Hadapi Gempuran E-Commerce, Ritel Harus Lakukan Jurus Ini

Tren berbelanja online melalui e-commerce perlahan telah menggusur keberadaan toko ritel atau ritel offline. Sejak dua tahun lalu, sejumlah ritel modern terpaksa menutup sejumlah gerai akibat penjualan yang terus menurun dan tidak sesuai dengan target.

Fenomena tutupnya sejumlah pusat perbelanjaan ternama itu memunculkan indikator daya beli masyarakat yang mengalami penurunan.

Nyatanya, ritel konvensional tak bisa bertahan bukan semata karena gempuran e-commerce, melainkan gagal melakukan adaptasi dan elaborasi layanan offline to online (OTO).

Lantas, apa aja fakta mengenai gempuran e-commerce terhadap ritel? Yuk, simak pemaparan lengkapnya di sini:

Ritel gugur bukan semata karena e-commerce

Belanja di ritel (Unsplash)
Belanja di ritel (Unsplash)

Industri ritel yang kini banyak berguguran bukan semata-mata karena gempuran e-commerce.  Pengaruh guncangan e-commerce terhadap pasar ritel ternyata tidak sebesar yang selama ini dikira.

“Kalau melihat data terkini, ritel industri memang turun, dari kuartal keempat 2018 sudah turun,” ungkap Erwin Surya Brata dan CEO TRAM Digital sekaligus Akademisi FISIP UI Erwin Panigoro, seperti dilansir dari CNBC Indonesia.

Baca juga: Ini 3 Dampak Pesatnya E-Commerce di Indonesia

Lokasi menentukan

Berbelanja di ritel (Unsplash)
Lokasi menentukan konsumen berbelanja di ritel (Unsplash)

Lebih lanjut, Erwin memaparkan, faktor lokasi menjadi alasan mengapa industri ritel masih bertahan.

“Namun tidak terjadi di semua lini, karena masih ada juga ritel industri yang masih bertahan, khususnya ritel yang berada dekat pedestrian. Kalau kita lihat, di beberapa ritel yang terdapat di lokasi padat, itu masih bisa bertahan,” paparnya.

Dengan lokasi yang tepat, konsumen masih mau berbelanja secara offline ke toko-toko pilihan. Pasalnya, masyarakat tidak ingin mendatangi lokasi belanja yang terlalu banyak butuh effort.

“Masyarakat akan lebih mendapat kenyamanan di lokasi yang lebih dekat.  Diprediksi sampai beberapa tahun ke depan salah satu ritel besar yang stagnan karena kondisi lalu lintas, ada keengganan masyarakat datang ke lokasi-lokasi yang membutuhkan effort luar biasa. Ini tidak bisa ditampik, ini kenyataan yang ada,” imbuhnya.

Baca juga: Mengintip Gurita Bisnis Ritel Milik Irwan Mussry yang Luar Biasa Besar

Mempertarungkan online vs offline shop

Belanja di online shop (Unsplash)
Belanja di online shop (Unsplash)

Perubahan perilaku konsumsi secara online dari offline ternyata turut dipengaruhi kebiasaan konsumtif masyarakat.

“Sebenarnya dari hasil penelitian saya dan teman-teman sejak tiga tahun terakhir, perubahan ini bukan karena online tumbuh, tapi adanya perubahan kebiasaan konsumen yang perubahan ini ternyata tidak mudah ditanggapi pelaku industri,” ujarnya.

Erwin mencontohkan, perubahan tersebut banyak dikaitkan dengan liburan. Padahal, tidak melulu soal liburan saja.

“Mereka tidak melihat perubahan secara periodik, contoh leissure produk yang sedang ramai dibicarakan, banyak yang dikaitkan dengan liburan, tapi leissure bukan hanya liburan, karena timeless bisa kapan saja dan di mana saja,” jelasnya.

“Contohnya wisata kuliner (wiskul), itu part of leissure. Pada waktu Weekend menonton itu juga part of leissure. Ada perubahan masyarakat jadi consumtive,” lanjutnya.

Shifting market Indonesia

Berbelanja di e-commerce (Unsplash)
Berbelanja di e-commerce (Unsplash)

Erwin menilai, pendekatan dalam jaringan online sebagai bentuk adaptasi pasar. Karena itu, biasanya ritel telah memiliki toko online. Hanya saja, mereka belum memasarkan secara maksimal.

“Kalau di Indonesia memang terbiasa copy cat, masyarakat juga demikian. Pelaku industri offline terlambat membaca itu, padahal dalam ekonomi itu ada layanan offline to online (OTO) banyak ritel-ritel store menganggap online hanya window shopping saja, bukan,” imbuhnya.

Kesalahan itu yang membuat ritel tidak bisa merangkul konsumen yang beralih ke online.

“Karena dianggap online ini bukan saja bagaimana menjajakan agar lebih dekat ke publik, tapi juga bagaimana memaparkan data sehingga data itu lebih dekat ke publik. Sehingga mereka jemput bola ke konsumennya,” ujarnya.

“Ini salah satu misslead juga, karena ada juga yang menganggap kami sudah punya website, tapi apa yang dilakukan website-nya kurang begitu menarik,” sambung Erwin.

Itulah fakta mengapa industri online bisa menggerus offline. Namun, buat kamu yang masih menyukai berbelanja secara langsung ke toko ritel, gak ada salahnya kok. Dan untuk kamu yang lebih senang belanja secara online juga tidak masalah.