Jadi Komisaris Angkasa Pura, Ini Perjalanan Karier Ali Mochtar Ngabalin

Ali Mochtar Ngabalin lagi ramai jadi perbincangan belakangan ini. Bukan karena lantangnya dalam memberikan komentar, melainkan ia diangkat menjadi Komisaris Angkasa Pura 1. Penunjukannya menjadi komisaris diumumkan pada 19 Juli 2018 yang lalu.

Publik pun dibikin kaget begitu mengetahui kabar ini. Soalnya Ali Mochtar Ngabalin dikenal sebagai tenaga ahli utama Kantor Staf Kepresidenan yang direkrut dua bulan lalu.

Makanya ia kadang-kadang terlihat sebagai juru bicara yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dari wartawan.

Karena itu, begitu ada kabar pengangkatannya jadi Komisaris BUMN, gak sedikit orang yang berkomentar mengenai pengangkatannya tersebut, termasuk para politisi. Ada yang memberikan ucapan selamat, ada juga yang berkomentar miring.

Lepas dari beragam komentar yang ada, terdapat kisah yang menarik buat diulas dari perjalanan karier Ali Mochtar Ngabalin. Seperti apa kisahnya? Yuk disimak!

Loper koran yang kemudian menjadi politikus dan mubalig

Ali Mochtar Ngabalin
Ali Mochtar Ngabalin waktu demo 4 November (majalahkartini)

Ngabalin dulunya dikenal banyak orang karena menjadi politikus dari Partai Bulan Bintang (PBB) yang diketuai Yusril Ihza Mahendra. Pada 2014, namanya makin populer gara-gara tampil sebagai tim sukses pemenangan Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014.

Pria yang lahir di Fak-Fak, 25 Desember 1968 ini berasal dari keluarga yang sederhana. Ngabalin merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Ayahnya Hasan Basri Ngabalin adalah pegawai di Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) di Kabupaten Fak-Fak.

Walaupun gak banyak informasi seputar masa kecilnya, dikutip dari Wikipedia, Ngabalin menghabiskan masa kecilnya dengan menjalani pendidikan di SD Inpres Fak-Fak dan lulus tahun 1980.

Kemudian melanjutkan pendidikan Madrasah Tsanawiyah Fak-Fak yang selesai tahun 1983 dan lanjut lagi ke Madrasah Aliyah Fak-Fak yang selesai tahun 1986.

Ia pun memilih berkuliah di Makassar dengan masuk ke IAIN Alauddin Makassar yang selesai tahun 1994.

Ngabalin juga tercatat pernah ambil pendidikan di Universitas Indonesia buat jurusan ilmu komunikasi yang diselesaikannya tahun 2001. Kemudian meraih gelar Doktor di Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2013.

Masa remajanya dulu Ngabalin pernah bekerja menjadi loper koran dan pengantar kaset video rental. Ini dilakukannya agar bisa mendapat tambahan uang saku.

Ngabalin mulai aktif berpolitik sejak bergabung dengan PBB. Ia pun terpilih pada 2004 menjadi anggota DPR dari Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan II.

Di luar kariernya sebagai politikus, Ali Mochtar Ngabalin juga aktif menjadi mubalig. Namanya juga tercatat dalam beberapa organisasi keagamaan. Sebut aja Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, hingga Badan Koordinasi Mubalig se-Indonesia (Bakomubin).

Dulunya Timses kemudian ke Istana dan akhirnya jadi komisaris

Ali Mochtar Ngabalin
Ali Mochtar Ngabalin bertemu Presiden Jokowi (rakyatku)

Secara mengejutkan pada tahun 2010, Ali Mochtar Ngabalin pindah ke Partai Golkar. Padahal, namanya bisa dibilang termasuk politikus senior di PBB. Di Partai Golkar, ia dipercaya menjabat Wakil Sekretaris Jenderal.

Menjelang Pilpres 2014, Ngabalin memberi dukungannya buat pasangan Prabowo-Hatta yang bersaing dengan Jokowi-Jusuf Kalla. Ia pun diserahi tanggung jawab menjadi juru debat tim pemenangan Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014.

Sayangnya, upaya yang dilakukan Ngabalin buat memenangkan Prabowo-Hatta sia-sia ketikan KPU mengumumkan kemenangan Jokowi-Jusuf Kalla. Sejak itu ia mengambil posisi sebagai oposisi, mengkritik pemerintah.

Suami dari Henny Muis Bakkidu juga gak lepas dari kontroversi. Misalnya aja membela aksi kekerasan yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Monas tahun 2008.

Lama gak muncul di media, tiba-tiba aja Ali Mochtar Ngabalin bergabung menjadi tenaga ahli utama Kantor Staf Kepresidenan pada 1 Mei 2018. Padahal, publik tahunya ia berseberangan dengan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

Tentu aja kabar ini bikin heboh. Namun, seakan menjawab rasa penasaran banyak orang, Ngabalin mengatakan kalau politik itu harus dinamis. Apa pun bisa terjadi dalam politik semisal ia diminta pemerintah karena pikiran dan tenaganya saat ini dibutuhkan.

Sosoknya yang berwatak keras dan ceplas-ceplos saat menyampaikan komentar sempat ramai diberitakan. Salah satunya saat ia sebagai tenaga ahli Istana menanggapi pernyataan Amien Rais.

Ia menyebut Amien Rais sebagai pak tua dan mentangnya buat membuktikan kebohongan dalam akuisisi saham Freeport.

Kini baru sekitar dua bulan menjadi tenaga ahli, Ngabalin dipromosikan menjadi Komisaris Angkasa Pura I. Di BUMN yang mengurusi layanan penerbangan dan bisnis bandara tersebut ia diberitakan bakal menerima gaji Rp 56,7 juta hingga Rp Rp 63 juta per bulan.

Lepas dari kontroversinya, ada pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan Ali Mochtar Ngabalin. Semangatnya buat belajar hingga raih gelar Doktor dan betapa dinamis dirinya dalam berkarier hingga menduduki bangku komisaris BUMN dapat jadi inspirasi kita semua.

Moga-moga aja suatu saat nanti kamu bisa seperti belio ya!