Jalankan 4 Poin Ini Biar Enggak Perlu Lagi Tunda Punya Momongan

“Cepet-cepet dikaruniai momongan ya.”

“Jangan kelamaan bulan madunya, ibu mau punya cucu.”

“Semoga perut cepetan ada isinya.”

Enggak asing kan sama celotehan itu. Yang baru nikah pasti akrab sama ucapan bas-basi seperti di atas. Wajar sih, tapi apa iya ngebet kepengen punya anak gara-gara pressure dari orang lain?

Ya jangan dong. Keputusan punya anak itu menuntut banyak pertimbangan. Bukan perkara kesiapan mental dan fisik aja, tapi juga mikir kesiapan keuangannya segala.

Namanya hidup udah berumah tangga, praktis isi kepala mesti visioner. Pandangan jauh ke depan. Keputusan yang diambil hari ini berpengaruh sama hari nanti.

Lebih-lebih berurusan sama anak. Semua orangtua kepengennya yang terbaik buat buah hatinya. Di saat yang sama, punya anak selalu menuntut komitmen dan kesiapan, utamanya dari sisi finansial.

Udah bisa dibayangkan pengeluaran bakal membengkak saat kedatangan anggota keluarga baru. Bukan perkara mampu penuhi kebutuhan dasar aja tapi juga masa depan buah hati hingga dewasa nanti.

Biar enggak kerepotan, alangkah baiknya jauh-jauh hari udah punya strategi perencanan keuangan. Nah, biar gampang pahamnya, strategi itu dijembrengin berikut ini.

1. Financial check up

Financial check up tuh mirip-mirip medical check up. Bedanya cuma di objek yang diperiksa. Kalau medical yang diperiksa adalah kesehatan tubuh, nah kalau financial check up sasarannya kondisi keuangan.

tunda punya momongan
Keuangan juga harus dicek ya, ya jangan cuma kesehatan (Celengan dan Stetoskop / Jayperoni)

Tujuan pemeriksaan kondisi keuangan ini agar bisa dideteksi sejak dini apakah sehat atau sebaliknya. Syukur kalau sehat, lha kalau sakit? Ya buru-buru diobati agar mengarah ke perbaikan sehingga kondisi keuangan menjadi sehat.

Sebelum putuskan punya anak, financial check up ini bisa menjadi pertimbangan. Bagaimana kondisi keuangan dengan dilihat pemasukan dan pengeluaran. Apakah lebih besar dari pasak dari tiang?

Mulailah dari sekarang mengevaluasi arus kas bulanan. Mana yang perlu dikoreksi dan mana yang perlu ditambah. Yang tak kalah penting, susun juga pengeluaran baru sebagai konsekuensi kehadiran buah hati.

Pengeluaran baru itu seperti pos dana darurat, asuransi, hiburan, perlengkapan anak, dan lain-lain. Jangan lupakan juga pos pengeluaran untuk investasi sebagai strategi mengantisipasi ketidakpastian di masa depan.

Pastikan pendapatan yang diperoleh mencukupi untuk pos-pos pengeluaran baru tersebut. Di saat bersamaan, inilah momen paling pas untuk menekan gaya hidup konsumtif.

2. Berlatih hidup dengan sumber dari satu pendapatan

Biasanya ini yang menjadi dilema setiap pasangan. Begitu punya anak, apakah istri akan tetap berkarir atau stay at home?

tunda punya momongan
Ibu beraksi nih kayak wonder woman hehehe (Ibu Rumah Tangga / Tqn)

Hal ini sebaiknya didiskusikan jauh-jauh hari sebelum punya anak. Dengan begitu mudah membangun konsensus untuk berbagi tugas ketika kehadiran anak sudah di depan mata.

Bila salah satu ada yang berhenti kerja, mungkin akan ada masalah finansial yang dirasakan. Biasanya pengeluaran ditopang oleh ‘dua gardan’, kali ini hanya bersumber dari suami aja.

Inilah kenapa perlunya untuk melatih sejak dini hidup dari satu pendapatan. Bagaimana mengelola pendapatan itu agar maksimal penggunaannya.

Lewat latihan ini, maka tak perlu kaget lagi bila suatu hari nanti istri harus membanting perannya sebagai ibu rumah tangga murni. Di samping itu, cara ini juga menjadi bagian antisipasi berkurangnya pendapatan di masa depan.

3. Pikirkan biaya pendidikan dan tetek bengeknya

Sejak dini mesti paham konsekuensi dari kehadiran anak. Bisa dipastikan pos pengeluaran buat buah hati enggak ada habis-habisnya. Paling berasa adalah biaya pendidikan.

tunda punya momongan
Pendidikan adalah bekal terbaik untuk anak-anak kita ( Balita dan Buku / Liputan6)

Sebaiknya pos pendidikan ini sudah dipikirkan jauh sebelum istri hamil. Tujuannya agar lebih mudah dan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Percaya deh, waktu akan terasa begitu cepat. Enggak sadar tiba-tiba anak sudah pakai seragam SMA!

Pastinya ingin kan buah hati bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi? Inilah pentingnya untuk belajar instrumen investasi yang cocok pos pengeluaran pendidikannya. Entah itu asuransi pendidikan, tabungan pendidikan, atau yang lainnya.

4. Dana pensiun dan warisan

Memikirkan dana pensiun dan warisan merupakan wujud pemikiran yang visioner. Sebagai orangtua, ada harapan di hari tuanya tidak membebani sang anak yang bakal bersiap hidup mandiri.

Atas dasar itu perlu untuk mempertimbangkan dengan cara apa membiayai hidup di saat tua nanti.

Dengan mempersiapkan tabungan pensiun sejak dini, maka pengeluaran itu tak akan memberatkan ketika anak masih dalam pengasuhan.

tunda punya momongan
Duh senangnya kalau masa tua adem ayem gini hehehe (Lansia / Cybersulutdaily)

Dengan strategi keuangan seperti yang disebutkan itu, sekarang tak perlu lagi ragu untuk memiliki anak. Enggak perlu lagi menunda-nunda dengan alasan masih fokus untuk mengumpulkan biaya terlebih dulu.

Memang sih punya anak selalu berkaitan dengan biaya. Kecemasan dan kekhawatiran ‘gagal’ memberikan yang terbaik bisa ditekan sepanjang sudah punya bekal perencanaan keuangan yang matang.

 

 

Yang terkait artikel ini:

6 Kesalahan saat Merencanakan Biaya Pendidikan Anak

Kalau Istri Hamil, Enaknya Pakai Asuransi atau Menabung ya?

Enggak Usah Khawatir Soal Dana Pensiun Kalau Bisa Ngaturnya