Jangan Sepelekan Denda Cicilan Motor di Akhir Tenor Kalau Gak Mau Rugi Besar

Grasa-grusu dalam melakukan sesuatu itu biasanya nggak membawa hasil maksimal. Semua butuh persiapan matang.

 

Nggak terkecuali saat memutuskan untuk mengambil kredit sepeda motor. Cuma modal DP rendah tanpa memperhitungkan cicilan per bulannya bisa jadi sebuah usaha menggali kubur sendiri.

 

Oke, saat ini masyarakat memang dimanjakan dengan rendahnya uang muka cicilan sepeda motor. Cukup bermodalkan ratusan ribu rupiah di kantong dan dokumen standar, sepeda motor baru sudah bisa diparkir di teras rumah.

 

Secara psikologis, uang muka yang rendah tentu menggiurkan dan menggoda iman. Tapi yang seringkali nggak diperhatikan adalah cicilan per bulan dan jangka waktu kredit yang biasanya mencapai 3 tahun.

 

“Nggak apa-apa lah jangka waktu 3 tahun. Yang penting cicilan per bulan ringan,” begitu kurang lebih pemikiran sebagian besar masyarakat.

 

[Baca: Dear Dealer Motor Nakal, Kenapa Sih Maksain Sistem Penjualan Kredit ke Konsumen, Meski Maunya Beli Lunas dengan Tunai?]

 

 

Jangan Sepelekan Besaran Cicilan

Pengalaman dari Pak Sigit ini bisa jadi contoh kalau cicilan per bulan itu nggak boleh disepelekan berapa pun besarnya. Pada 2012 Pak Sigit membeli motor Yamaha Vega ZR melalui skema kredit di sebuah leasing. Kalau beli secara cash, motor tersebut dibanderol Rp 13 jutaan.

 

Pak Sigit menyepakati DP sebesar Rp 4 juta dengan cicilan per bulan Rp 420 ribu selama 3 tahun. Dia nggak memikirkan bahwa makin lama tenor, makin mahal harga sepeda motor. Dalam pikirannya yang penting cicilan per bulan murah.

 

Pak Sigit juga nggak memerhatikan sistem denda cicilan motor. Dia malah nggak peduli apakah denda cicilan harus dibayar pada bulan berikutnya atau terakumulasi hingga akhir masa cicilan.

 

denda cicilan motor

Mengajukan kredit motor itu semakin mudah, yang susah itu melunasinya (kalau nggak disiplin)

 

 

Padahal ada beberapa leasing yang menerapkan sistem akumulasi denda. Ini yang bikin repot. Kalau kita nggak aware, nggak mustahil itu denda bakal menumpuk dan menambah masalah baru.

 

Itu yang terjadi dengan Pak Sigit. Memasuki tahun ketiga cicilan, dia mengalami kesulitan ekonomi. Dengan gajinya yang Rp 4 juta per bulan, dia harus menyekolahkan putranya yang berusia 7 tahun.

 

Cicilan motor mulai tersendat. Karena nggak memerhatikan bahwa keterlambatan bakal kena denda, Pak Sigit santai saja.

 

Pihak leasing pun hanya sesekali mengingatkan soal keterlambatan tersebut. Debt collector juga nggak menyambangi rumah Pak Sigit.

 

 

Beberapa leasing menetapkan denda cicilan sebesar 0,5% per hari dari nilai angsuranJadi bisa dibayangkan dong berapa besarnya denda.

 

[Baca: Kadang, Besaran Cicilan Kredit Motor Murah Bisa Bikin Kita Terkecoh]

 

 

Denda yang Terakumulasi di Akhir Tenor

Pak Sigit senang ketika mengetahui bahwa cicilan sepeda motornya bakal selesai pada September. Itu berarti bukti pemilikan kendaraan bermotor (BPKB) bisa segera diboyong.

 

Setelah membayar angsuran terakhir, Pak Sigit kaget ketika disodori rincian angsuran selama ini. Ternyata dia menunggak selama 5 bulan dan denda yang mesti dibayar Rp 3,5 juta.

 

denda cicilan motor

Jangan asal teken kontrak ya, perhatikan juga sistem pengenaan dendanya

 

 

“Saya kaget. Karena selama ini saya membayar nggak melalui transfer, tapi lewat petugas leasing. Saya berulangkali minta rincian angsuran tapi nggak pernah dikasih. Saya memang menunggak tapi sayangnya nggak ada peringatan dari pihak leasing makanya saya cuek,” tegas Pak Sigit.

 

Pak Sigit nggak sanggup membayar denda sebesar itu. Pihak leasing pun mempersilakan Pak Sigit untuk mengajukan surat keberatan.

 

Dia hanya sanggup membayar Rp 500 ribu buat denda cicilan. Pihak leasing menolak tanpa alasan jelas. Padahal dalam surat keberatan tersebut sudah dijelaskan kondisi keuangan keluarga Pak Sigit saat ini.

 

“Pihak leasing nggak memberi ruang negosiasi lebih. Nasabah hanya dapat mengajukan surat keberatan sekali saja,” sesal Pak Sigit. BPKB-pun ditahan oleh pihak leasing hingga Pak Sigit melunasi denda cicilan motor tersebut.

 

Itu berarti Pak Sigit Bakal menanggung rugi. Coba saja dihitung:

 

DP motor: Rp 4.000.000

Total angsuran: Rp 420 ribu x 36 bulan = Rp 15.120.000

Denda cicilan: Rp 3.500.000

Total: Rp 22.620.000

 

Pada 2016 harga pasaran Yamaha Vega ZR jatuh di angka Rp 7 juta. Itu berarti Pak Sigit bakal rugi Rp 15 juta lebih jika ingin menjual motor tersebut.

 

denda cicilan motor

Waduh, beli motor emang karena butuh atau cuma karena lapar mata nih?

 

 

Dari pengalaman tersebut sangat penting untuk disiplin dalam hal pembayaran angsuran. Dalam jangka waktu 3 tahun memang banyak hal yang bisa terjadi, makanya kita harus pintar mengatur dana darurat biar nggak kelimpungan ketika jatuh tempo cicilan.

 

[Baca: Nasabah Kredit Motor Meninggal Dunia, Bukan Berarti Utangnya Otomatis Lunas]

 

 

 

Image credit:

  • http://assets.kompas.com/data/photo/2012/06/14/1321298620X310.jpg
  • http://adiraclubmember.com/wp-content/uploads/2014/11/10-Tanda-Tangan-Paling-Mahal-Di-Dunia.jpg
  • https://agoey.files.wordpress.com/2014/10/suzuki-address-titan-black.jpg