Gesek Tunai Kartu Kredit: Apa Itu dan Kenapa Harus Berhati-hati?

Pernah dengar kata gesek tunai atau gestun? Atau mungkin lagi browsing di forum-forum keuangan dan lihat banyak yang posting jasa gesek tunai modal kartu kredit, KTP dan rekening?

 

Kalau jawabanmu adalah ‘iya’, tapi kamu sama sekali tidak merasa harus waspada, berhenti dulu deh. Jangan langsung merasa minat meski lagi kepepet butuh uang tunai.

 

Sekarang kita bahas dulu deh apa itu sebenarnya jasa gesek tunai kartu kredit. Apa menguntungkan? Atau malah bisa merugikan kita sebagai pemilik kartu kredit?

 

Apa Itu Gesek Tunai Kartu Kredit Sebenarnya?

Sebagai pemilik kartu kredit, mungkin kamu sudah tahu bahwa kartumu itu bisa digunakan untuk gesek tunai atau tarik uang tunai atau cash advance di sejumlah merchant. Mereka ini biasanya punya mesin EDC (Electronic Data Capture) dari bank-bank yang berada dalam jaringan kartu kredit bank penerbit.

  

Misalnya, mesin EDC Bank Mandiri yang menerima kartu kredit Mastercard. Artinya, meski kartu kreditmu bukan dari Bank Mandiri, tapi berada dalam jaringan Mastercard, merchant tersebut tetap bisa memakainya untuk menyediakan jasa gesek tunai.

 

Caranya? Dengan memasukkan transaksi di merchant tersebut seolah-olah kamu membeli sesuatu. Padahal, kamu mengambil uang tunai dari merchant tersebut.

 

Kenapa Gesek Tunai Kelihatannya Menarik?

Melakukan transaksi tarik tunai kartu kredit dari ATM adalah salah satu fasilitas transaksi dari bank penerbit. Meski begitu, fasilitas transaksi ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Misalnya, menarik tunai tiap minggu yang akhirnya jadi besar pasak daripada tiang. [Baca: Melakukan Tarik Tunai Kartu Kredit Itu Ide Bagus, Asal Kamu Ingat 3 Poin Ini!]

 

Loh, kenapa? Soalnya ada biaya 4 persen atau Rp 50 ribu, tergantung mana yang paling besar dari bank penerbit kartu kredit masing-masing, Kalau terus menerus tarik tunai dan gak bisa bayar biayanya, gawat! [Baca: Banyak yang Bilang Tarik Tunai Kartu Kredit Itu Penuh Biaya Siluman. Loh Emang Sudah Paham Seluk-Beluknya?]

 

Kalau di merchant-merchant yang ngasih jasa gesek tunai, akan ada surcharge alias biaya 3 persen dari total transaksi. Ada juga merchant yang ngasih surcharge 2 persen. Contohnya kamu gesek tunai Rp 1 juta di merchant, ada biaya 3 persen x Rp 1 juta= Rp. 30.000.

 

Kamu bisa bayar biaya tersebut dengan ngasih Rp 30 ribu ke merchant. Bisa juga minta langsung dipotong dari uang yang kamu terima, yang berarti kamu akan menerima Rp. 970.000.

 

Sudah hemat biaya karena lebih rendah ketimbang biaya penarikan tunai dari ATM, kamu juga dapat point reward karena terhitung sebagai transaksi di tagihanmu. [Baca: Kenali Manfaat Kartu Kreditmu: Point Reward vs Cash Back]

 

Dengan akal-akalan ini, ya jelas menarik. Tak heran muncul banyak merchant yang menawarkan jasa gesek tunai, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

  

Mereka berdalih tidak bisa disalahkan. Alasannya, jasa mereka dibutuhkan pasar. Padahal mereka juga dapat untung dari transaksi itu. [Baca: Alasan Logis Merchant Tetap Pungut Biaya Surcharge Kartu Kredit Tiap Gesek]

 

Tapi para pemilik kartu kredit sebagai pasar di kasus inilah yang harus berhati-hati. Intinya, harus menimbang-nimbang, apakah keuntungan gesek tunai lebih besar dari kerugian. Sebab kalau gak hati-hati, bisa-bisa gagal bayar tagihan karena membengkak akibat sering gestun.

 

Kartu kredit bukan alat utang

Kartu kreditmu memang memiliki fasilitas tarik tunai. Tapi biayanya besar. Selain itu, ada limit atau batas maksimal penarikan uang tunai.

