Hati-Hati Buat yang Sering Mutasi Kerja, Ini Dampak Negatifnya Buat Keluarga

Pekerjaan sudah pasti menuntut profesionalisme kita. Salah satunya saat harus dimutasi alias dipindahtugaskan ke luar kota. Buat yang masih berstatus single mungkin gak terlalu masalah. Bahkan mungkin malah senang karena bisa sambil berpetualang dan ngumpulin pengalaman.

Mutasi kerjaan biasanya akan jadi masalah serius buat mereka yang sudah berkeluarga. Misalnya saja keluarga muda dengan satu anak. Emang sih bisa saja karyawan yang dimutasi memboyong keluarganya, namun saat gak memungkinkan, lalu gimana?

Jangka waktu mutasi sendiri beragam, ada yang sebentar, ada juga yang sampai bertahun-tahun. Buat yang sering kena mutasi atau penugasan kerja jauh dari keluarga, simak dulu dampak negatif yang mungkin timbul biar bisa mengantisipasi:

1. Komunikasi terbatas

Bertemu setiap hari dan tinggal satu atap saja gak menjamin alur komunikasi bisa lancar serta sehat, apalagi tinggal berjauhan. Walau zaman sudah serba canggih di mana jarak sudah gak jadi kendala buat berkomunikasi, pasti tetap ada keterbatasan.

sering mutasi kerja
Mas, mas, nyari sinyal hp atau cinta yang hilang? Eyaaaa! (Pria Memegang Gadget / engadget)

Bisa saja pulang kerja sang ayah sudah terlalu lelah lalu ketiduran hingga pagi tiba, akibatnya niat menelepon istri dan buah hati jadi tertunda. Kalaupun bisa berkomunikasi lewat alat komunikasi, durasinya pun gak bisa sepuas saat duduk di meja makan bersama. Belum lagi masalah sinyal dan jaringan kalau daerah mutasi cukup terpencil. Komunikasi pun jadi makin terhambat.

2. Pengeluaran bertambah

Pengeluaran juga pastinya bakal bertambah. Yang pasti buat transportasi karena akan ada bujet buat sesekali pulang bertemu dengan keluarga. Selain itu juga akan ada pengeluaran ekstra untuk kebutuhan sehari-hari di tempat dinas.

Otomatis jadi ada dua pengeluaran: kebutuhan diri sendiri selama bertugas dan kebutuhan keluarga yang ditinggalkan. Komunikasi lewat perantara alat komunikasi juga membutuhkan biaya dong, seperti kuota Internet dan pulsa.

3. Mempengaruhi hubungan dengan anak

Buat keluarga muda dengan anak yang masih sedang dalam masa-masa pertumbuhan emas alias golden moment, ketiadaan salah satu sosok orangtua pasti memberi dampak psikologis. Anak yang masih di bawah umur cenderung sangat membutuhkan figur kedua orangtua.

Karena faktor jarang bertemu, hubungan antara anak dan sosok orangtua yang jauh pasti berbeda dengan mereka yang tinggal seatap dan setiap hari berinteraksi. Anak gak hanya butuh materi semata, tapi juga membutuhkan figur nyata dan interaksi langsung. Mereka butuh momen bermain bersama atau melakukan aktivitas lain dengan kedua orangtua.

4. Kualitas hubungan menurun

sering mutasi kerja
Ayo adu kuat, siapa yang paling duluan lemes habis adu mulut hehehe (Adu Mulut / bmag)

Dibutuhkan komunikasi serta interaksi yang konsisten demi menjaga keharmonisan hubungan dengan setiap anggota keluarga. Sudah banyak contoh keluarga yang berkonflik akibat kurang terjaganya kualitas hubungan antar anggota keluarga.

Nah, dengan berada jauh dari keluarga, kualitas hubungan dengan anggota keluarga sudah pasti bakal mengalami penurunan. Gak ada yang mengingatkan saat ada yang berbuat salah, gak ada yang saling menegur secara langsung.

5. Potensi konflik rumah tangga semakin besar

Balik lagi soal keharmonisan hubungan. Selain hubungan sama anak yang jadi kurang berkualitas, berada jauh dari keluarga juga mungkin banget memicu konflik rumah tangga. Pasangan itu kan harusnya saling melengkapi kekurangan satu sama lain.

Saat berjauhan, bisa saja suami atau istri lupa diri dan merasa bebas. Sebagai contoh, sepulang kerja karena gak ada anggota keluarga yang menunggu, ya main saja bareng rekan-rekan kerja hingga larut malam. Atau mengeluarkan uang secara gak bijak karena gak ada pengawasan dari pasangan.

Hal-hal kayak gini jika sering terjadi bukan gak mungkin menyulut konflik dan ujung-ujungnya setiap telepon malah adu mulut deh.

6. Beban rumah tangga bertambah untuk pasangan yang ditinggal

sering mutasi kerja
Sedih ya mbak meratapi betapa banyak tagihan, hiks! (Duduk di Lantai / bintang)

Saat sudah memutuskan untuk menikah dan membina rumah tangga, setiap masalah dan tugas rumah tangga pastinya harus ditanggung dan diselesaikan bersama. Lalu bagaimana saat harus berjauhan? Ini tentunya menjadi beban tambahan bagi pasangan yang ditinggal.

Misalnya saat tugas kantor banyak tapi anak sedang sakit. Kalau pasangan tinggal serumah, tentunya bisa bergantian merawat anak. Ketika pasangan kerja di luar kota, tentu sepenuhnya ini menjadi tanggung jawab pasangan yang berada di rumah.

Hal-hal negatif di atas tentunya bukan bermaksud untuk menghentikan kita yang sebentar lagi akan mengalami mutasi pekerjaan ya. Jika memang demi tuntutan profesionalisme atau peningkatan karier, silahkan saja ambil kesempatan itu.

Jadikan hal-hal di atas sebagai pertimbangan agar biduk rumah tangga gak terganggu. Diskusikan dengan pasangan dan ambil solusi yang paling pas dengan kondisi keluarga ya. Ingat, jangan ada yang dikorbankan atau terabaikan, apalagi keluarga. Karena keluarga adalah harta yang paling berharga.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Lakukan 5 Langkah Ini Supaya Bisnis Keluarga Bertahan Lama dan Bebas Drama]

[Baca: Jangan Salah Pilih Asuransi yang Tepat Anggota Keluarga]

[Baca: Istri Kerja Buat Bantu Keuangan Keluarga Kok Masih Kurang Aja]