Hei Calon Investor dan Pemula, Ayo Belajar Investasi Reksa Dana Saham Biar Gak Malah Buntung

 Artikel Ini adalah Hasil Kerjasama DuitPintar.com dan Mitra Perencana Keuangan Kami,Finansialku.com

logo finansialku

 

Sebelum menjajal dunia investasi, kita wajib tahu dulu bidang investasi yang akan diselami. Kalau gak ada perhitungan matang tahu-tahu tanam duit di sana-sini, bisa-bisa celaka tiga belas alias bangkrut.

 

Saran ini juga berlaku buat calon investor reksa dana saham. Soalnya, dibanding jenis reksa dana lain, investasi reksa dana saham lebih tinggi risikonya. Itu sebabnya reksa dana ini direkomendasikan buat mereka yang mau berinvestasi jangka panjang (di atas 5 tahun).

 

Menurut Otoritas Jasa Keuangan, reksa dana saham adalah jenis reksa dana yang duit investasinya ditanamkan pada saham-saham yang terdaftar di Bursa Efek.

 

Lantaran risikonya tinggi, return alias imbal hasilnya pun tinggi. Ketimbang reksa dana lain, imbal hasil reksa dana saham adalah yang paling besar.

 

Banyak yang bilang reksa dana saham lebih pas buat calon investor yang sudah melek betul dengan yang namanya dunia investasi. Jenis investasi ini disebut kelasnya master. Padahal gak begitu juga.

 

Memang sih, ketika memutuskan memilih reksa dana saham. Itu artinya kita sedikit-banyak bisa memprediksi perekonomian negara dan perusahaan-perusahaan pada masa mendatang.

 

Sebab perekonomian itu menentukan harga saham perusahaan yang ditawarkan di Bursa Efek. Sedangkan harga saham tersebut berpengaruh terhadap hasil investasi kita.

 

Beli saham saat harganya turun, lalu jual ketika harganya naik. Simpel kan cara kerja investasi reksa dana saham?

 

 

Rumus investasi reksa dana saham simpel, yaitu membeli saham saat harganya turun dan menjualnya ketika harganya naik. Jadi kalau harga saham suatu perusahaan turun terus, kita gak akan untung-untung.

 

Tapi gak perlu sampai kuliah ekonomi buat berinvestasi reksa dana saham. Di kalangan investor, reksa dana termasuk jenis investasi yang ramah buat pemula.

 

Bahkan dengan modal Rp 100 ribu orang juga sudah bisa jadi investor reksa dana, meski bukan langsung di reksa dana saham. [Baca: 8 Tempat Beli Reksa Dana 100 Ribu Rupiah yang Bisa Jadi Investasi Pertama]

 

Toh, kita akan dibantu manajer investasi jika berinvestasi reksa dana. Biarpun namanya “manajer”, yang namanya manajer investasi malah kayak “karyawan” buat investor reksa dana.

 

Sebab manajer investasi bertugas mengelola dana investasi yang kita tanam agar kita mendapat hasil yang optimal. Kita bisa memilih manajer investasi sesuai keinginan kita sendiri.

 

Kalau merasa kinerja manajer investasi itu kurang bagus, kita bisa “memecat” alias mencari manajer investasi lainnya. [Baca: 6 Cara Memilih Manajer Investasi Buat yang Mau Terjun ke Reksa Dana]

 

Namun belajar investasi reksa dana saham sebelum memulainya gak ada salahnya, bahkan sangat disarankan. Tujuan utamanya tentu saja biar kita bisa memaksimalkan keuntungan. Soalnya walau kita berinvestasi 10 tahun pun ga ada garansi pasti bakal untung.

 

Reksa dana saham direkomendasikan buat mereka yang mau berinvestasi jangka panjang. Pasalnya, pergerakan harga saham cenderung fluktuatif alias bisa naik-turun dengan cepat kayak alis playboy yang lagi menggoda cewek.

Lewat investasi jangka panjang, risiko dari pergerakan itu bisa diminimalkan. Inilah kenapa jangka waktunya biasanya di atas lima tahun.

 

Dengan mengetahui seluk-beluk reksa dana saham, kita bisa lebih yakin mau menaruh duit di saham perusahaan mana yang sekiranya bakal memiliki performa bisnis yang bagus. Syukur-syukur nantinya kita bisa langsung terjun sendiri ke Bursa Efek untuk bermain saham tanpa melalui manajer investasi.

