Fakta Indosat yang Mau Dibeli Jokowi dan Sandi, Nilainya Rp 15 Triliun Lho!

PT Indosat Tbk rencananya bakal dibeli kembali (buy back) Pemerintah Indonesia. Kabar ini berhembus saat kedua pasangan capres dan cawapres yang saat ini bertarung mengumbar janji pengin jadikan Pemerintah sebagai pemilik saham mayoritas Indosat.

Presiden Joko Widodo pada 2018 yang lalu udah melakukan pertemuan dengan Direktur Utama PT Indosat Tbk Chris Kanter. Salah satu hal yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut adalah rencana Pemerintah beli kembali Indosat.

pt indosat tbk
Dirut Indosat Ooredoo, Chris Kanter. (Instagram/@indosatooredoo)

Chris Kanter saat dimintai keterangan para wartawan menyarankan agar Pak Presiden menunda dulu pembelian saham PT Indosat Tbk dari Ooredoo Asia Pte. Ltd. Sebab berdasarkan kapitalisasi pasarnya, Indonesia bakal merugi kalau beli Indosat saat ini.

Sementara itu, calon wakil presiden nomor urut 2 pernah melontarkan pernyataan pengin membeli PT Indosat Tbk kalau seandainya terpilih. Sandiaga Uno mengaku punya kesamaan ide dengan Jokowi soal Indosat ini.

Ramai-ramai bicara PT Indosat Tbk kayaknya menarik nih kalau Moneysmart mengulas perjalanan perusahaan yang dulu dilepas Pemerintah Indonesia ke perusahaan Qatar. Seperti apa ulasannya? Yuk, disimak.

Baca juga: Dapat Rp 42 Juta Jika Jadi Wapres, Sandiaga Uno Tidak Akan Terima Gajinya

1. Lahir tahun 1967 sebagai perusahaan penanaman modal asing pertama di Indonesia

pt indosat tbk
Iklan SLI 001 Indosat di jembatan penyeberangan, Jakarta, 8 Agustus 1998. (Tempo/ Fernandez Hutagalung)

Rupanya PT Indosat Tbk bisa hadir di Indonesia karena adanya suntikan dari modal asing. Dengan kata lain, Indosat awalnya merupakan perusahaan milik asing.

Perusahaan ini memang udah sedari awal menawarkan layanan telekomunikasi internasional.  Seperti yang dijelaskan dalam website-nya, Indosat menjadi penyedia layanan telekomunikasi internasional yang menggunakan satelit internasional.

Dalam perjalanannya, Indosat kemudian dimiliki Pemerintah Indonesia 100 persen pada tahun 1980. Sebab, perusahaan ini dinilai berkembang baik saat itu.

Baca juga: Kritik Sandiaga Uno Terkait Ujian Nasional, BPJS, dan Kartu Pra-kerja

2. Bukan cuma tercatat di Bursa Efek Indonesia, melainkan juga di New York Stock Exchange

pt indosat tbk
Logo Indosat yang lama. (Indosat)

Setelah menjadi milik Indonesia 100 persen selama 14 tahun, Indosat akhirnya secara resmi mengumumkan dirinya sebagai perusahaan go public tahun 1994. Itu berarti perusahaan ini terdaftar di bursa dan sahamnya bisa dibeli siapa aja.

Saat itu harga perdana atau IPO saham perusahaan yang berkode ISAT ini senilai Rp 7.000 per lembar. Komposisi kepemilikannya sebesar 65 persen dimiliki Pemerintah Indonesia, sedangkan 35 persennya dijual buat publik.

Menariknya nih, saham PT Indosat Tbk juga tercatat New York Stock Exchange tahun 1994. Namun, Indosat menyatakan dirinya telah keluar dari bursa Amerika Serikat tersebut pada 24 Mei 2013.

Baca juga: Jaket Hingga Motor Kesayangan Jokowi Dilelang demi Dana Kampanye, Minat?

