Ekonomi Turki Alami Krisis, Ini 5 Fakta di Balik Lemahnya Nilai Tukar Lira

Ekonomi Turki sedang mengalami krisis. Gara-garanya, nilai tukar mata uang negara ini, Lira, merosot terhadap dolar.

Sebagai gambaran, kurs Lira Turki pada Januari 2018 berada di angka 3,78 Lira per satu Dolar Amerika Serikat. Kini nilainya anjlok ke angka 6,67 Lira per Dolar.

Tentu aja, perubahan drastis ini gak berdampak bagus buat ekonomi Turki. Apalagi utang negara ini terbilang besar. Gak menutup kemungkinan harga-harga di negara tersebut bakal menanjak naik sehingga ujung-ujungnya memicu peningkatan inflasi.

Di balik ekonomi Turki yang lagi memburuk, ada sejumlah fakta menarik soal bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Yuk disimak.

1. Bermula dari krisis 2008

Ekonomi Turki
Krisis 2008

Krisis finansial yang terjadi di Amerika Serikat tahun 2008 silam emang menyisakan masalah berarti di banyak negara. Seperti yang dikutip dari Tempo, ekonomi Turki terkena dampak krisis finansial tersebut.

Buat memulihkan kembali perekonomian, bank-bank di Turki memberikan pinjaman ke banyak perusahaan. Dana pinjaman tersebut didapat bank Turki dengan mengambil pinjaman Dolar atau Euro dari bank-bank lain.

Celakanya, harapan agar perusahaan-perusahaan tersebut mendorong bangkitnya ekonomi Turki, kandas saat ini. Sebab, perusahaan-perusahaan itu jadi terbebani buat membayar utang mereka.

2.  Banyak investor ragu berinvestasi

ekonomi turki
Investor

Keraguan investor juga disebut-sebut mendorong ekonomi Turki terperosok. Salah satu penyebabnya adalah beberapa pernyataan Presiden Erdogan yang dianggap bikin cemas para investor.

Dikutip dari Tirto, Erdogan melontarkan pernyataan bahwa dirinya bakal ikut campur lebih jauh dalam penentuan kebijakan moneter. Selain itu, ia juga berencana memotong suku bunga habis pemilu.

Karena pernyataan itulah, investor menganggap kondisi ekonomi bakal gak jelas. Gak sedikit investor yang cabut dari Turki. Seiring banyaknya investor yang tarik dana, nilai Lira pun melemah.

3. Naikkan suku bunga hingga 17,75 persen

ekonomi turki
Suku bunga acuan

Buat meredam gejolak perubahan kurs sekaligus berupaya menstabilkan nilai tukar, bank sentral Turki menaikkan suku bunga. Bank sentral menaikkan one-week repo rate dari 16,5 persen menjadi 17,75 persen. Lebih tinggi dari suku bunga BI yang sebesar 5,25 persen.

Seperti yang dikabarkan CNBC Indonesia, dampak positif mulai dirasakan dengan menguatnya Lira terhadap Dolar sebesar 1,7 persen.

Selain karena melemahnya Lira, langkah menaikkan suku bunga ini juga sebagai upaya untuk mengatasi inflasi yang meningkat. Pada Mei 2018, inflasi di Turki mencapai 12,15 persen. Padahal, di bulan sebelumnya inflasi berada di angka 10,85 persen.

4. Dapat predikat gak layak investasi dari Moody’s

ekonomi turkiKarena utangnya makin besar, Turki diberi predikat gak layak investasi oleh Moody’s. Dikutip dari Wikipedia, Moody’s adalah perusahaan analisis keuangan dan analisis lembaga usaha serta lembaga pemerintahan.

Selain itu, Moody’s juga berperan dalam memberikan peringkat kelayakan investasi yang terpercaya. Makanya, peringkat apa pun yang diberikan lembaga ini memberi pengaruh yang berarti buat ekonomi suatu negara.

Lihat aja yang terjadi di Turki. Karena Moody’s kasih predikat jelek ke Turki, investor yang ragu makin bertambah. Jelas aja Pemerintah Turki sebisa mungkin menyakinkan investor kalau investasi di Turki bakal bakal baik-baik aja.

5. Rupiah menguat terhadap Lira

ekonomi turki
Rupiah

Emang sih Rupiah lagi gak bagus karena melemah terhadap Dolar. Namun, di hadapan Lira, Rupiah justru menguat lho.

Padahal nih satu Lira sebelumnya dihargai Rp 3.500 pada Januari 2018. Malahan harganya naik pada Maret 2018 menjadi Rp 3.600.

Namun, itu gak berlangsung lama. Lira melemah terhadap Rupiah di bulan-bulan selanjutnya. Seperti pada Juli 2018, satu Lira dihargai Rp 3.166. Seiring melemahnya Lira terhadap Dolar, kini satu Lira dihargai Rp 2.235.

Itu tadi kelima fakta di balik lemahnya Lira yang bikin ekonomi Turki memburuk. Apa yang terjadi di Turki pernah juga terjadi di Indonesia lho pada tahun 1998.

Untungnya, krisis itu gak berkepanjangan dan Indonesia perlahan-lahan bangkit dari keterpurukan. Moga-moga apa yang terjadi di Turki jangan sampai terulang lagi deh di Indonesia. Setuju kan?