Hidup Sederhana, Inilah 4 Pejabat Indonesia Paling Dirindukan

Siapa pejabat Indonesia yang menurutmu bisa jadi teladan?

Kalau pertanyaan ini gak bisa kamu jawab artinya bisa dua hal. Pertama, kamu memang gak kenal-kenal banget sama jajaran pejabat negara ini. Kedua, jangan-jangan memang sulit menemukan pejabat kita yang bisa dijadikan panutan.

Mana yang paling memungkinkan?

Pejabat Indonesia identik dengan kehidupan kaya raya bergelimang harta. Tinggal di rumah mewah, punya mobil dan barang-barang lain yang harganya selangit. Ditambah maraknya kasus korupsi yang terjadi di kalangan pejabat Indonesia, citra positif makin sulit dilekatkan.

Tapi, tahu gak sih, ternyata Indonesia pernah punya pejabat yang justru terkenal dengan kesederhanaannya. Sosok para pejabat inilah yang paling dirindukan masyarakat Indonesia. Penasaran siapa mereka? Berikut ulasannya.

1. Mohammad Natsir

pejabat Indonesia
(Image: Republika)

Mohammad Natsir pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan pada tahun 1946 dan menjadi Perdana Menteri pada tahun 1950. Meski menduduki posisi tinggi dalam pemerintahan, ia terkenal sebagai sosok yang amat sederhana.

Ia hanya memiliki dua kemeja yang kusam dan penuh tambalan. Meski menjadi Menteri Penerangan, Natsir dan keluarganya tinggal menumpang di rumah sahabatnya, Prawoto Mangkusasmito. Ia baru pindah saat pemerintah menyediakan rumah untuknya.

Namun, mendapatkan rumah lengkap dengan fasilitasnya gak mengubah kesederhanaan Natsir dan keluarga. Meski diberikan jasa asisten rumah tangga, istrinya tetap aja belanja sendiri ke pasar.

Saat Natsir mengundurkan diri, pemerintah memberinya dana taktis yang cukup besar. Bukannya menerima, ia justru menyerahkan semuanya pada koperasi karyawan. Ia juga menolak pemberian mobil Chevrolet Impala dan memilih tetap menggunakan mobil De Soto tua miliknya.

2. Mohammad Hatta

pejabat indonesia
(image: antahlae.blogspot)

Sang proklamator ini terkenal dengan sikap jujur dan gaya hidup yang bersahaja. Pernah dengar kisah Bung Hatta dan sepatu Bally? Kisah ini jadi bukti bahwa Bung Hatta jauh banget dari kehidupan yang bergelimang harta.

Kisah sepatu Bally bermula saat Hatta pergi ke luar negeri. Di sebuah toko, ia terpikat pada sepatu Bally. Sayang, uangnya gak cukup kala itu. Sepatu Bally memang terkenal sebagai merek ternama yang mahal pada masa itu.

Gak mampu membeli, Bung Hatta gak berhenti berharap. Dia menggunting iklan sepatu Bally dari sebuah koran dan menyimpan potongan koran tersebut. Dengan harapan, suatu saat nanti ia mampu membelinya.

Sayangnya, hingga akhir hayatnya, ia gak pernah punya cukup tabungan untuk membeli sepatu idamannya itu.

3. KH Agus Salim

pejabat Indonesia
(Image: biografiku)

Beliau adalah Menteri Luar Negeri pertama RI. Ia berjuang untuk RI bukan dengan senjata melainkan kecerdasannya dalam berdiplomasi. Sejak muda, ia telah menguasai beberapa bahasa asing seperti Arab, Belanda, Inggris, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman. Kepiawaian Agus Salim membuat Belanda memintanya menjadi penerjemah pada Konsulat Belanda di Jeddah dari 1906 hingga 1911.

Dengan kemampuan tersebut, bukan hal sulit baginya untuk memiliki hunian mewah. Namun, ia justru memilih hidup secara ‘nomaden’, pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.

Tiap ruang dalam kontrakannya pun hanya berdinding triplek. Saat memiliki uang berlebih, ia akan menyewa kontrakan lebih besar agar muat untuk ia huni bersama istri dan ketujuh anaknya.

Perjuangan Agus Salim diangkat dalam film Moonrise Over Egypt Maret lalu. Udah nonton belum?

4. Hoegeng Iman Santoso

pejabat indonesia
(Image: tribunnews)

Hoegeng adalah polisi yang dikenal dengan kejujuran dan kesederhanaannya. Jenderal yang juga mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) ke-5 ini hidupnya pas-pasan dan  baru punya rumah saat masa pensiun. Mobilnya pun merupakan hadiah dari para Kapolda yang patungan untuk membelinya.

Hoegeng tercatat gak mempan suap dan tekanan pemerintah. Ia pernah diberhentikan dari jabatannya karena mencoba menguak kasus-kasus yang melibatkan “orang-orang besar”. Setelah berhenti, hidupnya yang udah pas-pasan jadi semakin sulit.

Namun ia justru dinasehati ibunya untuk tetap jujur dan tak perlu khawatir. Pesannya sederhana: “Kita masih bisa makan nasi dengan garam.”

Gak salah kalau almarhum Gusdur pernah mengatakan, “Hanya ada 3 polisi yang jujur di Indonesia ini, yaitu polisi tidur, patung polisi dan Hoegeng.”

Kisah Hoegeng telah dituangkan dalam buku berjudul “Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan”. Kabarnya, banyak yang sampai menangis saat membaca buku ini, lho.

 

Alangkah indahnya kalau Indonesia kembali memiliki pejabat-pejabat berhati murni kayak para pejabat di atas yah. Kesederhanaan mereka bukan hanya perlu ditiru para pejabat masa kini, tapi juga oleh kita sebagai masyarakat Indonesia. Sepakat?

Ngomong-ngomong, kamu yakin gak kelak bakal ada lagi pejabat Indonesia yang seperti mereka?