Gak Usah Minder Kalau Telat Berkarier. Terapkan Saja 6 Mental Ini

Meski sudah berusaha, kadang keterlambatan tak bisa dihindari. Termasuk telat berkarier.

Penyebabnya bisa bermacam-macam, bukan hanya rasa malas. Bisa jadi kita terlambat menyadari passion. Atau baru sadar kalau selama ini melakoni pekerjaan di industri yang tidak disukai atau dirasa kurang cocok.

Kalau sudah begini, mencoba bidang pekerjaan baru dari level bawah mau tak mau harus dilakukan. Daripada terus bergelut di pekerjaan yang dijalani dengan ogah-ogahan, lebih baik terlambat memulai profesi yang benar-benar kita sukai kan?

Orang yang telat berkarier juga belum tentu kalah dibanding mereka yang duluan masuk dunia kerja. Bahkan dengan level di bawah ketika masuk kerja pun, kita bisa lebih unggul dibanding mereka.

Faktanya, orang yang lebih dulu berkarier gak selalu lebih sukses daripada juniornya. Bahkan bukan tak mungkin si junior melesat melewati karier sang senior.

Kuncinya ada pada mental pekerja. Jika telat berkarier lalu minder, ya jangan harap bisa mencatat prestasi.

Berikut ini 6 mental pekerja yang harus diterapkan agar tak kalah bersaing walaupun telat berkarier:

1. Saya pasti bisa!

telat berkarier
Kalau kamu saja gak yakin bisa, gimana mau sukses di masa depan (bisa/martial arts ptc)

Tekankan kata-kata motivasi itu dalam hidup. Jangan menyerah sebelum bertanding. Malah, ganjalan dalam karier seharusnya bisa diolah menjadi batu pijakan untuk melompat lebih tinggi.

Motivasi pantang menyerah ini penting agar kita selalu punya semangat maju dalam berkarier. Tanpa semangat, kerja bakal asal-asalan. Mana mungkin bisa sukses kalau gak niat bekerja.

2. Tetap profesional

Meski atasan lebih muda, kita gak bisa lantas meremehkannya. Gak peduli budaya kita menjunjung tinggi rasa hormat kepada mereka yang lebih tua.

Di dunia kerja, usia bukanlah penentu level seseorang. Kapasitaslah yang menentukan siapa yang layak dihormati dan dijadikan tuntunan. Makanya, kita mesti tetap bersikap profesional jika mendapati bos lebih muda.

Lewat hal simpel dulu saja. Misalnya dengan tetap memanggilnya “Pak” atau “Bu”, bukan sebut nama. Yang juga penting adalah bersikap profesional ketika mengerjakan tugas, misalnya selalu tepat waktu dan bisa bekerja sama dengan yang lain.

3. Buang rasa minder

Pada zaman Belanda, penduduk Indonesia dikatai inlander lantaran bermental inferior alias merasa lebih lemah. Kita generasi merdeka jangan sampai mendapat sebutan itu pula.

Walau telat berkarier, apalagi bos lebih muda, kita semestinya gak minder di tempat kerja. Bersikap biasa saja, anggap semua orang di sana setara.

telat berkarier
Bukan perkara mudah untuk menjauhkan diri dari minder, tapi semuanya bisa kamu lakukan kalau kamu serius (minder/terapi otak)

Rasa minder bisa membuat orang jauh dari keberhasilan. Sebaliknya, kepercayaan diri akan mendorong kita lebih giat bekerja, tak peduli orang di sekitar lebih tua atau lebih muda.

4. Lebih ulet

Lantaran terbilang telat berkarier ketimbang yang lain, kita sebaiknya lebih ulet dalam bekerja. Salah satu caranya, rela bekerja lebih daripada pegawai lain.

Misalnya jam kerja 08.00-05.00, bolehlah kita pulang lebih lambat untuk mengerjakan tugas. Usaha yang lebih keras ini niscaya membawa kita lebih dekat ke level pekerja lain yang lebih dulu berkarya, atau justru melewati mereka.

Namun patokan utamanya bukanlah jam pulang kerja lebih lambat. Bila bisa menyelesaikan pekerjaan sebelum jam kerja usai, malah lebih bagus. Tinggal disambung dengan tugas lainnya sesuai dengan arahan bos. Atau bisa juga melakukan hal lain untuk mengasah skill, misalnya mengambil kursus online atau baca-baca artikel ynag menambah ilmu di Internet.

5. Mau angkat tangan

Sebagai new kid on the block alias orang baru, gak ada salahnya kita banyak bertanya dan memberi masukan di lingkungan kerja. Sikap proaktif seperti itu malah membuat kita lebih banyak tahu.

Hanya, bukan berarti segala hal mesti ditanyakan. Itu malah membuat kita tampak tidak mampu mandiri.

Proaktiflah ketika sedang dalam diskusi atau rapat. Tanyakan hal yang belum kita mengerti, sekaligus sumbangkan ide kepada perusahaan.

6. Buka hati dan kepala

telat berkarier
Walaupun sulit buatmu untuk terima kritik dari yang lebih muda, jangan lantas baper dan resign. Buka hati dong, cari tahu di mana kelemahanmu dalam bekerja (buka hati/red bubble)

Memang, akan susah rasanya menerima kritik dan saran dari mereka yang lebih muda. Tapi ingat, kita adalah “junior” bagi mereka di lingkungan kerja.

Turunkan ego dan hindari sikap kerasa kepala ketika mendapat kritik yang membangun. Meski rekan kerja jauh lebih muda, kritik itu tetaplah layak didengarkan dan dipertimbangkan. Lihat apa pesannya, bukan siapa yang menyampaikan pesan itu.

Telat berkarier bukanlah penghalang menuju kesuksesan. Namun jalan menuju ke sana bisa jadi lebih berliku.

Mental pekerja di atas bisa coba diterapkan ketika kita merasa telat dalam karier. Buat yang merasa kariernya jalan di tempat, bisa juga mempraktikkannya. Gak ada yang gak mungkin kalau kita mau mencoba.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Karir Itu Pencapaian Diri, Bukan Tentang Siapa yang Paling Tinggi]

[Baca: Jika Karir Mentok Jangan Buru-buru Resign, Jawab Dulu 3 Pertanyaan Ini]

[Baca: 5 Hal Gak Penting yang Harus Kamu Jauhin Biar Karir Makin Baik]