 

Belajar Investasi Reksa Dana Saham

Yok, yang rencana nikah dalam 5 tahun ke depan, belajar investasi reksa dana saham sekarang, yook

 

 

Reksa dana lumayan gampang dipahami buat pemula. Ibu rumah tangga yang sebelumnya gak punya pengalaman dan pingin bergerak di bidang investasi, reksa dana juga sering jadi pilihan. [Baca: Belajar Investasi Reksa Dana Sebagai Pilihan Mendulang Uang Lebih]

 

Untuk terjun ke investasi reksa dana saham, setidaknya ada 3 hal pertama yang bisa kita lakukan:

 

  1. Membaca, memahami, dan membandingkan prospektus* reksa dana yang kita anggap menarik
  2. Memperhatikan kinerja reksa dana itu pada periode tahun sebelumnya, apakah konsisten dan selalu di atas kinerja indeks pasar**
  3. Memahami prediksi perekonomian ke depan

 

* prospektus adalah dokumen yang mencantumkan informasi tentang rencana pengembangan perusahaan, contohnya penawaran penjualan saham.
** indeks pasar adalah daftar harga saham yang berisi indikator pergerakan harga saham perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek dari hari ke hari.

 

Seperti disebutkan sebelumnya, rumus investasi reksa dana saham cukup sederhana. Kita setidaknya juga harus tahu simulasi hasil investasi dari reksa dana ini sebelum menanam duit di situ.

 

Misalnya kita beli  saham PT CBSA 2.000 lembar dengan harga Rp 1.000 per lembar. Sebulan berikutnya, kebetulan harga saham perusahaan itu naik jadi Rp 1.200 per lembar dan kita mau menjualnya. Simulasinya:

 

Dana investasi: Rp 1.000 x 2.000 lembar= Rp 2.000.000

Harga jual: Rp 1.200 x 2.000 lembar= Rp 2.400.000

Keuntungan= Rp 400.000

 

Tapi keuntungan itu belum termasuk potongan, ya.  Potongan atau biaya dalam reksa dana yang dibebankan ke investor  juga wajib diketahui, yakni:

  1. Biaya pembelian unit penyertaan (subscription fee)
  2. Biaya penjualan kembali unit penyertaan (redemption fee)
  3. Biaya pengalihan unit penyertaan (switching fee)

 

Namun ingat, seperti disebutkan di atas, investasi reksa dana saham bersifat jangka panjang. Simulasi di atas hanya contoh. Bisa saja sebulan berikutnya atau malah keesokan harinya harga saham itu stagnan alias gak naik/turun, atau malah turun drastis.

 

Karena harga saham yang bisa naik-turun dengan cepat inilah reksa dana saham direkomendasikan buat yang mau investasi jangka panjang. Gunanya, menghindari risiko kerugian besar.

 

Umpamanya harga saham yang dibeli hari ini turun, kita gak perlu menjualnya sekarang. Kita bisa menunggu sampai harga saham itu merangkak naik, baru kemudian menjualnya.

 

Turun-naiknya harga saham suatu perusahaan dipengaruhi performa bisnis perusahaan itu serta kondisi terkini negara. Kalau negara sedang dirundung perang kayak di Suriah, ya harga saham di perusahaan negara itu bakal anjlok karena kondisinya gak menentu.

 

Tapi, sebagai investor reksa dana saham, kita bisa kapan saja mengambil dana investasi kita. Inilah salah satu kelebihan reksa dana, yaitu hasil investasi bisa diambil sewaktu-waktu.

 

Jadi kalau melihat keuntungan sudah cukup untuk memenuhi tujuan investasi, bisa saja kita hubungi manajer investasi untuk memanen dana itu. Gak perlu tunggu sampai 5 tahun kemudian.

 

Investasi reksa dana saham gak hanya bisa dilakukan master investor. Ingat, master pun dulu pernah jadi investor pemula, gak ujuk-ujuk ceprot jadi pakar investasi. 

 

Itulah beberapa hal dasar yang bisa dipelajari sebelum berinvestasi reksa dana saham. Mau beli reksa dana di bank atau langsung ke manajer investasi, terserah kita lebih nyaman yang mana. Yang penting, pahami dulu soal reksa dana sebelum terjun biar dapat untung, bukan malah buntung.

 

[Baca: Investasi Reksa Dana Lewat Bank Bisa Kok]

 

 

 

Image credit:

  • http://images.solopos.com/2013/02/saham-dwi-prasetya.jpg
  • http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/files/2010/09/Reksadana-dan-Reksa-Dana-2.jpg
  • http://sidomi.com/wp-content/uploads/2012/02/Lembar-saham-Facebook_1.jpg