Harga Sembako Naik, Ini Triknya Bikin Bujet Makan Keluarga

Seperti biasa, ibu-ibu mesti siapin strategi lantaran harga sembako alias bahan makanan pokok naik jelang akhir tahun. Beras adalah salah satunya.

Harga gabah yang tinggi turut mendongkrak harga beras hingga hampir 2,5 persen. Komoditas lainnya, antara lain cabai, bawang, telur, hingga ikan.

Semuanya dipengaruhi banyak hal, terutama cuaca. Tahu sendiri dong beberapa minggu belakangan cuaca kian gak menentu. Kadang hujan seharian, besoknya panas mentereng berkepanjangan.

Bahkan beberapa daerah kebanjiran gara-gara siklon tropis di selatan Jawa. Ibu rumah tangga yang kena dampak bencana ini bakal pusing tujuh keliling karena ketambahan masalah harga sembako yang naik.

Menurut informasi dari Detik.com di Pasar Labu, Jakarta, berikut ini daftar bahan makanan yang harganya naik:

– Cabai merah besar Rp 40.000 per kg
– Cabai rawit merah Rp 20.000 per kg
– Cabai rawit hijau Rp 20.000 per kg
– Cabai hijau besar Rp 25.000 per kg
– Cabai merah keriting Rp 40.000 per kg
– Bawang merah Rp 25.000 per kg
– Bawang putih Rp 22.000 per kg
– Kentang Rp 15.000 per kg
– Wortel Rp 15.000 per kg
– Tomat Rp 11.000 per kg
– Jagung Rp 8.000 per kg
– Buncis Rp 15.000 per kg
– Timun Rp 6.000 per kg
– Telur ayam Rp 24.000 per kg
– Ikan kembung Rp 35.000 per kg
– Ikan kakap Rp 80.000 per kg
– Ikan gurame Rp 40.000 per kg
– Ikan bandeng Rp 35.000/kg
– Udang Rp 90.000 – Rp 100.000 per kg

harga sembako
Sawah tenggelam adalah mimpi buruk buat semuanya (harianjogja)

Sudah mulai pening kepalanya? Gak lah ya…. Tenang, kita akan bahas strategi untuk menghadapi harga sembako yang naik jelang akhir tahun tersebut.

Tips Alokasikan Bujet Makan Keluarga

Sebagai ibu rumah tangga, hasrat untuk memasak umumnya lebih tinggi ketimbang beli makanan jadi di luar. Ini bagus sekali dan perlu ditingkatkan.

Jelas, bujet makan bisa jauuuuh lebih hemat dengan masak sendiri ketimbang beli di luar. Namun bukan lantas bujet makan keluarga bakal aman dengan cara itu.

[Baca: Makan di Warteg atau Bekal Makanan dari Rumah, Lebih Murah Mana Ya?]

Terlebih sederet bahan makanan harganya telah naik. Berikut ini tips alokasikan bujet makan keluarga saat harga-harga naik:

1. Rencanakan menu untuk seminggu

Menu masakan setidaknya direncanakan untuk seminggu ke depan agar bisa dikalkulasi bahan apa saja yang perlu dibeli. Artinya, pilih bahan makanan yang bisa tahan lama dan bisa divariasikan dalam seminggu itu.

Misalnya beli kentang, terong, dan jengkol yang sebagian belum terlalu matang. Cukup taruh semuanya di tempat terbuka, dalam satu-dua hari bakal matang dan siap diolah tanpa takut busuk.

Bahan lainnya adalah jamur kering, kubis, wortel, buncis, tomat, timun, kol, dan paprika. Khusus jamur kering, cukup masukkan ke plastik rapat dan masukkan ke lemari.

harga sembako
Belanja di pasar bisa lebih irit karena bisa nawar (kompasiana)

Sedangkan bahan lainnya perlu dimasukkan ke kulkas setelah disimpan di kontainer atau plastik kedap udara. Dengan cara penyimpanan itu, bahan masakan tersebut bisa tahan hingga tujuh hari.

Jika beli bahan itu sekalian, pengeluaran pun bisa dihemat ketimbang tiap hari beli bahan berbeda. Cukup sekali keluar uang, bisa masak banyak jenis makanan dengan bahan yang kurang-lebih sama.

2. Bandingkan harga

Manfaatkan insting mencari harga termurah dengan membandingkan bahan makanan di satu tempat dengan tempat lain. Ini terutama kalau belanja di pasar tradisional ya.

Di satu gerai dengan gerai lainnya, harga bahan makanan yang sama bisa berbeda. Jangan lupa tawar hingga nominal terendah. Bahkan selisih Rp 500 lebih murah bisa dianggap sebagai penghematan.

[Baca: Belanja di Pasar Bakal Makin Untung Kalau Punya 8 Trik Tawar-Menawar Ini]

3. Semua makan di rumah

Dalam mengantisipasi naiknya harga bahan makanan menjelang akhir tahun ini, pastikan semua anggota keluarga makan di rumah. Anak-anak khususnya. Gak perlu kasih uang jajan, bawakan saja bekal sederhana buat mereka.

[Baca: Moms, 6 Bekal Sekolah Anak Ini Bisa Dibikin dengan Bujet Rp 30 Ribu]

Buat sang suami tercinta juga begitu. Bungkuskan bekal buat makan siang plus snack agar lebih ngirit.

Mungkin satu-dua hari bisa makan di luar, tapi tetap patok bujetnya. Misalnya Rp 15 ribu atau Rp 20 ribu, tergantung kondisi keuangan saat itu.

4. Makanan instan tak apa-apa

Sesekali, demi menghadapi situasi naiknya harga sembako, tak apa mengkonsumsi makanan instan. Toh, bisa buat variasi juga. Mi, contohnya, bisa dicampur dengan sayuran. Tapi bukan berarti tiap hari masak mi ya.

Contoh lainnya, makan dengan lauk nugget atau sosis. Pengeluaran bisa jadi lebih dapat ditekan daripada beli bahan makanan komplet. Bisa irit waktu dan tenaga juga kalau pilih makanan instan.

5. Bahan dari halaman

 

harga sembako
Gak perlu lahan berhektare-hektare, bisa tanam pakai media unik (pinterest)

Pengeluaran bisa lebih diirit kalau menanam sendiri bahan masakan di halaman. Yang simpel saja, misalnya cabai, kunyit, hingga selada. Cabai terutama ya.

Harga komoditas ini rentan naik gila-gilaan akibat cuaca buruk. Buat jaga-jaga, sediakan tanaman cabai di rumah agar bisa langsung petik saat butuh.

Gak punya halaman? Kan bisa bertanam secara urban alias memanfaatkan ruang sekecil apa pun. Misalnya dengan membuat pot gantung atau bikin pipa yang dilubangi sebagai media tanam.

Naiknya harga sembako dan bahan makanan jelang akhir tahun sudah kerap terjadi. Semestinya kita bisa belajar agar bisa menyiasati keadaan ini.

Bahkan harga bahan makanan sudah naik pada pertengahan tahun, tepatnya menjelang Lebaran. Ibu-ibu rumah tangga boleh pusing, tapi bukan berarti gak ada cara untuk mengatasinya. Yuk, jadi ibu rumah tangga kreatif dan sadar akan pentingnya rencana keuangan.