Ini 4 Peristiwa Ekonomi Terpenting yang Jadi Sorotan di Tahun 2018

Peristiwa ekonomi 2018 telah menjadi catatan penting di masa mendatang. Apalagi, pergantian tahun 2018 menuju 2019 tinggal hitungan hari.

Berbagai peristiwa menarik di sektor ekonomi telah menjadi sorotan di sepanjang 2018 ini.

Mulai dari kontroversi utang Indonesia yang mencapai Rp 5.371 triliun, hingga rupiah yang menembus level psikologis tertinggi sejak krisis moneter 1998 juga menandai warna-warni kehidupan ekonomi Indonesia.

Berikut, empat peristiwa ekonomi yang paling banyak disorot dalam Kaleidoskop 2018:

Tingkat kemiskinan di Indonesia terendah sejak 1999

Tingkat kemiskinan menurun
Tingkat kemiskinan menurun

Tigkat kemiskinan di Indonesia tengah mengalami penurunan secara signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan pada tahun 2018 mengalami penurunan.

Berdasarkan data per Maret 2018, tingkat kemiskinan di Indonesia mencapai 9,82 persen dari total populasi penduduk sebesar 265 juta jiwa.

Jika dihitung secara matematika, jumlah penduduk miskin pada tahun 2018 mencapai 25,95 juta jiwa, atau turun sebesar 10,12 persen di bandingkan periode September 2017 yang mencapai 16,58 juta jiwa dari total populasi penduduk.

Namun, Kepala BPS Suhariyanto menegaskan, besaran jumlah penduduk kategori miskin masih menjadi pekrjaan rumah yang sangat penting dan perlu diselesaikan. Pasalnya, angka sebesar 25,95 juta jiwa bukanlah jumlah yang sedikit.

“Caranya dengan kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran, sehingga penurunan kemiskinannya bisa cepat. Beberapa tahun belakangan ada penurunan, tapi sangat lamban. Tapi ini persentase kemiskinan yang paling rendah, tapi jumlahnya masih banyak,” kata Suhariyanto.

Baca juga:

Ekonomi Melambat, Bank Indonesia Akan Kembali Naikkan Suku Bunga

Rupiah Tembus Rp 14.900 per Dolar, Harga Barang-Barang Ini Ikut Meroket

Sambut Tahun Baru 2019, Indonesia Cari Utangan Rp 30 Triliun

Utang Indonesia mencapai Rp 5.371 Triliun

Utang menumpuk
Utang menumpuk

Pada akhir September 2018 lalu,  Bank Indonesia (BI) mencatat total utang luar negeri Indonesia mencapai 359,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 5.371 triliun dengan kurs rupiah pada akhir September 2018 Rp 14.929 per dolar AS.

Dari data statistik utang luar negeri Indonesia, total utang luar negeri tumbuh sebesar 4,2 persen secara tahunan, dan mengalami perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,6 persen secara tahunan.

Perlambatan tersebut terjadi pada utang luar negeri pemerintah yang hanya tumbuh 2,2 persen secara tahunan menjadi 176, 1 miliar dolar AS.

“Hal ini turut dipengaruhi oleh kondisi pasar SBN dalam negeri yang terimbas tingginya ketidakpastian global,” papar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman dalam keterangan resmi, beberapa waktu lalu.

Kendati begitu, BI memastikan perkembang utang tersebut masih tetap terkendali dalam sturktur utang yang sehat.

Ini terlihat dari rasio utang luar negeri Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal III 2018 yang tercatat stabil di kisaran 34 persen.

“Rasio tersebut masih lebih baik di bandingkan dengan rata-rata negara peers (negara dengan grade setara, yaitu double B). Di samping itu, struktur utang luar negeri Indonesia tetap didominasi utang luar negeri berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,8 persen dari total utang luar negeri,” papar Agusman.

Indonesia rajin impor, sulit ekspor

Impor
Impor

Dalam hal perdagangan antarnegara, Indonesia lebih rajin melakukan impor ketimbang mengekspor produk dalam negeri ke pasar global.

Dari data BPS, sepanjang periode Januari hingga Oktober 2018 total ekspor Indonesia sebesar 150,88 miliar dolar AS atau naik 8,84% dibanding tahun 2017. Sedangkan impor mencapai 156,40 miliar dolar AS atau naik 23,37% dibanding tahun lalu.

Hal inilah menjadi penyebab defisit neraca perdagangan Indonesia selama periode Januari hingga Oktober 2018 4,52 miliar dolar AS.

Dolar meningkat tajam, rupiah keok

Rupiah keok
Rupiah keok

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun 2018 menyorot perhatian publik.

Pasalnya, pada awal tahun 2018 lalu, nikai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berada di level Rp 13.500 per dolar AS.

Namun, sepanjang perjalanan tahun 2018, nilai tukar rupiah terus menurun atau terdepresiasi hingga menyentuh level Rp 14.000 pada Mei 2018.

Bahkan, pada bulan Oktober 2018, nilai tukar rupiah mencapai level yang cukup rendah hingga mencapai Rp 15.000 sampai Rp 15.200 per dolar AS.

Nilai tukar yang menyentuh level Rp 15.000 per dolar AS disebut mencapai titik terendah sejak krisis moneter pada tahun 1998.

Nah, itu dia peristiwa ekonomi yang paling banyak disorot di sepanjang 2018 ini. Semoga seluruh peristiwa tersebut menjadi catatan penting di masa mendatang. (Editor: Chaerunnisa)