Jadi Driver Ojek Online Perih, Begini Cara Mengatasinya

Beberapa bulan terakhir makin banyak driver ojek online yang merasa mata pencariannya kian sulit dijalankan. Alasannya macam-macam.

Dari makin banyak driver ojol pesaing sampai aturan insentif yang kian ketat. Buat yang kerap menggunakan jasa para driver ojol ini, pasti pernah mendengar keluhan mereka.

Coba saja pancing dengan pertanyaan soal bagaimana pengalaman jadi driver. Pasti akan disambar dengan rentetan komentar bernada kesal mengenai pekerjaan mereka.

Atau kamu sendiri driver ojol? Gak perlu panjang-lebar diceritain di sini pasti udah tahu suka-duka jadi petualang jalanan ya.

Namun setiap masalah bisa coba dicari solusinya. Sebagai customer, kita bisa memberikan saran kepada para driver yang banyak berjasa itu.

Adapun selaku driver, percayalah bahwa kemitraan dengan perusahaan transportasi online itu bersifat win-win solution alias sama baiknya bagi kedua pihak. Antara driver dan perusahaan sebenarnya saling membutuhkan.

Karena itu, semestinya segala permasalahan bisa didiskusikan untuk dicari solusi bersama. Berikut ini sejumlah masalah dan solusi buat driver ojek online yang saat ini tengah perih menjalani kerja sehari-hari:

1. Kebanyakan driver

driver ojek online
Saking banyaknya, driver ojol mungkin bisa bikin partai sendiri (tirto)

Gak bisa dimungkiri, driver ojol saat ini berlipat-lipat banyaknya ketimbang 4-5 tahun silam, saat ojek online lagi awal nge-tren. Hal ini adalah keniscayaan, karena gurihnya pendapatan yang bisa diraup driver ojol dan masih tingginya tingkat pengangguran.

Namun kalau kebanyakan driver, jelas jadi masalah tersendiri buat para driver. Persaingan jelas makin ketat. Terlebih pesaing gak hanya datang dari satu perusahaan, tapi juga dari perusahaan transportasi lain.

Solusi: buat mengatasi masalah ini, bisa menyiasatinya dengan lebih fokus nge-bid saat jam sepi. Misalnya setelah jam pulang kerja hingga dinihari. Cara ini butuh pengorbanan, misalnya harus melek saat yang lain udah pada istirahat.

Namun orang bisa kapan saja butuh jasa ojol. Coba mangkal pada jam sepi namun di tempat publik yang ramai, misalnya pusat kota, dekat mal, tempat hiburan malam, stasiun, atau terminal. Lokasi resepsi gedung nikah juga bisa disasar.

Kali aja ada tamu yang butuh jasa ojol. Sekali ada order terlihat, langsung deh cocol.

[Baca: Gini Cara Daftar Ojek Online Buat Nambah Penghasilan]

2. Insentif kecil

Dulu, banyak orang tertarik jadi driver ojek online karena iming-iming insentif yang gede. Tapi makin ke sini makin banyak yang ngeluh insentif makin kecil.

Ya wajar sih. Makin banyak driver, kalau insentif makin besar bisa-bisa perusahaannya bangkrut. Kalau bangkrut, driver ojol malah gak punya pekerjaan lagi.

Solusi: kalau sekarang merasa insentif terlalu kecil, coba bicarakan dengan manajemen. Bikinlah serikat pekerja. Bukan komunitas lho ya. Kalau komunitas paling menjadi wadah untuk bertukar cerita atau hura-hura.

Serikat pekerja itu lebih serius ketimbang komunitas. Ada ketua, sekretaris, bendahara, hingga koordinator-koordinator. Semua hal itu mesti dimuat dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Ada undang-undangnya.

Meski hubungan dengan perusahaan hanya kemitraan, gak ada salahnya bikin serikat driver ojol sendiri. Iuran juga mestinya ada, namun harus transparan.

Iuran ini dipakai untuk kegiatan driver, dari family gathering sampai sebagai talangan biaya sehari-hari para driver ketika harus mogok kerja untuk menuntut hak ke manajemen. Serikat pekerja harus diisi orang-orang yang ngerti tentang undang-undang tenaga kerja, bukan sekadar bisa memimpin atau mengatur driver lain.

Keuntungan lain ikut serikat pekerja adalah akan mendapat solidaritas serikat pekerja lain kalau ada masalah. Misalnya serikat pekerja garmen, elektronik, atau logam.

