Ini Alasan Kenapa Harga Sembako Cenderung Melonjak Saat Bulan Puasa

Di Bulan Ramadan, kecenderungan naiknya harga sembako semakin besar. Hal itulah yang kemudian sering dielu-elukan para ibu rumah tangga.

Padahal, di bulan puasa keperluan akan bahan pokok meningkat. Intensitas memasak warga justru meningkat saat puasa. Apalagi warung-warung dan rumah makan yang bakal kebanjiran pembeli saat berbuka tiba.

Pada bulan Ramadan saat ini, harga bahan pokok di beberapa daerah sudah mengalami peningkatan. Dikutip dari detikcom kenaikan terjadi di Pasar Baru, Bekasi, seperti bawang putih dan cabai rawit. Sementara itu di Jambi, harga bawang putih mencapai Rp 100.000 per kilogram.

Kira-kira apa sih penyebab utama harga sembako naik?

Baca juga: Hati-Hati! 6 Kebiasaan di Bulan Puasa Ini Justru Bikin Kantongmu Makin Jebol

1. Harga naik karena permintaan meningkat

Harga sembako
Suasana di pasar tradisional Tangerang (Shutterstock).

Memang pada saat Ramadan kita dianjurkan untuk berpuasa seharian, kira-kira 13-14 jam, tapi bukan berarti permintaan akan kebutuhan pokok akan menyusut. Justru, pada bulan Ramadan, kebutuhan akan sembako semakin laris manis.

Yang paling berasa sih biasanya harga ayam, daging dan beras. Karena ketiganya tersebut paling laris diburu saat menjelang hari H. Pada saat hari Idul Fitri, masyarakat di Indonesia yang mayoritas muslim akan memasak masakan opor ayam atau daging. Jadi hampir semua keluarga yang merayakan pasti deh masaknya opor. Kalau gak opor kayaknya gak afdol. Lalu, santap opor paling pas dengan lontong yang terbuat dari beras.

Jadi ketiga bahan pokok itu pasti yang paling banyak diburu oleh masyarakat di hari lebaran. Dan para pedagang pun tak mau ketinggalan momentum dengan menaikkan harga sembako demi meraup keuntungan yang berlimpah.

2  Adanya kartel bahan pokok

Harga sembako
Bahan pokok di pasar (Shutterstock).

Kartel adalah gabungan beberapa produsen independen yang berusaha untuk menguasai pasar dengan cara memainkan harga dan menekan distribusi. Jangan kamu kira kartel adanya cuma di luar negeri saja ya, di sini juga ada ternyata. Kalau di luar mungkin kita lebih sering mendengar kartel narkoba, kalau di Indonesia menjelang lebaran adanya kartel pangan.

Cara kerja mereka biasanya adalah dengan meraup hasil panen para petani dalam jumlah besar. Kemudian, hasil tersebut ditimbun dan disimpan sampai persediaan di pasar menipis. Setelah itu lalu mereka menjualnya dengan harga yang sangat tinggi. Kerjasama jahat dan tercela ini gak cuma terjadi pada bulan Ramadan saja, tapi juga bisa di bulan-bulan lainnya.

Nah keberadaan mafia inilah yang kemudian mendorong pemerintah dan kepolisian membentuk Satgas Pangan. Satgas ini berupaya untuk menjaga pangan sambil menangkap para pelaku kartel. Dikutip dari Medcom, pada tahun 2018 lalu, setidaknya ada 390 orang yang ditetapkan tersangka sebagai kartel. Yang mereka lakukan termasuk ke dalam tindak pidana karena mengganggu stabilitas harga sembako di pasaran, dan tentunya membuat warga kesulitan.

Baca juga: Begini Caranya Ikut Buka Puasa Bersama yang gak Bikin Kantong Jebol

3. Rantai distribusi yang panjang

Harga Sembako
Suasana di pasar tradisional (Shutterstock).

Proses memindahkan barang dari satu tempat ke tempat-tempat yang lain adalah distribusi. Pada saat bulan Ramadan, diketahui bahwa permintaan akan bahan-bahan pokok akan meningkat, pasokan pun biasanya akan menipis, oleh sebabnya, untuk memenuhi kebutuhan di beberapa daerah, antar daerah akan bekerja sama untuk memenuhi satu dengan yang lainnya.

Gak jarang, distribusi ini turut melibatkan daerah-daerah yang berbeda pulau. Misalnya, untuk mendapatkan pasokan bawang merah dan putih, kota-kota di Sumatera harus menunggu pasokan dari Brebes.

Nah rantai distribusi yang panjang inilah yang menyebabkan harga sembako meningkat. Karena memang distribusi seperti contoh di atas bukanlah perkara murah. Perjalanan dari Brebes ke Sumatera itu sangatlah panjang, dan kalau ditempuh dengan truk maka akan menyita banyak waktu dan biaya. Jadi untuk menutupi beban distribusi tersebut, biasanya pedagang akan menaikkan harga.

4. Faktor iklim

Harga Sembako
Petani (Shutterstock).

Kondisi iklim yang tak menentu seperti saat ini kadang membuat para petani kewalahan. Waktu panen mereka menjadi tak jelas karena cuaca yang berubah-ubah. Kadang-kadang hujan berkepanjangan, atau kadang-kadang kemarau berkepanjangan, atau bahkan tiba-tiba kemarau di musim hujan. Kondisi seperti itu jelas mengganggu komoditas pertanian.

Akibatnya adalah kelangkaan bahan pokok pun terjadi. Tentunya kelangkaan dapat menyebabkan harga sembako naik drastis. Padahal Ramadan adalah momen di mana permintaan akan bahan pokok meningkat.

Langkah pemerintah mengantisipasi melonjaknya harga sembako

Harga Sembako
Suasana di pasar (Shutterstock).

Pemerintah tentu gak diam saja menanggapi kenaikan harga bahan pokok ini. Karena bagaimanapun juga mereka lah yang bertanggung jawab untuk memberikan rasa nyaman dan tenang untuk masyarakat.

Beberapa langkah antisipasi pun terus dilakukan dari tahun ke tahun. Tujuannya untuk menekan harga tersebut tetap stabil apapun kondisinya. Bagaimana caranya?

Membuka pasar murah

Setiap Ramadan, sudah menjadi agenda rutin bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk mendirikan pasar murah. Di pasar murah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga. Harga sembako di pasar ini akan jauh lebih murah ketimbang di pasaran. Segala jenis komoditas pun ada, mulai dari beras, gula, minyak, ayam, daging, dan lain-lain.  

Menjaga ketersediaan

Salah satu cara terampuh untuk menjaga harga sembako adalah dengan menjaga ketersediaan stok. Jika stok menipis, salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah dengan membuka keran impor.

Seperti dikutip dari Kontan, pada April lalu, pemerintah telah memastikan seluruh stok bahan pokok telah tercukupi. Hanya saja, stok bawang putih yang mulai menipis, oleh sebabnya pemerintah pemerintah mengambil kebijakan impor untuk memenuhi kebutuhan.

Itulah penyebab harga sembako meningkat selama lebaran. Semoga saja pemerintah bisa dengan cepat mengatasi permasalahan ini. Dan untuk masyarakat cobalah untuk lebih berhemat dengan tidak terlalu sering berbuka puasa bersama di luar, alokasikan saja duitnya untuk membeli bahan-bahan pokok di rumah. (Editor: Winda Destiana Putri).