Ini Dua E-Commerce Indonesia yang Paling Banyak Dikunjungi

Tokopedia dan Bukalapak menjadi juara e-commerce lokal yang berhasil menyedot konsumen belanja nasional 2018 terbanyak. Berdasarkan data iPrice rata-rata kunjungan Tokopedia di triwulan III tahun ini lebih dari 153,6 juta kunjungan per bulan.

Angka tersebut meningkat 37,8% dari triwulan sebelumnya dan melonjak 63,8% dibanding triwulan III 2017. Hal itu menjadikan startup unicorn besutan William Tanuwijaya itu sebagai raja online shop Indonesia.

Sementara e-commerce dengan pengunjung terbanyak kedua pada triwulan III tahun ini adalah Bukalapak dengan rata-rata mencapai 95,93 juta kunjungan per bulan. Capaian ini meningkat 12,68% dari triwulan sebelumnya serta melonjak 58,46% dari triwulan III tahun lalu.

Tahun 2018 sendiri menjadi periode yang sangat baik untuk berbelanja online. Para pemain e-commerce berlomba-lomba memanjakan pelanggannya dengan beragam festival belanja yang dipenuhi dengan promo diskon dan cashback.

Penjualan tersebut dipercaya mampu menarik jumlah transaksi yang masif. Seperti pada perayaan hari belanja online nasional (Harbolnas) yang baru saja berlalu, dan mampu mencatat transaksi hingga Rp 6,8 triliun dalam dua hari.

Nielsen Indonesia mencatat, meski gak mencapai target, namun porsi produk lokal naik dengan menyumbang 46% dari nilai transaksi.

“Targetnya memang sangat agresif Rp 7 triliun. Tetapi pesannya tercapai, yaitu (transaksi) produk lokalnya tinggi,” kata Ketua Harbolnas 2018 Indra Yonathan seperti dikutip dari katadata.co.id.

Transaksi pembelian produk lokal yang mencapai Rp 3,1 triliun pada 12 Desember 2018 telah melampaui target Rp 1 triliun seperti yang telah ditetapkan.

Menurut Direktur Bina Usaha dan Pelaku Distribusi Kementerian Perdagangan I Gusti Ketut Astawa minat masyarakat terhadap produk lokal cukup besar. Dirinya pun mengapresiasi penyelenggaraan Harbolnas tahun ini.

Direktur Consumer Insight Nielsen Indonesia Rusdy Sumantri menjelaskan, produk fashiondan pakaian olahraga menjadi penyumbang terbesar dengan menyerap 56%. Diikuti kosmetik 26%, produk elektronik 16%, gadget dan teknologi 16%.

Adapula pembayaran tagihan dan isi ulang (top up) 13%. Selain itu, produk lokal yang banyak ditransaksikan adalah personal care 12%, makanan dan minuman 11%.  Kemudian kebutuhan sehari-hari 8%, serta buku dan perlengkapan sekolah 6%.

“Ini diukur dari brand dan unbrand di Indonesia,” papar Rusdy.

Secara keseluruhan, kategori produk yang paling banyak dibeli selama Harbolnas 2018 adalah fesyen dan pakaian olahraga yang menccapai 69% dari total transaksi. Sementara kosmetik 35%, perjalanan 29%, produk elektronik 28%, gadget dan teknologi 27%.

Pembayaran tagihan dan isi ulang (top up) 17%, serta makanan dan minuman 15%. “Yang menarik posisi travel turun dari kedua tahun lalu menjadi ketiga,” tutur Rusdy.

Trennya lebih banyak membeli kosmetik. Meski secara keseluruhan, pembelian produk perjalanan masih tumbuh.

Partisipasi Belanja Online Masyarakat Tumbuh Tinggi

pasang iklan gratis
(Image: PSMCenterCommunity)

Tingkat partisipasi masyarakat di Harbolnas pun mencapai 46%, lebih tinggi ketimbang tahun lalu 42%. Meski, peningkatan keikutsertaan dalam Harbolnas paling tinggi di Pulau Jawa yakni 56%. Sementara di luar Pulau Jawa hanya naik 6%, padahal tahun lalu kenaikannya 82%.

Rusdy memprediksi, tingkat kenaikan keikutsertaan di luar Pulau Jawa yang rendah ini karena faktor promo ongkos kirim. “Kalau ongkos kirim lebih mahal, kan tidak mau juga. Lagi pula yang paling banyak ikut adalah yang reguler (yang sudah biasa berbelanja secara online),” kata dia.

Adapun pembeli reguler dalam Harbolnas 2018 mencapai 83%. Sementara konsumen yang baru pertama kali ikut serta dalam Harbolnas sebanyak 16% dan yang pertama kali berbelanja online hanya 1%.

Menurut Rusdy, ini terjadi karena masyarakat Indonesia sudah terbiasa berbelanja onlinesejak tahun lalu.

Data ini dihimpun Nielsen Indonesia melalui survei secara online pada 13 Desember 2018, guna mencatat transaksi berbelanja selama 11-12 Desember 2018. Terdapat 744 responden usia 15 tahun ke atas di 31 kota yang terlibat dalam kajian ini.