Gak Pengin Penyusunan Anggaran Keuangan Gagal? Hindari Kesalahan Ini

Menyusun anggaran keuangan menjadi salah satu kunci kesuksesan seseorang dalam mengelola keuangannya. Namun, cukup banyak orang yang udah memiliki anggaran keuangan justru gak mencapai tujuan finansial seperti yang diharapkan.

Padahal, anggaran keuangan ini bertujuan buat memaksimalkan keuangan lewat pengaturan keuangan yang tepat dan efektif. Pengeluaran-pengeluaran yang biasanya secara spontan dilakukan menjadi terkontrol berkat penyusunan anggaran.

Lantas, bagaimana bisa anggaran keuangan gak berefek positif seperti yang santer diungkapkan selama ini? Rupanya ada beberapa kesalahan yang menjadi penyebab mengapa efek yang diharapkan gak pernah kunjung datang.

Berikut, kesalahan-kesalahan yang sebaiknya dicegah kalau anggaran keuangan pengin memberi hasil nyata:

1. Gak jelas pembagiannya selama sebulan

Anggaran keuangan
Anggaran keuangan

Walaupun kamu udah bikin alokasi pengeluaran-pengeluaran untuk sebulan, bukan berarti alokasi tersebut menjamin kalau kamu udah di jalur benar. Pembagian alokasi pengeluaran ini sebenarnya gak bisa didasarkan pada feeling saja.

Sekadar ketahui, ada rumusan ideal pembagian pengeluaran dalam anggaran keuangan. Rumusan ideal ini kalau benar-benar diterapkan akan membuat tujuan finansial tercapai.

Memang, gimana rumusnya? Gampang kok. Kamu pun barangkali udah pernah mendengarnya, yaitu rumus 50/30/20.

Alokasi 50 persen buat kebutuhan pokok, 30 persen buat kebutuhan pribadi atau kredit, dan 20 persen buat dana darurat, asuransi, dan investasi.

Sebagai gambaran, gaji yang kamu terima setiap bulannya Rp 7 juta. Itu berarti 50 persen buat kebutuhan pokok Rp 3,5 juta. Alokasi 30 persen buat kebutuhan pribadi sebesar Rp 2,1 juta. Sementara alokasi 20 persen buat dana darurat, asuransi, dan investasi sebesar Rp 1,4 juta.

Seandainya kamu ambil kredit, mau gak mau kamu harus korbankan pemenuhan kebutuhan pribadimu buat bayar cicilannya.

Usahakan besaran cicilan kurang dari 30 persen gaji kamu agar masih ada sisa buat kebutuhan pribadimu.

2. Gak bikin anggaran keuangan buat dana pensiun

Anggaran keuangan
Anggaran keuangan

Cukup banyak yang menunda punya dana pensiun dengan beragam alasan. Mulai dari usia pensiun masih jauh, hingga merasa belum waktunya memiliki dana tersebut.

Padahal, dana pensiun ini makin cepat dipersiapkannya, makin bagus lho. Kamu bisa memasukkan alokasi dana pensiun ini ke alokasi 20 persen gaji per bulan.

Atau, tambahkan alokasi 20 persen itu menjadi 30 persen dari gaji dengan mengurangi alokasi dari kebutuhan pribadimu. Ada beragam instrumen penempatan dana pensiun yang bisa kamu pilih, yaitu BPJS Ketenagakerjaan ataupun Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Nah, BPJS Ketenagakerjaan menjadi hal wajib yang dimiliki setiap pekerja di Indonesia. Agar maksimal, miliki juga DPLK.

3. Gak maksimalkan pengeluaran untuk dana darurat

Anggaran keuangan
Anggaran keuangan

Ternyata cukup banyak yang belum tahu berapa besar alokasi untuk dana darurat. Kebanyakan orang cuma mengira-ngira aja mengumpulkan dana darurat. Yang penting, dana darurat ini ada dalam anggaran keuangan.

Idealnya, dana darurat dikumpulkan hingga enam hingga sembilan kali alokasi untuk kebutuhan pokok. Kalau besaran kebutuhan pokok kamu mencapai Rp 3,5 juta, itu berarti besaran dana darurat kamu minimal Rp 21 juta. Lebih besar tentu aja lebih baik.

Khusus dana darurat, tempatkan dana ini di rekening tabungan tersendiri, dan deposito. Katakanlah kamu pengin punya dana darurat hingga Rp 50 juta. Bikin rekening tabungan tersendiri dan setor tiap bulannya dana darurat ke situ.

Begitu udah terkumpul sebesar Rp 50 juta, pisahkan Rp 25 juta buat dialokasikan ke deposito. Dengan begitu, dana darurat kamu terus berkembang karena bunga deposito.

4. Mengabaikan masukan orang-orang berpengalaman

Anggaran keuangan
Anggaran keuangan

Kadang-kadang karena merasa mampu, banyak orang enggan menerima masukan dari orang lain dalam menyusun anggaran keuangan. Sah-sah aja sih kalau kamu yakin bisa melakukannya sendiri. Namun, bukan berarti susunan kamu baik-baik aja nantinya ya.

Bisa aja di luar dugaan ada hal-hal yang lupa kamu perhitungkan sebelumnya. Di sinilah kamu perlu mengomunikasikan masalah ini ke orang-orang yang udah berpengalaman. Hitung-hitung persoalan lebih cepat beres ketimbang memikirkannya sendiri.

Kamu juga bisa menggunakan jasa penasihat keuangan atau financial adviser kalau itu dirasa perlu. Emang sih ada cost atau biaya yang mesti dikeluarkan. Namun, kalau karena bantuan financial adviser, keuangan kamu bisa maksimal, kenapa gak?

Sampai sini udah tahu kan apa aja kesalahan-kesalahan yang mesti dihindari dalam menyusun anggaran keuangan? Jadi, tinggal diterapkan, dan rasakan hasilnya. Semoga dapat hasil seperti yang diharapkan ya! (Editor: Chaerunnisa)