Emang Ada Manfaat Bayar Zakat Buat Keuangan? Ada Dong!

Zakat adalah kewajiban bagi umat Islam. Jika melakukannya, jelas ada manfaat dari sudut pandang agama.

Tapi, terlepas dari urusan agama, ternyata ada juga manfaat zakat buat keuangan. Hal ini penting karena masih saja ada orang yang menghindari zakat dengan alasan keuangan.

“Gaji mepet, masak masih harus kasih zakat…” Begitulah kita-kita yang diomongkan.

Selidik punya selidik, zakat justru bisa dimanfaatkan buat menjaga kesehatan keuangan. Gak percaya? Nih simak empat manfaat bayar zakat buat keuanganmu:

1. Mengurangi pajak penghasilan

Berat bayar pajak penghasilan (PPh)? Zakat saja. Menurut Pasal 9 UU Nomor 36 Tahun 2008, salah satu manfaat bayar zakat adalah bisa menjadi pengurang pajak bila dibayarkan ke badan atau lembaga amil zakat yang dibentuk pemerintah.

manfaat bayar zakat
Yuuk bayar pajak jangan ditunda-tunda! (Pajak Bertutur / liputan6)

Di Indonesia, ada Baznas alias Badan Amil Zakat Nasional. Jadi, kalau bayar zakat ke Baznas, bisa lampirkan keterangan itu di laporan pajak.

Jumlah zakat yang dibayarkan harus ditulis pada kolom penghasilan bruto. Selain itu, mesti ada bukti setor zakat sebagai tanda bahwa memang ada zakat yang dibayarkan ke Baznas.

Daripada mangkir bayar pajak, terus kena denda berlipat-lipat, mending bayar zakat buat meringankan pajakmu kan? Legal lagi!

[Baca: Gak Pernah Lapor Pajak? Ini Hukuman yang Menanti]

2. Pembatas bujet konsumtif

Jika mengalokasikan zakat dari awal, kita bisa membatasi anggaran untuk kebutuhan konsumtif. Misalnya buat berhura-hura di kelab atau beli barang yang bukan termasuk kebutuhan, seperti baju baru yang bikin lemari tambah gak muat.

Penting untuk membuat rencana pengeluaran di awal. Gunanya, agar kita bisa lebih berdisiplin saat hendak membelanjakan uang.

Bila sekian rupiah dipatok sebagai tabungan, ya sudah. Dana sejumlah itu gak boleh diutak-atik. Demikian pula alokasi buat zakat.

manfaat bayar zakat
Teru aja belanja sampai pingsan! (Konsumtif / weblog)

Daripada buat nambahin bujet konsumtif, mending alokasi zakat yang digelembungkan. Pengeluaran konsumtif itu berbahaya kalau tanpa kontrol ketat.

Pada awal bulan sih bisa saja kelihatan keren dengan beli ini-itu. Begitu masuk akhir bulan, bakal kembang kempis deh itu napas finansial karena duit mulai menipis, atau bahkan sudah habis buat keperluan konsumtif.

3. Ngurangi ongkos berobat

Karena berhubungan dengan iman, kewajiban zakat berkaitan pula dengan kondisi psikologis. Banyak orang bilang, setelah menunaikan zakat, hati jadi tenang.

Hati yang tenang bisa mengusir stres di pikiran. Setidaknya perasaan jadi lebih lega dan mengurangi beban karena kewajiban zakat sudah terlunasi.

Coba kalau banyak kerjaan, ada masalah pribadi, eh, zakat belum ditunaikan. Apa gak tambah berat tuh beban di pundak?

Bila gak sanggup mengatasi tekanan bertubi-tubi itu, bisa jadi stres mendatangi. Stres bisa menimbulkan komplikasi lho. Mulai dari sakit jantung, diabetes, sampai depresi, semua penyakit yang berkaitan dengan stres itu amat berbahaya.

Dan, gak cuma berbahaya buat jiwa, tapi juga buat pundi-pundi keuangan yang terancam kempes buat berobat.

[Baca: Gak Cuma Bikin Stres, Masalah Keuangan juga Bisa Bikin Sakit Fisik Lho]

4. Buat masyarakat

manfaat bayar zakat
Jangan egois dong, sebagian rezeki kita juga harus didonasikan lho! (Berbagi Rezeki / wordpress)

Yang terakhir, sesuai dengan tujuannya, zakat membantu keuangan masyarakat. Jadi, kita memang gak boleh memikirkan diri sendiri dalam berzakat.

Keuangan sendiri memang bisa dijaga dengan zakat. Tapi keuangan orang lain, terutama mereka yang membutuhkan, lebih penting. Siapa sih yang gak mau berbuat baik buat orang lain?

Itulah manfaat bayar zakat buat keuangan. Gak hanya memuluskan jalan iman, zakat juga bisa membuat pengeluaran terjaga ketat, dan bahkan memudahkanmu mengelola keuangan

[Baca: Jangan Cuma Bisa Ngeluh, Simak Nih Cara Mengelola Keuangan dengan Benar]

Poin plusnya adalah bukan hanya kita yang bisa menarik manfaat zakat, tapi juga orang lain sebagai penerimanya. Tapi harus diperhatikan, khusus untuk pengurang PPh, zakat di sini bukanlah zakat fitrah.

Zakat maal yang bisa dihitung sebagai pengurang, karena itulah yang dibayarkan ke badan zakat negara. Adapun zakat fitrah lebih bersifat individu, meski juga sama-sama bermanfaat buat keuangan dan iman.