Hindari Mengambil 5 Keputusan Ini Terlalu Cepat Saat Usia Masih Produktif

Kalau di teve ada sinetron Yang Muda Yang Bercinta, kali ini dimodif dikit jadi Yang Muda Yang Produktif. Sengaja pakai pembukaan itu biar langsung tahu kalau maksud tulisan ini ditujukan kepada kalian yang masih unyu-unyu.

Embel-embel unyu-unyu biasanya nempel yang baru aja lewat rayain ultah ke-20. Usia di mana menjadi penentu hidup mati di masa depan. Bukan maksud lebay tapi usia yang dinilai sudah dewasa untuk mengambil keputusan dan pilihan penting, utamanya menentukan arah kehidupan keuangan dan pekerjaan.

Masalahnya, enggak begitu banyak yang sadar sama persoalan ini. Sebagian masih santai-santai aja. Alibinya, anak muda itu wajar kalau salah keputusan mengingat jam terbangnya masih rendah.

Mau sampai kapan pakai alibi begitu? Time is running out. Masa produktif ada batasnya. Umur ada batasnya. Paling banter masa produktif itu mentok 55 tahun.

Jangan dilupakan pula, makin bertambah umur seseorang maka pengeluaran makin tinggi. Monggo dijembrengin deh beda kebutuhan mereka yang masih muda sama yang udah berumur.

Jika dari sekarang masih santai-santai saja sama urusan keuangan, siap-siap saja bermasalah di masa depannya. Mungkin setahun sampai lima tahun enggak begitu berasa. Bagaimana saat mau masuk purnabakti?

usia masih produktif
Wah si kakek semangatnya luar biasa ya (Lansia / Klimg)

Mumpung umur masih produktif, buruan beresin urusan keuangan sejak dini. Kesadaran ini penting biar terhindar dari masalah keuangan yang bakal mengancam masa depan.

Biar enggak kejadian, yuk bahas bareng-bareng apa saja keputusan yang mesti dihindari saat masih punya penghasilan.

1. Hindari Habiskan duit demi gadget atau barang branded

iPhone 7 udah dirilis. Eh dalam waktu berdekatan giliran Google kenalkan smartphone barunya yang disebut Pixel. Pas ada iPhone 7 dan Pixel, berasa banget ponsel yang di tangan jadi barang kuno. Enggak update.

Padahal fungsinya tetap sama. Sama-sama sebagai alat komunikasi. Sayangnya, otak punya pendapat lain. Jadinya, bela-belain beli yang pada akhirnya menguras isi rekening. Enggak murah tuh barang!

Kebiasaan yang gagal nahan godaan iman ini yang bisa merusak masa tua. Ingat dong, orang sukses itu selalu berprinsip menjaga denyut finansial dengan berhati-hati dalam setiap pengeluaran.

Masa produktif itu sebaiknya fokus untuk menahan semua godaan konsumtif. Mereka yang sukses di masa depan biasanya punya cerita kalau dulunya sering makan di warteg, kemana-mana naik transportasi umum, dan lain-lain.

usia masih produktif
Paling mantap makan di warteg, murmer bro! (Warteg / Cloudfront)

Di masa depan, semua itu jadi kisah dan cerita yang manis untuk dibagi ke orang lain.

2. Hindai apply kartu kredit terlalu dini

Sejak kapan kartu kredit jadi ukuran kekerenan seseorang? Hindari dulu bangun asumsi beginian. Gaji belum seberapa udah buru-buru cari agen kartu kredit.

Kartu kredit buruk gitu? Sebentar. Bukan maksud punya kartu kredit selalu identik dengan masalah. Yang jadi catatan di sini, anak muda darahnya masih panas. Sering suka kalap gitu ketika terima gaji bulanan.

Hawanya pengen belanja teruuuuus. Apalagi yang wanita. Liat tas kepengen. Lirik gaun, pengen dibawa pulang. Lebih parah lagi bagi yang punya sifat impulsive buyer.

Ketika belum bisa mengontrol sifat konsumtif, kartu kredit bisa jadi masalah serius. Iming-iming diskon atau promo dari kartu kredit bisa membuat kalap. Sistem kartu kredit yang ‘menalangi’ pengeluaran dulu bisa melenakan lho!

3. Hindari ambil kredit mobil plus pinjaman ini itu

Pengen buru-buru punya mobil karena jadi ukuran kesuksesan. Sebentar, jangan terlalu cepat mengiyakan pendapat itu. Yakin saatnya beli mobil sekarang?

usia masih produktif
Punya mobil emang keren, tapi lihat kantong juga ya bro! (Kredit Mobil / Beritagar)

Jujur deh kalau mobil tuh sebenarnya belum menjadi kebutuhan yang mendesak. Masih mampu naik transportasi umum kan? Tapi kalau ngebet punya, kalkulasi dulu semuanya. Pastikan cicilan mobil itu enggak bikin goyang arus kas keuangan.

Keuangan bisa dalam bahaya nih kalau ternyata ada utang lain yang mesti dilunasi. Jelas bahaya jika cicilan mobil menambah beban utang di atas batas toleransi 30 persen dari penghasilan.

4. Hindari pikiran kerja sekadar buat penuhi kebutuhan

Kerja tuh menguras umur. Lihat deh. Hampir separuh waktu dalam sehari dihabiskan buat kerja. Belum lagi waktu di jalan antara kantor ke rumah. Masih rela kerja keras yang dilakoni hasilnya dihabiskan hanya untuk memenuhi kebutuhan?

Tentu enggak dong. Enggak selamanya roda selalu di atas. Kadang tergelincir ke bawah. Sadarilah sejak awal. Itulah mengapa perlu merencanakan investasi.

Pikirkan strategi investasi yang tepat sebagai jaga-jaga bila ada ‘sesuatu’ yang menyakitkan di masa depan. Mempersenjatai diri dengan investasi adalah jalan terbaik untuk menghadapi ketidakpastian di masa depan.

5. Hindari nikahi anak orang tanpa dukungan finansial yang mumpuni

Setuju bila nikah muda itu keren. Hanya segelintir yang berani melakukannya. Tapi perlu diingat, menikah itu bukan hanya ritual ucap ijab kabul. Justru menikah yang sesungguhnya itu setelah selesai di pajang di pelaminan!

usia masih produktif
Saya terim nikah dan kawinnya, sah bro! (Pernikahan / Aribicara)

Jangan salah sangka dulu kalau syarat menikah itu mesti mapan. Bukan itu, tapi pertimbangkan dulu kondisi finansial sudah mumpuni untuk ngidupin anak orang. Mapan dan mumpuni jelas beda.

Maksud dari kondisi finansial yang mumpuni ini adalah bisa mengatasi semua pengeluaran seperti cicilan KPR, uang sekolah anak, dan lain-lain.

Setidaknya lima hal itu dulu yang perlu dihindari ketika masih dalam usia produktif. Usia produktif adalah usia di mana seseorang lagi jaya-jayanya.

Sekaligus pula kesempatan emas meraih cita-cita. Semua tujuan bisa berantakan gara-gara melakukan kesalahan finansial. Sadari sejak awal agar masa depan enggak direcoki dengan masalah yang sebenarnya bisa dihindari sebelumnya.

 

 

Yang terkait artikel ini:

Yang Berumur 20-an, Jangan Abikan 10 Nasihat Joss Ini

Enggak Usah Takut Ambil Cicilan KPR Meski Umur Baru Kepala Dua

6 Hal Pemicu Rusaknya Karir di Kantor