Hindari Terpapar Ilusi Bunga Kredit

Mungkin sebagian orang sudah akrab dengan fasilitas kredit tanpa agunan (KTA). Jenis utang ini dianggap sebagai jalan keluar mendapatkan dana tunai dalam waktu singkat. Entah untuk belanja konsumsi atau belanja usaha. KTA dipilih karena dinilai tak ribet, tak perlu punya aset demi mengajukan pinjaman, dan prosesnya pun cukup cepat.

 

Sifat konsumerisme masyarakat turut menopang popularitas KTA. Di saat bersamaan, bank pun tak kalah getol dan aktif menjajakan KTA. Promosi dan iklan penawaran KTA membanjiri ruang publik. Tapi ruang pemasaran KTA mulai dibatasi setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatur promosi jasa keuangan ini via pesan singkat di ponsel.

 

Tentunya sebelum mengajukan KTA, ada baiknya punya pengetahuan yang memadai dulu apa dan bagaimana KTA itu. Nah, dalam dunia perutangan, KTA masuk kategori unsecured debt alias utang yang tak ada jaminannya. Bank dalam posisi yang penuh risiko mencairkan utang jenis ini karena kreditor tak mengagunkan asetnya yang berharga. Jika ada masalah dalam utang ini, maka bank siap-siap menanggung kerugian yang besar.

 

Lalu kenapa bank tetap gencar menawarkan KTA? Apalagi kalau bukan soal keuntungan. Yup, dalam dunia investasi selalu berlaku aturan main ‘risiko selalu sebanding dengan prospek keuntungan’. Artinya, bank lebih memilih mengambil risiko itu demi mendapatkan keuntungan yang besar.

 

Sumber keuntungan itu tak lain adalah pengenaan bunga KTA. Dengan argumen risiko bank yang besar dalam pemberian utangan jenis KTA ini, maka menjadi wajar jika bunga yang dikenakan lebih besar. Siapapun yang mengambil KTA harus bersiap mengembalikan utangnya lebih mahal lantaran si pemberi utang (bank) dalam risiko tinggi.

 

Meski pengenaan bunga terbilang tinggi, tapi sebagian orang tetap tertarik mengambil KTA. Ada yang beralasan lebih praktis dan tak berbelit-belit, tak butuh waktu lama langsung cair, dan bebas menentukan jangka waktu cicilan.

 

Sayangnya, ada yang beralasan pinjam uang lewat mekanisme KTA lebih enak karena beban bunganya flat. Justru ini yang mesti diluruskan. Anggapan itu bisa jadi muncul karena belum mengetahui cara kerja bunga flat.

 

Penyebutan iming-iming bunga KTA hanya 2 persen atau 1,6 persen, dan lain sebagainya, terkesan memang ringan. Faktanya tidak demikian. Iming bunga rendah itu bisa menimbulkan ilusi bunga flat karena seolah-olah bunga yang dibebankan tidaklah tinggi.

 

Sistem bunga flat itu maksudnya beban bunga dihitung dari pokok utang. Jadi meskipun cicilan utang sudah dibayar, tapi bunganya tetap dikenakan berdasarkan nilai awal utang. Beda dengan bunga efektif yang perhitungannya dari sisa utang yang belum terbayarkan.