E-Commerce Menggila, Indonesia Ketiban 3 Durian Runtuh Sekaligus

Pertumbuhan e-commerce di Indonesia diprediksi terus melesat. Dengan demikian, dalam beberapa tahun ke depan, aspek ekonomi dalam negeri akan terdampak oleh keberadaan mereka. Mulai dari kebiasaan berbelanja konsumen, hingga lapangan pekerjaan.

Dikutip dari wartaekonomi.co.id, firma konsultan manajemen McKinsey & Company pada Agustus 2018 lalu merilis hasil riset mengenai status industri e-commerce Indonesia. Mereka juga melihat proyeksi perkembangannya selama beberapa tahun ke depan. Berikut adalah dampak yang diprediksi akan dialami Indonesia.

1. Tenaga Kerja E-Commerce Berkembang Pesat

Saat ini, industri e-commerce telah berdampak positif bagi lapangan kerja Indonesia dengan estimasi 4 juta pekerja terhubung dengan ekosistem ini. Pada 2022, pertumbuhan pasar e-commerce Indonesia dapat merangkul sekitar 26 juta pekerja.

Angka tersebut setara 20 persen angkatan kerja Indonesia. Lapangan kerja baru ini meliputi yang muncul untuk mendukung kegiatan e-commerce, seperti posisi pemrograman atau logistik di perusahaan e-tailing. Juga pekerjaan yang sudah ada namun diperbarui oleh perkembangan e-commerce. Seperti pengelola UMKM yang berpindah dari bisnis offline ke online.

2. Konsumen Berhemat Lebih Banyak

Selain produsen dan distributor, tren berbelanja konsumen juga akan mengalami berbagai perubahan. Sejauh ini, kemudahan dalam bertransaksi dan memilih produk telah mendorong jumlah konsumen online diproyeksikan meningkat 25 persen tiap tahun. 

Jumlahnya akan mencapai 65 juta orang pada 2022. Peningkatan popularitas belanja online juga terkait dengan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan berbelanja produk serupa secara offline. Misalnya, konsumen online di Pulau Jawa, terutama daerah urban rata-rata berhemat sekitar 4-14 persen dibanding berbelanja offline.

Ini dikarenakan biaya operasional tinggi membuat harga barang offline makin mahal. Sementara jaringan distribusi yang menyeluruh membuat biaya pengiriman online makin murah.

Berkembangnya e-commerce dapat memungkinkan konsumen di daerah rural atau terpencil untuk menikmati produk yang sebelumnya sulit diakses.

Sementara itu, konsumen online luar Jawa, terutama di daerah terpencil dapat berhemat sekitar 11-25 persen. Dalam kasus ini, berbelanja online jauh lebih murah dikarenakan biaya inventaris distributor barang offline yang tinggi.

Namun, ongkos pengiriman masih berdampak tinggi ke harga barang online. Di sejumlah kota luar Jawa seperti Palembang dan Timika, ongkos pengiriman bisa mencakup 40-50 persen dari total biaya pembelian suatu produk.

3. Mendorong Partisipasi Wilayah Rural

Saat ini, sekitar 70 persen transaksi online Indonesia masih berasal dari empat wilayah urban terbesar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang. Namun, sejumlah tren sejauh ini menunjukkan e-commerce juga dapat menjadi sarana bagi penduduk di wilayah rural.

Hal ini untuk meningkatkan kontribusi dalam ekonomi nasional dan internasional. Transaksi melalui platform e-tailing di wilayah seperti Papua, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Utara meningkat sekitar dua kali lebih cepat dibanding transaksi di Jakarta dari 2013 hingga 2017.

Terutama dalam pembelian. Peningkatan ini berpotensi terjadi lebih cepat seiring dengan bertambahnya penetrasi internet dan daya beli masyarakat.

Secara keseluruhan, penjualan e-tailing dari wilayah rural telah meningkat 2,5 kali lipat sejak 2015 menjadi sekitar Rp 337 juta pada 2017. Sementara itu, pembelian e-tailing meningkat lebih cepat, yaitu empat kali lipat dalam periode yang sama menjadi sekitar Rp 4,9 triliun pada 2017.

Tingginya jumlah pembelian dapat melambangkan bahwa e-commerce berpotensi membantu penduduk wilayah rural untuk membeli gawai yang sebelumnya sulit diakses.