Hai Orangtua, Jangan Lakukan Hal-hal Ini Kalau Mau Jadi Teladan Finansial Buat Anak

“Aduuuh pusing deh!” Laila mengurut kening sambil mengeluh di hadapan tetangganya, Siti.

“Eh, jeng Laila kenapa? Sakit kepala? Minum obat dong!” sahut Siti sambil mengupas bawang merah.

“Aduuuh jeng Sitiiii, bukan pusing sakit kepala. Anak semata wayang saya lagi ribut terus minta dibeliin play station!” jelas Laila sambil mengurut pelipisnya. “Gimana gak pusing, duit belanja aja ngepas.”

Tuh, makanya mesti tegas sama anak ya. Orangtua seringkali mewujudkan rasa sayang yang berlebihan dengan cara menuruti semua kemauan anak. Harusnya gak gitu dong. Anak-anak itu seharusnya diarahkan, apalagi soal keuangan.

Coba yuk sebagai orangtua kita evaluasi diri. Jika masih melakukan hal-hal di bawah ini, jangan harap bisa jadi teladan soal finansial buat mereka.

1. Selalu memberi uang saat anak meminta

Orangtua sering gak mau pusing dan susah. Setiap anak meminta uang, langsung dikasih tanpa memberi pengarahan, bahkan gak ditanya untuk apa. Yang penting anak anteng dan gak mengganggu aktivitas orangtua.

jadi teladan finansial
Asyik, papa baik deh, aku minta uang selalu dikasih! (selalu memberi uang / rumah-astri)

Memberi uang sering dianggap orangtua sebagai salah satu bentuk kasih sayang dan perhatian. Padahal bagi anak-anak yang masih usia sekolah, mereka masih belum bisa menggunakan uang secara bijak.

Anak SD contohnya, menggunakan uang untuk beli jajanan yang bisa jadi gak sehat, atau mainan yang sebenarnya berbahaya atau bahkan gak sesuai usia.

Memanjakan anak dengan memberi uang setiap mereka minta akan membuat ini menjadi kebiasaan. Alhasil, mereka pun berpikir bisa minta uang berapa pun, kapan pun, dan untuk apa pun. Kalau diteruskan, bisa jadi anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang bisa menghargai yang namanya duit.

2. Memperlihatkan gaya belanja yang konsumtif di depan anak

Tanpa sadar, orangtua mengabaikan kemampuan anak untuk melihat dan meniru. Ingat kutipan “Children see, children do”. Saat sedang belanja, baik di supermarket atau pusat perbelanjaan, orangtua seringkali asyik beli ini itu. Sementara si anak mengamati perilaku belanja mereka.

Padahal, mereka merekam aktivitas tersebut dengan baik. Akibatnya, mereka menganggap bahwa sah-sah saja membeli apa pun yang diinginkan, tanpa mempertimbangkan apakah hal itu berguna.

Nah, coba dikurangi kebiasaan belanja yang impulsif ini supaya anak pun tidak menirunya. Kalau kamu sering main gesek kartu kredit asal belanja, bukan tidak mungkin nanti anakmu pun akan tumbuh jadi pribadi yang boros saat dewasa.

3. Hobi ngutang

jadi teladan finansial
Demi anak rela ngutang sana-sini sampai pusing sendiri (meminjam uang / job-like)

Yang namanya berutang itu sah-sah saja, asal didukung dengan kebutuhan yang jelas. Yang salah itu kalau berutang dijadikan hobi hanya karena terbawa nafsu belanja atau sekadar memenuhi gaya hidup yang mewah.

Ketika sering pinjam uang atau berutang, apalagi ini dilakukan di depan anak, maka siap-siap saja kalau anakmu menerapkan kebiasaan yang sama. Ini bisa bermula dari pinjam uang ke teman untuk jajan, ngutang ke warung sekolah, sampai akhirnya ketika dewasa sering ngutang ke bank.

Coba terapkan sikap disiplin ke anak untuk urusan yang satu ini. Beri pengertian kepada mereka bahwa utang adalah hal yang tidak baik. Secara tidak langsung, ini juga mengajarkan mereka untuk menahan diri membeli sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuan.

4. Memanjakan dengan hadiah

Sayang sama anak itu bukan berarti memanjakan anak dengan limpahan materi semata. Jangan beranggapan kalau dengan sering memberi hadiah adalah tanda orangtua yang baik.

Ketika anak berulang tahun atau mendapatkan ranking pertama di kelas, mungkin bisa menjadi momentum yang tepat untuk memberikan hadiah. Tapi kalau hanya karena mendapatkan nilai baik untuk tes mingguan atau sekadar mencatat waktu paling cepat dalam latihan maraton, berikan apresiasi atau pujian saja sudah cukup.

Mengapresiasi anak dengan reward memang penting, tapi pilih yang mana yang benar-benar sebuah pencapaian. Jika dibiasakan, anak bisa menjadi gila materi dan hanya ingin berprestasi karena diberikan hadiah saja.

5. Selalu bikin pesta ultah dengan mewah

jadi teladan finansial
Horeee banyak balon warna-warni, makanan enak, teman-teman ramai! (pesta mewah / happybrightkids)

Gak salah kok merayakan hari jadi buah hati, apalagi kalau kemampuan finansial mumpuni. Tapi, ketika pesta ulang tahun menjadi kewajiban setiap tahun, dan harus selalu dirayakan dengan bujet fantastis, nah ini yang perlu dipikir-pikir lagi.

Menyelenggarakan pesta ulang tahun besar-besaran akan menanamkan pikiran kepada anak bahwa itu merupakan hal yang lumrah, bahkan wajib. Padahal kondisi keuangan harus menjadi fondasi besarnya pesta yang digelar. Kalau memang sanggupnya bikin pesta sederhana, kenapa harus memaksa diri menggelar yang serba mewah?

Ajarkan gaya hidup sederhana kepada anak sejak dini. Salah satunya dengan perayaan yang tidak berlebihan. Selalu ingatkan kata pepatah “Hemat pangkal kaya”.

Anak-anak adalah anugerah Tuhan yang gak ternilai. Merupakan tugas dan tanggung jawab orangtualah untuk menyayangi, merawat, dan mendidik mereka hingga jadi manusia-manusia dewasa yang mandiri.

Siapa sih yang mau anak-anaknya nanti hidup susah karena gak bijak mengelola keuangan? So, sedari dini didiklah anak-anak dengan kasih sayang yang sewajarnya, terlebih soal keuangan.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Tips Kasih Pendidikan Keuangan Buat Anak Generasi Milenial]

[Baca:: Mengajari Anak Mengelola Keuangan Bisa Sambil Belanja Bulanan]

[Baca: Anak Beranjak Remaja Bikin Keuangan Orangtua Kembang Kempis Coba 7 Cara Ini]