Ini Alasan Kenapa Multitasking Tidak Efisien dan Kurang Produktif

Tahu istilah multitasking dong? Itu lho, melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu yang sama.

Hal ini sering dianggap sebagai sesuatu yang keren. Bahkan menjadi salah satu poin kelebihan yang kerap ditulis di CV alias resume.

Selidik punya selidik, ternyata multitasking tidak efisien dan kurang produktif, lho. Menurut riset dari Stanford University, orang yang gemar multitasking kurang produktif dibanding yang senang menyelesaikan pekerjaan satu per satu.

Nah loh! Kira-kira bagaimana detail riset tersebut dan apa alasan multitasking itu gak efisien?

Multitasking memang terlihat keren. Sebab, orang bisa was-wis-wus kerja ini itu dengan percaya diri.

Namun, nyatanya, hasil kerjanya kalah bagus dibanding dengan mereka yang kerjanya satu per satu. Orang-orang yang hobi multitasking hanya menang cepat.

Tapi bahkan ada juga yang gak cepat kerjanya. Sudah hasil kerjanya buruk, lambat lagi.

Mestinya tahu dong apa akibatnya jika kebiasaan multitasking seperti itu diterapkan di lingkungan kerja. Bisa-bisa kerjaan gak sesuai dengan ekspektasi bos. Ujungnya, karier sulit naik.

Multitasking Tidak Efisien
Dalam satu menit bisa menghandle berbagai kerjaan? Wow! (Multitasking/Sarangberita)

Makanya, kita perlu melakukan introspeksi. Terutama yang suka melakukan pekerjaan A, B, dan C secara bersama-sama.

Contoh multitasking di lingkungan kerja antara lain menulis laporan keuangan sambil menyusun bujet rencana ke depan. Iya, sama-sama pakai kalkulator.

Tapi kan angkanya buanyak sekali. Gak khawatir angkanya tertukar?

Atau mengikuti rapat sambil menulis e-mail ke klien. Bisa-bisa diajukan pertanyaan dalam rapat langsung gelagapan.

Atau malah mau nulis A ke klien, yang terkirim B. Niatnya mau dapat klien, malah kabur karena salah paham. Akhirnya performa dinilai negatif, gaji gak naik. Nangis.

Multitasking dalam Keseharian

Selain dalam dunia kerja, multitasking kerap dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat inilah kentara bukti bahwa multitasking itu gak keren dan gak efisien.

Hayo ngaku, siapa yang pernah nulis WhatsApp sambil ngobrol. Ternyata yang ditulis adalah apa yang diobrolkan.

Multitasking Tidak Efisien
Mendingan fokus aja sama satu kerjaan tapi bisa kelar (Fokus kerjaan/Orami)

Itulah. Ada ketidaksinkronan berpikir ketika melakukan lebih dari satu pekerjaan sekaligus.

Kebiasaan ini tentunya merugikan jika terus-menerus dilakukan. Bahkan, menurut studi dari University of Essex, kebiasaan multitasking bisa merusak otak! Wah….

Riset dari para ahli itu menggunakan metode scan MRI ke otak mereka yang punya kebiasaan multitasking. Dalam hasil scan, diketahui bagian otak yang mereka bernama anterior cingulate cortex lebih tipis.

Bagian otak itu berfungsi sebagai pemroses empati. Juga mengontrol emosi kemampuan kognitif.

Namun tenang, riset ini masih membutuhkan bukti lebih lanjut untuk melihat bukti fisik bahwa ada kerusakan otak tersebut. Jadi, buat kalian yang sering multitasking gak perlu khawatir dulu.

Meski begitu, melihat penjelasan di atas, gak ada salahnya kita-kita yang hobi multitasking mulai berpikir ulang. Coba dilihat lagi, apa betul hasil kerja multitasking kita itu memuaskan.

Ada yang bilang, kemampuan multitasking itu adalah anugerah. Gak semua orang bisa melakukannya. Hmmm..masak, sih?

Multitasking bisa dilakukan siapa pun, lho. Namun memang hasilnya berbeda-beda tiap orang. Karena itulah diperlukan kesadaran diri untuk menilai pribadi masing-masing, sudah baguskah kinerja kita dengan multitasking?

Multitasking Tidak Efisien 3
Kerja secara cerdas, bukan kayak kuda tentu bakal mengantar ke puncak karier. (Jadi Bos/Zettamedia)

Kalau sudah bagus, apa indikatornya? Sebab soal bagus-tidaknya kinerja sudah jelas kriterianya. Kalau karier kita menanjak, berarti memang performa kita bagus.

Tapi jika karier mentok dengan gaji segitu aja, ya, maaf. Mungkin ada yang keliru dalam pola kerja. Mungkin itu gara-gara sering multitasking?

Meski begitu, multitasking bisa bermanfaat juga. Terutama bila dikejar waktu agar pekerjaan segera selesai. Namun kita gak bisa berharap banyak soal kualitas kerjaan itu, ya.

Mungkin multitasking akan sangat berguna ketika kita sedang punya utang di banyak tempat. Bisa bayar utang sekaligus di tempat-tempat tersebut, itu baru keren dan efisien.

 

Yang terkait artikel ini:

Saat Merasa Karier Mentok, Jangan Buru-buru Ambil Keputusan Pindah Kerja

Percuma Naik Gaji Jika Masih Mempertahankan 5 Cara Mengatur Keuangan Ini

Mau Kerja Utama dan Usaha Sampingan Bisa Berjalan Mesra? Simak Hal-hal Penting Ini Deh