Freeport Resmi Milik Indonesia, Jajaran Direksi dan Komisaris Langsung Dirombak

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) selesai melunasi pembayaran divestasi saham PT Freeport Indonesia. Dengan begitu, maka 51,2% saham perusahaan asal Amerika Serikat itu beralih ke Inalum atau resmi ke pangkuan Indonesia.

Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) mengatakan ini merupakan momen bersejarah. Sebab sejak Freeport beroperasi tahun 1973, baru kali ini Indonesia memiliki saham lebih dari 50%.

“Saya baru saja menerima laporan dari seluruh menteri terkait, Direktur Utama Inalum dan CEO Freeport McMoran. Disampaikan bahwa 51,2% saham PT Freeport Indonesia  sudah beralih ke Inalum dan lunas dibayar,” paparnya.

Jokowi memastikan masalah lingkungan dan mengenai pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) sudah selesai. Sehingga, Inalum tinggal bekerja sama dengan Freeport.

Presiden juga berharap kepemilikan mayoritas itu bisa bermanfaat sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Pendapatan baik dari pajak atau nonpajak, dan royalti pun diharapkan bisa lebih baik dari sebelumnya.

Gak hanya Inalum, pemerintah daerah pun mendapatkan 10% saham PT Freeport Indonesia. Harapannya, itu bisa berdampak bagi perekonomian pemerintah daerah. “Tentu saja Papua juga akan mendapat pajak daerah,” tutur Jokowi.

Inalum membayar US$ 3,85 miliar kepada PT Freeport Indonesia demi memiliki 51% saham. Perinciannya sebanyak US$ 3,5 miliar dialokasikan untuk pembayaran 40% hak partisipasi Rio Tinto dan US$ 350 juta untuk Indocopper.

Adapun, pendanaan untuk membayar saham itu berasal dari dana obligasi sebesar US$ 4 miliar. Dari 51,2% saham PTFI yang dimiliki Indonesia, Inalum akan memiliki secara langsung sebesar 26,2%.

Sisanya sekitar 25% dimiliki PT Indocopper Investama (PTII). Adapun, saham Indocopper akan dimiliki Inalum sebesar 60% dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Papua sebesar 40%.

Saham BUMD Papua dimiliki oleh Pemprov Papua sebesar 30% dan Pemkab Mimika 70%. Sehingga jika dikonversi, kepemilikan saham PTFI oleh Pemprov Papua adalah 3% dan Pemkab Mimika sebesar 7%.

Dengan demikian BUMD Papua akan memiliki 10% saham PTFI. Penggunaan Indocopper itu sudah sesuai dengan kesepakatan induk yang ditandatangani pada tanggal 12 Januari 2018. Antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Mimika dan INALUM tentang Pengambilan Saham Divestasi PTFI.

Indocopper saat ini memiliki 9,36% saham di PTFI. Berdasarkan lembar fakta Inalum, PTII telah berganti nama menjadi PT Indonesia Papua Metal dan Mineral.

“PTII tidak lagi terafiliasi dengan pengusaha Aburizal Bakrie sejak tahun 2002 setelah Freeport McMoRan mengambilalih 100% perusahaan tersebut,” seperti dikutip dari katadata.co.id.

Rombak Jajaran Direksi dan Komisaris

Setelah resmi diakuisisi, Freeport Indonesia langsung merombak jajaran direksi dan komisarisnya. Berdasarkan dokumen yang diperoleh Katadata.co.id, Direktur Utama Freeport Indonesia kini dijabat Clayton Allen Wenas atau yang akrab disapa Tony Wenas. Sementara Wakil Direktur Utama dijabat oleh Orias Petrus Moedak.

Kemudian, ada empat direktur. Mereka adalah Jenpino Ngabdi, Achmad Ardianto, Robert Charles Schroeder dan Mark Jerome Johnson.

Selain posisi direksi, komisaris mengalami perombakan. Presiden Komisaris yang baru adalah Richard Carl Adkerson. Sedangkan, Wakil Komisaris Utama Amien Sunaryadi.

Mereka akan dibantu empat komisaris. Diantaranya adalah Budi Gunadi Sadikin, Hinsa Siburian, Kathleen Lynne Quirk dan Adrianto Machribie.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial mengatakan penunjukan Amien Sunaryadi karena rekam jejak selama ini sebagai Kepala SKK Migas yang baik.

“Amien itu sudah membawa industri minyak dan gas bumi mempunyai track record yang baik,” ungkapnya.