Jangan Jadi Suami Takut Istri Apalagi Kalau Soal Keuangan

“Jatuh cinta pakai perasaan, meliharanya pakai penghasilan.”

Pasti ketebak dong guyonan ini arahnya ke mana? Seringnya dilontarkan pas lagi gosipin seseorang yang lagi kena masalah jadi korban ‘semprot’ istri gara-gara duit. Jangan diambil hati dulu, kan guyonan.

Awalnya sih guyonan tapi kalau menyerempet soal ISTI alias Ikatan Suami Takut Istri bisa bikin emosi. Siapa sih yang mau dilabeli itu. Jatuhin reputasi banget. Muncul kesan lelaki cemen, enggak jantan, penakut, dan lain sebagainya.

Ya harus diakui sih, power lelaki itu baru terlihat setelah menikah. Begitu ijab kabul diucapkan, seketika itu pula lelaki sudah didaulat menjadi kepala keluarga. Otomatis pula muncul deretan tanggung jawab menyangkut masa depan anak orang, eh istri maksudnya.

Ketika muncul konflik, ah itu biasa. Kebanyakan konflik timbul karena adanya ketidakseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan. Apalagi yang sifatnya penting. Ketika itu terjadi, tak jarang disikapi secara negatif dari pasangan.

Dan, seringkali pemicunya seputar masalah keuangan. Jangan cuma anggap pertikaian itu melulu dipicu perselingkuhan. Parahnya lagi, konflik gegara duit ini berujung pada perceraian.

suami takut istri
Jangan berantem terus ya, baikan yuk! (Suami Istri / Liputan6)

Ini bukan isapan jempol. Sudah banyak riset yang bahas beginian. Misalnya riset bertajuk ‘Examining the Relationship Between Financial Issues and Divorce.’ Kesimpulan dari pengamatan terhadap 4.500 pasangan, yang sering bertengkar gegara masalah keuangan rentan bercerai.

Serem kan? Masak gara-gara masalah duit mesti diikuti kegiatan bolak-balik ke kantor pengadilan agama buat ngurus perceraian.

Padahal semua masalah ada jalan keluarnya kok. Enggak usah bawa-bawa hakim pengadilan agama segala. Berikut ini beberapa poin agar masalah keuangan tak membuat runyam bahtera rumah tangga.

1. Mantapkan dulu kondisi finansial bukan mapan

Mantap kondisi keuangan sama mapan beda ya. Mantap itu maksudnya bukan berarti sudah punya segalanya seperti rumah, mobil, deposito, aset, dan lain-lain sebelum masuk jenjang pernikahan.

Konteks mantap di sini lebih pada kesiapan kondisi keuangan ketika berumah tangga. Jadi semua kebutuhan rumah tangga yang menuntut pengeluaran uang terpenuhi.

2.Minimal punya penghasilan

Lelaki yang punya penghasilan pasti lebih keren. Terlepas berapapun besarannya, tetap itu hasil keringat sendiri. Terserah mau gimana caranya cari duit, asalkan halal.

suami takut istri
Semangat ya masbro kerja demi anak istri hehehe (Karyawan / Ummi-online)

Reputasi yang sudah berpenghasilan pasti lebih tinggi dari yang menganggur. Kadang kala ini pula yang bikin mertua tenang dan rela menyerahkan anak gadisnya. Terlebih lagi kalau cari duitnya dari bisnis yang dirintis sendiri. Wah, ini jadi nilai plus.

3. Kenali kepribadian keuangan si doi

Enggak perlu lebay pakai sewa detektif buat tahu hal ini. Cukup dilihat dari kebiasaannya dalam menggunakan uang. Cuma jangan buru-buru vonis dia boros ketika suka belanja. Itu memang dunianya cewek.

Tinggal lihat apakah cukup memberikan dia amanah menjalankan misi mulia mengatur keuangan keluarga. Indikasinya, doi mampu nahan godaan sale di mal dan mengalihkan perhatiannya ke gerobak sayur!

Atau bisa saja doi ‘cerewet’ soal keuangan. Layaknya auditor, dia begitu rinci sekali sama urusan duit.

4. Penghasilan istri adalah miliknya

Kalau istri punya penghasilan sendiri? Harus bersyukur dong. Cuma perlu diingat, tanggung jawab cari nafkah ada di pundak kita. Sebaiknya jangan utak-atik penghasilan istri.

Usahakan semua kebutuhan rumah tangga bisa dipenuhi dari penghasilan suami. Ketika ada penghasilan dari istri, anggap itu bonus.

suami takut istri
Suami sayang atau takut istri hehehe (Wanita Karir / Blogspot)

Itu dulu deh jurus agar konflik soal keuangan tak berlarut-larut. Intinya sih soal komunikasi saja. Ketika sudah jadi pasangan suami istri, tujuan ke depannya sudah milik berdua.

Ajak diskusi bareng-bareng seputar prioritas keuangan terkini dan yang akan datang. Perlu diingat, diskusi keuangan dengan pasangan setelah menikah itu penting banget.

Inisiatif bisa datang dari suami atau istri. Tinggal lihat sikon yang tepat. Ketika waktunya pas, pikiran pun bakal terbuka. Pernikahan itu menyangkut masa depan dua orang, bukan sendiri lagi. Ketika hal ini dikomunikasikan, kemungkinan akan mudah menetapkan prioritas yang terbaik buat berdua.

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Kiat Atur Gaji Kecil Biar Berasa Gede]

[Baca: 10 Hal Positif dari Ibu yang Bekerja]

[Baca: Menikah Bisa Bikin Makmur Asalkan Terapkan Aturan Main Ini]