Hei Orangtua, Ini Efek Domino Batalnya Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 sementara ini berstatus ‘almarhum’.  Mendikbud Anies Baswedan sudah memutuskan sekolah-sekolah mengadopasi lagi Kurikulum 2006 atau sebutannya KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

 

Kebijakan mantan Rektor Universitas Paramadina ini sepertinya makin menguatkan ungkapan sinis sebagian pihak,”tiap ganti menteri, ganti kurikulum.” Masalahnya, kebijakan sang menteri ini bakal berdampak luas. Mulai dari anak didik, guru, dan tentunya orangtua.

 

Bagi guru, dampak kembalinya KTSP adalah mengubah lagi orientasi pengajaran – karena selama satu semester sudah menerapkan Kurikulum 2013. Akhirnya, guru-guru mesti menyesuaikan lagi metode pengajaran yang secara teknis sesuai dengan KTSP.

 

Terus yang bikin was-was guru adalah sistem evaluasi. Bagaimana evaluasi terhadap anak didik untuk kenaikan kelas di mana semester pertama pakai Kurikulum 2013 dan semester berikutnya KTSP. Jelas menjawabnya pertanyaan ini cukup rumit mengingat rapor di Kurikulum 2013 menekankan aspek narasi sementara KTSP bentuknya penilaian angka.

 

Lalu bagaimana dengan orangtua? Penghentian Kurikulum 2013 langsung menimbulkan rentetan efek bertubi-tubi kepada orangtua. Mereka tak menyangka masa berlaku Kurikulum 2013 begitu singkat. Kurikulum yang digagas di era Mendikbud M Nuh itu baru saja diterapkan pada Juli lalu dan kini tak berlaku lagi.

 

Kontan saja, orangtua lagi-lagi disibukkan dengan urusan satu ini. Wajar dong cemas mengingat ini berkaitan dengan masa depan sang buah hati. Ada pula yang kesal dengan kebijakan pemerintah tersebut lantaran si anak jadi korban kelinci percobaan dari kurikulum.

 

Ganti kurikulum = ganti buku pelajaran

 

Dampak paling mencolok karena perbedaan antara KTSP dan Kurikulum 2013 ada di buku pelajaran. Konkretnya, pemerintah menalangi pengadaan buku pelajaran dalam Kurikulum 2013 sehingga siswa tak perlu mengeluarkan uang. Sedangkan, KTSP memaksa orangtua untuk mencari (membeli) sendiri buku-buku pelajaran anaknya.  Beda sama Kurikulum 2013 di mana bahan pelajarannya tinggal download di internet.

 

Budget yang mesti disiapkan sangat tergantung dengan jumlah mata pelajaran di sekolah.  Harga buku pelajaran dalam KTSP di kisaran Rp 50 ribu. Artinya, jika ada sepuluh mata pelajaran maka mesti disiapkan budget Rp 500 ribu hanya untuk buku saja.

 

Masalah bukan di budget saja, tapi usaha mencari buku-buku pelajaran KTSP terbilang susah. Ya jelas susah karena langka di pasaran mengingat setahun terakhir hampir semua percetakan buku fokus mencetak buku-buku Kurikulum 2013.  Bisa jadi kita mesti meluangkan waktu berburu buku-buku pelajaran ini ke kawasan Senen atau pun Kwitang di Jakarta Pusat.

Seragam sekolah

 

Kebingungan lainnya yang dialami orangtua adalah persoalan seragam sekolah. Apakah seragam sekolah yang diamanatkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 45 Tahun 2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, ikutan berubah?

 

Maklumlah, peraturan itu membuat seragam sekolah anak didik mewajibkan bendera merah putih di dada kiri atas saku. Kehadiran bendera nasional di baju seragam siswa dimaksudkan untuk memperkuat rasa nasionalisme dan semangat persatuan kesatuan. Lalu ketika balik lagi ke KTSP, bagaimana nasib seragam ini? Belum ada kebijakan pasti dari Kemendikbud apakah dengan kembalinya ke KSTP juga menjadikan seragam kembali seperti semula.

 

Sia-sia belikan gadget/laptop

 

Selain itu, orangtua juga mesti mengelus dada perlengkapan elektronik seperti gadget atau laptop untuk menunjang pelajaran di Kuriukulum 2013 juga tak berfungsi maksimal. Maklumlah, siswa didik sangat dianjurkan untuk melengkapi diri dengan gadget atau laptop dalam pembelajaran. Pasalnya, Kurikulum 2013 punya misi mengajak siswa lebih aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM).

 

Pengertian siswa aktif di sini adalah siswa dirangsang untuk lebih banyak mencari ilmu pengetahuan secara mandiri terlebih dulu. Inilah yang menjadi alasan kenapa siswa Kurikulum 2013 lebih banyak pulang membawa tugas-tugas sekolah. Dalam mencari informasi itu, siswa dapat menghimpunnya lewat laptop yang terhubung internet.

Ya, itulah risikonya jadi orangtua. Perubahan kebijakan pemerintah yang menyangkut pendidikan pasti langsung berdampak serius. Meski begitu, sebaiknya tetap ambil positifnya. Aktivitas belajar anak pada KTSP tak sepadat Kurikulum 2013. Selain itu, fungsi dasar utama belajar di sekolah itu selain pendidikan adalah,” BELAJAR BERGAUL.”

 

Di saat bersamaan, penentangan pada Kurikulum 2013 itu bukan pada kontennya, tapi soal kesiapan infrastruktur dan guru-gurunya. Maklumlah, Kurikulum 2013 mensyaratkan pengadaan perlengkapan teknologi informasi seperti komputer dan koneksi internet.

 

Di sisi lain, guru-guru juga mesti mendapatkan waktu yang cukup longgar untuk menerapkan Kurikulum 2013. Pasalnya, di kurikulum tersebut, peran guru hanya sebatas mediator dan siswa yang aktif mencari sumber-sumber pengetahuan.