 punya mobil baru 1Garasi ampe penuh gitu, gak sempit?

 

 

Misalnya sudah punya sedan tapi membutuhkan jenis MPV (multi purpose vehicle) dengan alasan muat lebih banyak. Tinggal perhitungkan dengan matang pengeluaran tambahan ketika ada mobil baru lagi. Bandingkan jika menggunakan taksi atau sewa, mana yang lebih murah.

 

Intinya, jika pengeluaran meningkat karena ada mobil baru, apakah kondisi keuangan sudah siap menghadapi? [Baca: Gaji Rp 3 Juta Emang Udah Bisa, Tapi Apa Yakin?]

 

2. Mobil jenis apa yang tepat?

Begitu banyak macam mobil yang menggoda di pasaran. Hampir tiap waktu selalu hadir tipe dan jenis baru. Dari semua itu, mana yang paling cocok untuk memenuhi gaya hidup?

 

Jika yang ditekankan adalah ‘gengsi’ maka jenis sedan premium mungkin terasa cocok. Maklumlah, jenis mobil ini identik dengan mereka yang berkelas dan mengedepankan status ketimbang fungsi utama mobil sebagai alat mobilitas.

 

Lain halnya jika peruntukkannya untuk mengantar anak sekolah atau istri belanja, mungkin lebih pas dengan jenis city car. Selain irit bahan bakar, mobil ini juga gesit di jalanan karena dimensinya yang mungil. City car juga cocok melintas di jalanan perkotaan yang macet.

 

punya mobil baru 2

Madam pengin apa? Mister pengin apa? Anak-anak pengin apa? Dipilih, dipilih…

 

 

Lain halnya jika suka melintas di jalanan rusak, pilihan bisa jatuh ke SUV. Mobil ini terkenal tangguh melibas kondisi jalanan yang tak mulus tapi tetap nyaman ditumpangi. Tapi perlu diingat, kendaraan jenis ini boros bahan bakar.

[Baca: Pakai Premium atau Pertamax Bukan Cuma Soal Gengsi atau Cari Yang Murah Loh]

 

3. Berapa banyak lagi yang bisa dibeli?

Jawaban ini tergantung dari isi kantong. Sebaiknya kendaraan dibeli dengan cara tunai mengingat nilainya yang terus tergerus seiring perjalanan waktu. Kalau pun memilih cara kredit, pastikan dulu total utang yang ditanggung tak lebih dari 30 persen. Lewat dari itu bisa bahayakan kondisi keuangan.

 

Bila melirik mobil bekas pun, perhatikan juga biaya rekondisinya. Bagaimana pun membeli mobil bekas berbeda dengan mobil baru. Pastinya mobil bekas ada cacat karena pemakaian. Kalkulasi dengan matang tiap opsi.

 

[Baca: Biar Mobil Bekas, Jangan Sampai Ketipu Sama Dokumen Palsu]

4. Berapa besar biaya yang tersedia untuk ‘merawat’ mobil?

Punya mobil sama artinya siap-siap mengeluarkan biaya untuk perawatan. Entah itu untuk servis, ganti spare part, ganti ban, biaya bahan bakar, biaya parkir, sampai asuransi. Belum lagi biaya pajak kendaraan tahunan.

 

punya mobil baru 3

Jangan mentang-mentang mampu beli mobil lagi, tapi lupa biaya rawat dan segala macamnya. Ampe kantong kosong…

 

 

Perlu diingat, punya mobil di Jakarta beban pajaknya makin tinggi karena menerapkan sistem pajak progresif. Pajak kendaraan kedua nilainya lebih besar dari pajak kendaraan pertama. Makin banyak kendaraan, maka pajaknya makin besar. Sebagai contoh, kendaraan keempat kena pajak 4% lebih mahal dari NJKB (Nilai Jual Kendaraan Bermotor).

 

[Baca: Ini Cara Hitung-Hitung Pajak Progresif Kendaraan Bermotor]

 

5. Sampai kapan mobil itu digunakan?

Harga mobil dari ke waktu makin menurun. Sebutannya ada depresiasi harga. Artinya, makin tua usia mobil maka harganya makin turun. Bahkan ada merek mobil tertentu yang harga jual kembali jatuh sampai 30%.

 

Di samping itu, makin usia kendaraan juga makin besar pengeluaran untuk pemeliharaan. Rata-rata ketika umur kendaraan sudah di atas 5 tahun menuntut penggantian komponen ‘slow moving’ yang relatif mahal.

 

[Baca: Cari Mobil Baru atau Bekas, Kenapa Gak Kredit?]

 

punya mobil baru 4

Mau dipakai sampai 10 tahun? 20 tahun? Ga masalah… Asal perawatannya dijaga baik-baik, jangan sampai keseringan mogok.

 

 

Minimal lima pertanyaan itu dijawab dulu dengan jujur sebelum berniat menambah koleksi mobil di garasi. Persoalan memilih mobil bukan semata-mata mengedepankan sisi gengsi atau pun fungsinya semata, tapi juga ‘tanggung jawab’ berikutnya yang menyangkut kondisi keuangan keluarga.


Pastikan keputusan membeli mobil sudah dipertimbangkan matang-matang sehingga tak menguras isi kantong.

 

 

 

Image credit:

  • http://gambar-rumah.com/attachments/jakarta-selatan/1001037d1392286838-rumah-hook-lokasi-strategis-di-kebayoran-baru-garasi-utara-2.jpg
  • http://www.infovisual.info/05/img_en/006%20Types%20of%20bodies.jpg
  • http://media.viva.co.id/thumbs2/2013/05/22/35998-0_663_382.jpg
  • http://4.bp.blogspot.com/-64BWU5tngZs/TwYrX_UkUQI/AAAAAAAAAc0/uD3CGXBilnA/s1600/IMG_1511.JPG