 

Misalnya, limit kartu kredit BII-mu adalah Rp 10 juta. Bank penerbit pun memberi batasan maksimal penarikan uang tunai sebesar 50% dari limit kartumu. Artinya, kamu hanya bisa mengambil maksimal Rp 5 juta.

 

Kemudian, tagihan akan meliputi biaya tarik tunai yang sebesar 4%. Belum lagi kalau gak sanggup melunasi tagihan, bakal ada bunga 2,95 persen dari transaksi yang belum dilunasi sesuai dengan  peraturan Bank Indonesia. Ingat, tarik tunai baik di ATM maupun merchant sama-sama kena bunga kalau belum dilunasi.

 

Kenapa bank menerapkan peraturan ini? Pada intinya, sesuai yang ditetapkan oleh Bank Indonesia: kartu kredit itu berfungsi sebagai alat pembayaran, bukan kartu utang.

 

Nah, menarik uang tunai dari kartu kredit sama halnya dengan mengambil duit yang sebenarnya tidak kamu miliki alias berutang. Camkan itu baik-baik, ya..

 

Bank memang memberikan fasilitas itu, namun perlu dibatasi dengan limit dan biaya besar. Karena kalau fasilitas tarik tunai diberikan dengan gampang, para pemilik kartu kredit jadi mudah terlena.

 

Terlena gimana? Ya terlena untuk terus-terusan gesek tunai untuk memenuhi semua kebutuhan keuangan.

 

Coba pikir lagi deh. Kamu ingin memenuhi kebutuhan keuangan dengan cara berutang? Wah, ini mah resep menuju jurang utang namanya, alias selamanya besar pasak daripada tiang!

 

Sebelum kamu sadar, kamu sudah kena limit kartu kreditmu, yang biasanya besarannya tiga kali lipat pendapatanmu.

 

Bahkan jika kamu tidak memiliki pengeluaran (yang sangat tidak mungkin, kecuali kamu bisa berfotosintesis), kamu butuh tiga bulan untuk menutupi tagihan satu bulan. Belum lagi biaya yang terus terakumulasi karena tagihan yang belum lunas.

 

Bawa peralatan menyelammu, karena kita akan berenang di samudera utang!

 

Gesek tunai ditetapkan ilegal oleh Bank Indonesia

Bank Indonesia mengeluarkan Surat Edaran BI bernomor 15/13/DASP untuk meminimalisir praktik gesek tunai ilegal. Hal itu dilakukan untuk mengembalikan fungsi kartu kredit sebagai alat bayar, dan bukan alat untuk berutang.

 

Dengan adanya merchant yang menyediakan jasa gesek tunai, fasilitas ini berpotensi disalahgunakan. Keberadaan gesek tunai ilegal juga merugikan nasabah, karena naiknya jumlah pengguna gesek tunai diikuti dengan angka kredit bermasalah.

 

Belum lagi, coba bayangin kalau kartu kreditmu ilang dan orang main gesek tunai? Serem kan?

 

Apalagi kewajiban penggunaan Personal Identification Number (PIN) pada kartu kredit baru  terlaksana pada 2015 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No. 14/2/PBI/2012 serta Surat Edaran No. 14/17/DASP.

 

Makanya, praktik gesek tunai ini sudah semustinya dihentikan. Jangan bikin pasar untuk para penjual ini.

 

Pada dasarnya, dengan beralih fungsi menjadi kartu utang, keuanganmu sendiri nanti yang akan nanggung utang. Gak mau kan hidup stres karena 24 jam sehari harus mikirin utang?

 

 

Sebagai konsumen, kamu harus pintar-pintar menimbang apa yang mau kamu lakukan dengan kartu kreditmu. Mungkin kamu bisa melakukan gestun kalau ada keadaan darurat di mana kamu butuh uang cash, tapi tak ada opsi lain.

 

Tapi kalau kamu gunakan untuk kepentingan konsumtif, pada awalnya kamu mungkin akan bilang “Wah, gestun enak nih..”. Ga lama setelah itu, muncul pikiran “Ga bisa bayar tagihan, dasar kartu setan!” Padahal yang setan bukan kartunya, tapi yang keliru menggunakannya. 

 

[Baca: “Kartu Kredit Merugikan Karena BIkin Kita Berhutang!” Loh, Kok Masih Ngeyel?]