3. Ambil alih Satelindo hingga mendirikan IM3

pt indosat tbk
Gerai Indosat di Jakarta, Senin, 11 Juni 2007 (Tempo/Dimas Aryo)

Sepanjang perjalanannya, PT Indosat Tbk diketahui melakukan pengembangan bisnis. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan mengakuisisi Satelindo tahun 2001.

Pada tahun yang sama, Indosat juga mendirikan PT Indosat Multimedia Mobile atau dikenal dengan nama IM3. Perusahaan ini diklaim sebagai pelopor jaringan GPRS dan layanan multimedia di Indonesia.

Dalam perkembanganya, Indosat kemudian melebur dengan ketiga anak perusahaannya, yaitu Satelindo, IM3, dan Bimagraha. Bersama Indosat, ketiganya melebur jadi operator telekomunikasi pada tahun 2003.

4. Temasek kuasai 41,49 persen saham Indosat

pt indosat tbk
Logo Temasek.

Temasek tercatat pernah menjadi pemilik mayoritas dari saham PT Indosat Tbk. Lewat anak usahanya Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd. Perusahaan investasi global yang berkantor pusat di Singapura ini menguasai 41,49 persen saham Indosat.

Pemerintah Indonesia yang menjual sahamnya tersebut cuma memiliki 15 persen saham Indosat saat itu. Sementara 43,06 persen saham Indosat dimiliki publik.

Temasek sendiri menggelontorkan dana sebesar US$ 630 juta atau senilai Rp 8,89 triliun. Namun, kepemilikan Temasek atas Indosat cuma bertahan selama enam tahun.

5. Temasek menjual saham Indosat ke Ooredoo

pt indosat tbk
Indosat Ooredoo. (Tempo)

Selama enam tahun, Temasek memegang saham Indosat. Pada 2008, Temasek secara resmi menjual saham Indosat sebesar 40,81 persen.

Temasek bisa dibilang untung besar dengan menjual saham Indosat. Sebab, Qatar Telecom yang kemudian menjadi Ooredoo menyanggupi harga Temasek sebesar US$ 1,8 miliar atau Rp 25 triliun.

Saat itu komposisi kepemilikan saham Indosat berubah dengan 40,81 persen saham dimiliki Ooredoo. Sebesar 14,29 persen dimiliki Pemerintah Indonesia. Sementara 44,90 persen dimiliki publik.

Belakangan, seperti yang dilaporkan RTI, kepemilikan Ooredoo Asia Pte. Ltd atas saham Indosat meningkat menjadi 65 persen atau sebanyak 3.532.056.600 lembar saham. Sementara itu, pemerintah Indonesia memiliki 14,29 persen atau sebanyak 776.625.000 lembar saham, dan publik sebesar 20,71 persen atau 1.125.251.900 lembar saham.

6. Gimana saham PT Indosat Tbk (ISAT) saat ini?

pt indosat tbk
Grafik saham ISAT. (Google)

Kini harga saham ISAT jauh berbeda dibandingkan sewaktu mulai IPO. Pada saat mulai diperdagangkan di bursa, saham ISAT dijual dengan harga Rp 7.000 per lembar. Saat ini harganya terpantau di kisaran Rp 2.880 per lembar.

Harga terkini menunjukkan kalau saham PT Indosat Tbk mengalami penurunan selama 20 tahun terakhir. Bisa dibilang, memiliki saham Indosat itu kurang menguntungkan buat investasi.

Gak menguntungkannya memiliki saham ISAT ini juga diperkuat dengan laporan keuangan perusahaan ini yang negatif dari 2013 – 2015. Walaupun pada 2016 – 2017 tercatat positif, laporan keuangan PT Indosat Tbk sepanjang 2018 tercatat negatif alias gak ada profit.

Nah, itu tadi beberapa fakta mengenai PT Indosat Tbk yang sahamnya pengin dibeli salah satu pasangan capres dan cawapres seandainya terpilih. Walaupun begitu, pembelian kembali tersebut jangan sampai merugikan Indonesia mengingat laporan keuangannya yang jelek. (Editor: Ruben Setiawan)