Jangan Main-main Lagi Soal Waktu Kalau Emang Mau Hidup Lebih Cemerlang

Buat manusia, waktu adalah uang. Kita gak bisa mengulang waktu seperti di film-film Hollywood. Sekali terpeleset dalam suatu waktu, bisa celaka.

Karena itu, jangan main-main lagi soal waktu kalau emang mau hidup lebih cemerlang.

Waktu mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya jika kita memang peduli akan masa depan. Bukan hanya masa depan pribadi, tapi juga keluarga.

hidup lebih cemerlang
Waktu adalah uang, tapi jangan pakai jam dinding rumah buat beli sayur di pasar (Jam dinding/Dragon Financial)

 

Jika merasa belum sepenuhnya bisa menghargai waktu, inilah momen yang tepat untuk berubah. Simak cara memanfaatkan waktu sebaik-baiknya berikut ini agar penyesalan gak pernah datang.

1. Jadi sekretaris buat diri sendiri

Tahu dong, pekerjaan sekretaris. Bikin agenda, mencocokkan jadwal, mengatur segala kegiatan kerja atasan.

Demi waktu yang tak akan terulang kembali, jadilah sekretaris buat diri sendiri. Kita mesti bisa mengatur diri agar gak terjebak dalam aktivitas yang gak mendatangkan manfaat.

Misalnya kebanyakan begadang hanya untuk ngobrol atau main gaple. Mending waktunya dipakai buat tidur agar besok kerja bisa fresh.

Atau kalau mau melek, mending ngerjain pekerjaan sampingan. Bisa dapat tambahan buat modal kawin.

2. Tentukan prioritas

Setelah bisa mengatur kegiatan, kita pun kudu mampu menentukan prioritas dalam aktivitas tersebut. Begadang main gaple pun sebetulnya perlu, misalnya buat sosialisasi.

Tapi lihat dulu urutan prioritasnya. Jika besok libur atau memang lagi mendapat jatah ronda, gak ada salahnya meluangkan waktu buat hal seperti itu.

hidup lebih cemerlang
Catat prioritasmu, bukan hanya dihafal. (ilustrasi prioritas/BP)

Sebaliknya, ketika ada kegiatan yang lebih mendesak, tinggalkan aktivitas semacam itu. Prioritas tiap orang berbeda.

Ada yang gak mau menghabiskan waktu pilih kostum kerja, dipakailah kaus polos tiap hari, seperti Mark Zuckerberg. Tapi ada juga yang bisa menghabiskan berjam-jam untuk fitting baju buat kerja.

Hal yang sama berlaku untuk ke kondangan, hangout, bahkan hendak ke minimarket dekat rumah pun dandan. Mau masa depan cemerlang, mimpi saja terus jika prioritas utama masih main-main.

3. Manfaatkan teknologi

Hidup di era teknologi amatlah menguntungkan. Begitu banyak alat atau mesin yang bisa membantu menghargai waktu.

Salah satunya, aplikasi dalam smartphone. Punya handphone Android atau Apple kan? Atau paling gak BlackBerry.

Dalam hape canggih itu tersedia aplikasi pengingat agar waktu kita gak terbuang percuma. Misalnya mau nongkrong malam-malam, atur alarm 2 jam.

Setelah 2 jam hangout, alarm akan menyala. Itu saatnya kita pulang, seperti Cinderella yang harus pulang ketika tiba waktunya.

4. Belajar tanpa batas

Salah satu cara terbaik untuk menghargai waktu adalah belajar dari penyesalan orang lain. Kita bisa mengamati orang-orang di sekitar kita.

Lihat apakah ada yang pernah main-main soal waktu lalu menyesal. Lalu, pelajari apa respons orang itu. Jika bisa bangkit, teladanilah. Tapi kalau mengulang-ulang kesalahan, kalian sudah tahu jawabannya.

5.Woles aja

Saking pengin suksesnya, lantas kerja tanpa kenal waktu. Walhasil, kehidupan sosial terganggu. Yang lebih parah, kondisi fisik dan mental ikut kena.

hidup lebih cemerlang
Ngoyo dalam kerja gak baik, malas-malasan juga begitu. Yang sedang-sedang saja (kerja terus/The Self Employed)

Alih-alih masa depan cemerlang, malah banyak waktu terbuang buat pengobatan dan perawatan. Uang hasil kerja keras pun tersedot untuk hal yang sebenarnya bisa dihindari itu.

Makanya, woles saja dalam menjalankan karier atau usaha. Seperti nama program lawak jadul, Sersan: Serius tapi Santai.

Waktu sudah semestinya dihargai biar gak menyesal di kemudian hari. Penyesalan selalu datang terlambat, kayak kereta jarak jauh di Jawa. Keterlambatan kereta tentunya diikuti dengan gerundelan penumpang.

Tapi, di sisi lain, pihak pengelola kereta seperti sudah merasa kebal dengan gerundelan itu karena sudah jadi kebiasaan. Menyesal, minta maaf, tapi begitu lagi.

Gak ada yang diubah. Keterlambatan itu pun diulang, sampai akhirnya pemimpin yang tegas datang.

Sistem kereta dirombak, pegawai yang lelet ditalak. Gak ada lagi keterlambatan.

Sebenarnya itulah yang seharusnya dilakukan ketika pertama kali merasa menyesal. Jangan mengulangi perbuatan yang sama, bila gak mau terus-terusan menyesal, hingga akhirnya konsekuensi yang lebih besar datang.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Benarkah Bekerja Mengikuti Passion Hanya Omong Kosong Belaka?]

[Baca: Waktu Gak Bisa Diulang, Kejar Karir Baru Cinta Sah-sah Aja Kok]

[Baca: Kerja Freelance Bukan Halangan Buat Cermat Mengelola Keuangan Kamu Loh]