Inspiratif! 5 TKI Ini Berhasil Mengubah Kisah Kelam Jadi Membanggakan

Profesi Tenaga kerja Indonesia (TKI) sering dianggap sebelah mata. Apalagi pemberitaan media massa mengenai kehidupan para TKI juga cenderung negatif.

Emang gak bisa dipungkiri banyak kisah miris yang dialami para pahlawan devisa.

Tapi, di antara kisah-kisah pilu itu, gak sedikit juga TKI yang berprestasi dan bisa jadi inspirasi kita semua. Beberapa dari mereka bahkan mampu mengubah kisah pilunya menjadi perjalanan hidup yang patut dibanggakan.

Hari ini, mari belajar dari mereka.

Imamatul Maisaroh

TKI
(Image: maxmanroe)

Masih ingat dengan kisah Imamatul yang namanya jadi sorotan beberapa tahun lalu? Ia menyita perhatian banyak orang karena diangkat menjadi staf khusus Presiden Barack Obama.

Sebagai seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang mencari nafkah di negeri orang, perjalanan menuju Gedung Putih tentu bukan hal yang mudah.

Semua berawal dari siksaan majikannya. Ima memilih buat melarikan diri dan tinggal di penampungan. Di sana, Ima belajar bahasa inggris dengan aktif terlibat kegiatan CAST, organisasi yang melawan perbudakan dan perdagangan manusia di Amerika.

Berkat keaktifannya tersebut, Ima sering diundang ke berbagai pertemuan tingkat tinggi di Washington. Ima juga sering bertemu orang-orang penting di sana, dari mulai menteri hingga presiden, saat itu ya presidennya Barack Obama.

Puncaknya, pada 2012, Ima ditunjuk sebagai staf bidang perlindungan buruh dan migran di Gedung Putih.

 

Siti Badriyah

TKI
(Image: astralife)

Kerap disiksa, diisolasi, dan mendapat perlakuan gak bermoral lainnya harus Siti terima selama bekerja di Malaysia. Pengalaman pahit di negeri Jiran tersebut bikin Siti pengin pindah ke Brunei Darussalam.

Nasib baik mulai berpihak pada Siti. Ia mendapatkan majikan yang cukup bertanggung jawab. Tapi karena beban kerjanya terlalu tinggi, Siti merasa perlu mencari majikan lain. Buat mengurus kepindahannya ini, ia harus pulang ke Indonesia.

Selagi di Jakarta, Siti berencana mengurus gajinya selama bekerja di Malaysia di agen penyalur. Saat itulah, Siti melihat gimana sulitnya para buruh migran mengambil hak mereka dari hasil bekerja di negeri orang.

Siti pun tergerak buat memperjuangkan hak-hak buruh migran, sehingga membatalkan rencananya ke Brunei Darussalam. Siti kemudian menjadi staf Migrant Care pada 2004.  

Bersama Migrant Care ia ikut membahas Rancangan Undang-Undang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri bersama Komisi IX DPR.

Selain itu, ia juga telah memiliki usaha laundry sendiri dan bisnis penjualan pulsa.

 

Wahyudi Chandra

TKI
(Image: Kompasiana)

Wahyudi Chandra adalah mantan pedagang keliling yang kini telah memiliki berbagai lini bisnis di Hong Kong. Dulu dia cuma menjajakan makanan di Victoria Park, Hong Kong. Tapi kini ia telah memiliki dua restoran yang khusus menyajikan masakan Indonesia.

Chandra juga membuka belasan minimarket yang tersebar di wilayah Kowloon, Hong Kong Island, dan New Teritory. Bisnisnya merambah ke segala bidang, seperti biro perjalanan, money changer, balai latihan kerja, hingga pengiriman uang.

Dari sejumlah bisnisnya tersebut, ia mempekerjakan lebih dari 50 karyawan asal Indonesia dan Hong Kong.

Gak cuma berbisnis di Hong Kong, Chandra juga membangun bisnis properti berupa apartemen dan kapel pernikahan di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Heni Sri Sundani

TKI
(Image: Femina)

Mantan buruh migran ini namanya pernah nampang dalam jajaran Under 30 Asia Social Entrepreneurs versi Forbes 2016. Namanya bisa tercatat disitu berkat kerja sosialnya di komunitas Agroedu Jampang Community yang terletak di Bogor. Komunitas ini berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan.

Heny emang bukan buruh biasa. Selama enam tahun menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong, ia tetap menyempatkan diri berkuliah sampai lulus dengan predikat cum laude.

Gak cuma itu, di sela-sela jadwal padatnya, ia juga aktif menulis di berbagai media massa dengan nama pena Jaladara.

Isnaini Faiz Prakoso (Pras)

TKI
(Image: Bintang)

Setelah bekerja sebagai buruh di Korea dan Taiwan, Pras kini memiliki usaha kelontong A3 Mart di Ponorogo, Jawa Timur. Perjalanannya gak bisa dibilang mudah. Hasil gajinya selama bekerja di Korea ludes seketika karena uangnya lenyap dipinjam orang.

Setahun berikutnya, ia mengadu nasib di Taiwan. Kembali dari Taiwan, Pras berhasil membeli ruko dua lantai. Lagi-lagi apes, ia bangkrut gara-gara gak punya rencana anggaran yang matang. Suka gak suka Pras kembali mencari rezeki di Taiwan.

Kali ini ia berjualan berbagai produk makanan Indonesia dengan target pasar warga Indonesia yang bekerja di sana. Selain itu ia juga bekerja sebagai agen jasa pengiriman uang para pekerja di Taiwan buat keluarga di Indonesia.

Akhirnya, ditambah pinjaman dari bank, Pras punya cukup modal buat membangun minimarket. Berawal dari tiga rak, kini tokonya telah memiliki 15 karyawan dengan omzet Rp 15 juta per hari. Salut deh!

 

Itulah beberapa kisah para TKI yang berhasil mengubah nasib kelam mereka. Kesuksesan berhasil mereka raih melalui kerja keras, semangat, dan kepedulian terhadap sesama.

 

Semoga menginspirasi!