Gak Punya Lahan Bukan Berarti Gak Bisa Menghasilkan Uang dari Berkebun

Berkebun adalah salah satu jenis hobi yang bisa mendatangkan rezeki. Tapi, buat yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, kok rasanya susah menjalankan hobi berkebun.

 

Memang, berkebun secara tradisional membutuhkan lahan lumayan. Masalahnya, lahan di Jakarta sangatlah terbatas.

 

Sudah untung punya tanah 1 x 1 meter buat pohon mangga. Kebanyakan malah sama sekali gak punya tanaman lantaran tanah dihabiskan untuk bangunan.

 

Bahkan ada yang sampai pakai lahan umum untuk parkir mobilnya. Sayang memang, dealer gak menjual mobil sekalian tempat parkirnya.

 

[Baca: Punya Duit Rp 100 Juta, Lebih Baik Beli Mobil atau Rumah?]

 

Untungnya, ada metode berkebun dengan hidroponik. Metode ini ditemukan oleh ilmuwan Jerman, Julius von Sachs and W. Knop. Lalu dikembangkan oleh Profesor Doktor W.F. Gericke asal Amerika Serikat.

 

Lewat hidroponik, kita masih bisa berkebun walau tanah sudah habis buat garasi. Berkebun dengan hidroponik gak memerlukan tanah yang luas.

 

Selain itu, air yang dibutuhkan hanya sedikit. Jadi, metode ini cocok sekali buat warga Ibu Kota dan kota besar lainnya yang sulit air dan lahan.

 

Tanaman hidroponik bisa dikembangkan di halaman depan meski sempit. Bisa juga bikin dak atau tempat datar di atap untuk menaruh tanaman.

 

menghasilkan uang dari berkebun

Punya loteng atau rooftop yang nganggur? Jadikan sebagai lahan budidaya saja

 

 

Tanaman yang bisa dikembangkan pun banyak. Di antaranya tomat, selada, bayam, kangkung, sampai melon dan semangka.

 

Dari aktivitas berhidroponik ini, kita bisa mengeruk untung banyak, lho. Lihat simulasinya di bawah ini.

 

Lahan: 3 x 5 meter
Biaya-biaya:

  • Pot kecil: 5 x Rp 1.000 = Rp 5.000
  • Nutrisi: Rp 80 ribu per set, bisa dipakai hingga 4 bulan (per bulan Rp 20 ribu)
  • Media tanam rockwool ukuran 50 x 15 x 7,5 cm: Rp 30 ribu
  • Kain flanel: 5 x Rp 2000 = Rp 10.000
  • Benih selada: Rp 5.000 per paket
  • Total: Rp 70 ribu

Selada dapat dipanen 1 minggu sekali. Dengan satu pot selada dijual Rp 5.000, kalau ada 5 pot berarti penghasilan sebulan: 4 x Rp 25.000 = Rp 100 ribu.

 

Dalam sebulan saja bisa langsung mendapat laba. Itu baru satu jenis tanaman. Kalau beberapa jenis, bisa lebih besar lagi. Tapi dengan catatan semuanya laku, ya.

 

Nah, agar semua dagangan laku, diperlukan keahlian lain lagi. Yaitu marketing alias pemasaran. Pada saat inilah insting pengusahanya harus keluar, bukan sekadar penghobi.

 

[Baca: Mau Sukses? Gak Cuma Pinter Aja Bro! Punya Attitude yang Positif Juga Penting]

 

Tapi mesti diketahui bahwa budi daya tanaman hidroponik akan lebih menghasilkan jika alat yang digunakan mendukung. Misalnya ada tambahan green house alias rumah kaca.

 

menghasilkan uang dari berkebun

Pakai limbah botol plastik sebagai pengganti pot juga bisa lohhh. Praktis kan?

 

 

Untuk lebih mendapatkan pengetahuan soal hidroponik, kita bisa ikut seminar-seminar yang kadang diadakan lembaga kampus. Institut Pertanian Bogor mungkin bisa dihubungi untuk mencari tahu lebih banyak soal hidroponik.

 

Selain itu, aktivitas berhidroponik sebagai hobi perlu digarisbawahi. Sebab, kalau aslinya memang hanya hobi, kita gak perlu terlalu ngotot mengejar profit.

 

Tapi kalau sudah berpikir untuk mengubahnya menjadi salah satu keran penghasilan, ini saatnya lebih serius. Diperlukan langkah-langkah berikutnya untuk memastikan usaha dari hobi itu berkembang dan sukses.

 

Intinya, keterbatasan situasi sebenarnya bisa disiasati untuk menghasilkan uang dari berkebun. Contohnya keterbatasan lahan di Jakarta itu tadi.

 

Kalaupun bukan buat mencari penghasilan tambahan, kita masih bisa menjalankan hobi. Tapi apa salahnya mengutak-atik hobi demi mempertebal pundi-pundi? Sepakat?

 

[Baca: Jangan Cuma Buat Isi Waktu, Ini Cara Memanfaatkan Hobi Buat Menambah Pundi-Pundi]

 

 

 

Image credit:

  • https://alyapotts.files.wordpress.com/2015/02/hidroponik-nft.jpg
  • http://2.bp.blogspot.com/-js7RlVu1Yys/T9C_hcAwcXI/AAAAAAAAAN0/Srhf8edHmJk/s1600/315829_136255226469570_121143_n.jpg