Hitungan Biaya Hidup di Jakarta 2018. Benarkah UMP DKI Tak Cukup?

Kabarnya hidup di Jakarta butuh biaya yang gak sedikit. Dari kebutuhan primer sampai pemenuhan gaya hidup. Jangankan buat menabung, buat bertahan di akhir bulan aja belum tentu bisa dilakukan dengan tenang.

Padahal upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta adalah yang tertinggi dibandingkan dengan provinsi lain. Tahun 2018 ini, besaran UMP DKI Jakarta mencapai Rp 3.648.035.  Meski angka ini mengalami kenaikan sebesar 8,71 persen dibandingkan UMP tahun lalu, tetap aja banyak yang merasa hidup di Jakarta bikin susah kaya.

Tapi, benar gak sih begitu faktanya? Buat memastikannya, mari kita coba telusuri kebutuhan-kebutuhan di Jakarta yang ‘mengancam’ keselamatan dompet.

1. Tempat tinggal

hidup di jakarta
(Image: koskosanjakartaselatan)

Bagi para perantau, ada beberapa alternatif tempat tinggal yang bisa dipilih. Dari kos-kosan, apartemen, hingga kontrakan. Buat karyawan baru yang gajinya masih sekitaran UMP, kos-kosan adalah pilihan yang paling aman.

Meski begitu ketiga jenis tempat tinggal ini punya harga yang sangat beragam, tergantung lokasi dan fasilitas yang ditawarkan. Semakin dekat dengan pusat kota, semakin tinggi pula harganya. Sama halnya dengan faktor fasilitas. Semakin lengkap tentu jadi makin mahal.

Untuk harga kos-kosan di Jakarta berkisar antara Rp 650 ribu-3 jutaan. Misalnya, di daerah Jakarta Pusat, kamu masih bisa menemukan kosan seharga Rp 650 ribu, berupa kamar berukuran 3×4 dengan kamar mandi di luar. Sementara untuk apartemen (furnished dan non furnished) berkisar antara Rp 2-6 juta per bulan.

2. Konsumsi

hidup di jakarta
(Image: Idnportal)

Kalau kamu hobi makan di food court/food hall mall dekat kantor, bujet yang kamu butuhkan bisa Rp 30-100 ribu sekali makan. Bagi karyawan kantoran, kamu bisa menghemat biaya makan dengan catering standar seharga Rp15-25 ribu atau beli di warteg terdekat seharga Rp 10-20 ribu.

3. Biaya transportasi

hidup di jakarta
(Image: techno.id)

Biaya transportasi bisa berbeda-beda antar individu. Hal ini tergantung seberapa jauh lokasi kantor dengan tempat tinggalmu. Sebagai perkiraan, berikut biaya yang diperlukan jika menggunakan transportasi umum di Jakarta:

  • Bus Transjakarta : Rp 3.500 x 22 (hari kerja) x 2 (pulang pergi) = Rp 154.000 per bulan
  • Commuter line : Rp 5.000 (tarif maksimum) x 22 (hari kerja) x 2 (pulang pergi) = Rp 220.000 per bulan

Biaya ini belum termasuk biaya transportasi online dengan rata-rata Rp 8.000 per km.

4. Biaya lain-lain

hidup di jakarta
(Image: okezone)

Biasanya biaya lain-lain nih yang paling gede. Terutama biaya hiburan dan keperluan tersier lainnya, kayak nonton di bioskop, nongkrong di coffee shop, jalan-jalan ke mall, dan lainnya. Biaya ini bisa membengkak karena Jakarta punya banyak fasilitas hiburan yang mudah dijangkau. Jadi, kalau gak bisa mengendalikan diri, siap-siap aja melarat sebelum akhir bulan.

Sebagai perkiraan, jika dalam satu bulan kamu nonton di bioskop 1-2 kali, berarti minimal bujet yang kamu butuhkan Rp 100-150 ribu. Nongkrong di kafe/mall 1-2 kali, bujet yang diperlukan sebesar Rp 200-250 ribu. Jadi biaya hiburanmu dalam sebulan kurang lebih Rp 300-400 ribu. Belum termasuk biaya transportasi pulang pergi ke kafe/mall tersebut.

Biar lebih jelas, mari kita buat estimasi biaya yang perlu dikeluarkan karyawan yang hidup di Jakarta.

Contoh kasus

Rani (25 tahun), karyawan di perusahaan media di daerah Sudirman, Jakarta Selatan. Ia ngekos di daerah Setiabudi dengan harga sewa Rp 1.5 juta per bulan. Tiap hari Rani menggunakan jasa transportasi online buat ke kantor dengan tarif Rp 10-15 ribu. Biar hemat, untuk makan, ia menggunakan jasa katering seharga Rp 20 ribu/hari.

Dalam satu bulan, seenggaknya Rani pergi nonton 1 kali, jajan di mall 2 kali, ngopi-ngopi cantik 3-4 kali. Oh yah, jangan lupakan Rani juga butuh pulsa buat sekadar ngabarin pacar dan pesan ojek online.

Kira-kira segini pengeluaran Rani dalam sebulan:

  1. Tempat tinggal : Rp 1,5 juta
  2. Konsumsi 3x sehari : Rp 20 ribu x 3 x 30 hari = 1,8 juta
  3. Transportasi : Rp 10 ribu x 2 x 22 hari kerja = Rp 440 ribu
  4. Estimasi biaya hiburan : Rp 50 ribu (1 x nonton) + Rp 250 ribu (2 x ngemall) + Rp 160 ribu

 (3 x ngopi cantik) + Rp 150 ribu (pulsa) = Rp 610 ribu

Total: Rani butuh setidaknya Rp 4,35 juta per bulan.

Jumlah ini belum termasuk dana tabungan dan kebutuhan darurat lainnya.

Gimana menurutmu biaya hidup di Jakarta? Nominal ini terbilang cukup besar gak?

Jika dibandingkan dengan UMP DKI Jakarta, tetap lebih besar pasak daripada tiang. Meski begitu, pengeluaran ini tetap bisa dibikin lebih hemat lagi kok.

Jika kosan di daerah Jakarta cukup mahal, kamu bisa beralih ke daerah sekitaran Jakarta kayak Depok. Kekurangannya walau kamu bisa menggunakan commuter line dengan biaya lebih irit, waktu yang kamu butuhkan di perjalanan akan jadi lebih lama.

Selain itu, jika menurutmu biaya konsumsi terlalu mahal, kamu bisa pangkas bujet sampai 50 persen dengan memasak makananmu sendiri. Selain itu, dana hiburan juga bisa kamu kendalikan sendiri. Kalau gak punya bujet memadai, gak perlu ngopi cantik terlalu sering.

Nah, kamu yang udah lama jadi perantau di Jakarta atau justru warga asli Jakarta, coba share biaya hidupmu dalam sebulan di kolom komentar dong. Menurutmu biaya hidup di Jakarta mahal gak?