3. Insentif susah didapet

driver ojek online
Kalau sering nongkrong doang sambil game atau ngobro, angeh bila ngeluh insentif susah didapet (brilio)

Masalah yang bikin perih driver ojek online ini juga bisa diatasi dengan cara di atas, yakni lewat nego pakai payung serikat pekerja. Sembari negosiasai berjalan, kita coba mengatasinya dulu secara pribadi.

Solusi: caranya, pelajari skema insentif dengan baik. Lihat faktor apa saja yang berpengaruh. Misalnya jarak kilometernya yang dihitung, mending cari order kelas kakap saja.

Order yang jaraknya jauh sekalian bisa lebih membantu mendapat insentif. Misalnya dari Bekasi ke Tangerang. Lalu dari Tangerang cari yang mengarah balik ke Bekasi. Kalau cari order jarak pendek melulu, bisa habis waktu di jalan karena target gak sampai-sampai.

Selain itu, usahakan selalu ramah ke customer biar rating gak turun. Kadang memang ada customer yang nyebelin. Misalnya pakai promo tapi cerewet minta cepet atau apa pun itu yang bikin sebel.

Promo adalah hak customer. Kalau ada promo, ya otomatis customer mau pakai. Itulah hukum ekonomi saat ini. Sebagai driver, ya menyesuaikan saja. Toh, driver tetap dapet ongkos sesuai, karena promo adalah program perusahaan, bukan driver.

[Baca: Pinjaman Dana Tunai untuk Ojek dan Taksi Online, Bisa Gak Ya?]

4. Customer ngadu

Kalau ini sebetulnya bukan mutlak kesalahan customer. Ada sebab ada akibat. Bila customer ngadu, lihat apa aduannya.

Misalnya kita pakai kendaraan yang gak sesuai dengan aplikasi. Kalau gak mau diadukan, sebelumnya jelasin dulu ke customer kenapa kendaraan atau pelatnya beda.

Mungkin udah minta ganti ke manajemen tapi data di aplikasi masih yang lama. Atau kendaraan terdaftar sedang masuk bengkel. Kalau gak dikasih tahu, kan customer gak ngerti.

Solusi: bilang terus terang apa alasannya, jangan lupa pakai kata “maaf”. Mestinya customer yang baik akan paham, asalkan lancar diantar sampai tujuan.

Selain itu, pastikan semua aturan ditaati, dari pakai helm, atribut, sampai rambu-rambu lalu lintas. Bila mau ngebut biar cepat sampai, tanyakan dulu ke customer mau atau gak. Intinya adalah jangan sampai ngeremehin customer, karena akibatnya bisa fatal ke rating driver.

5. Opang dan security

driver ojek online
Bukan zamannya lagi adu otot, melainkan adu argumen kalau ada masalah (malesbanget)

Opang alias ojek pangkalan sebagai “senior” ojek masih sering merasa terganggu oleh keberadaan ojol. Sebagai ojol, gak perlu pakai emosi kalau menghadapi opang yang sewenang-wenang.

Security juga kadang jadi ancaman buat driver ojol. Terutama di tempat-tempat tertentu seperti gedung perkantoran dan bandara.

Solusi: bersama serikat atau komunitas driver ojek online, sebaiknya temui dulu komunitas opang tertentu yang keberatan. Lalu, bikinlah perjanjian yang sama-sama menguntungkan.

Misalnya ojol hanya boleh jemput di titik-titik tertentu. Lalu opang gak boleh main tangan kalau nemu ojol yang jemput gak sesuai dengan perjanjian. Siapa tahu itu ojol gak tahu perjanjian yang diteken.

Solusi untuk mengatasi masalah security mirip dengan soal opang. Kedepankan diskusi dan adu argumen ketimbang adu otot. Jika memang gak bisa ketemu persetujuan kedua pihak, apa boleh buat.

Tetaplah narik, tapi hindari konfrontasi langsung dengan mereka. Sembunyi-sembunyi saja, daripada kena masalah. Bila mereka yang memulai keributan, jangan ragu melapor ke pihak berwajib agar masalah diselesaikan secara hukum.

Driver ojol masih jadi profesi yang menggiurkan. Lihat saja di grup-grup Facebook. Meski banyak yang ngaku jadi driver ojol itu perih, masih saja ada yang nanya gimana cara daftar jadi driver ojek online. Bahkan ada yang rela bayar agar bisa diterima lewat “jalur VIP”.

Faktanya, tiap profesi punya masalahnya sendiri-sendiri, termasuk driver ojol. Bila merasa gak sanggup lagi menghadapi perihnya jadi driver ojol, selalu ada pintu keluar kok. Tapi jangan sampai menyerah sebelum berjuang mengatasi masalah ya. Salam satu aspal!

[Baca: 5 Profesi Baru yang Bisa Dilirik Driver Ojol]