Dulu Cuma Toko di Pasar, Kini Topi Koki Jadi Raksasa Beras di Indonesia

Topi Koki adalah salah satu produsen beras terlaris di Indonesia. Di akhir Agustus 2018, harga saham mereka (Kode: HOKI) juga stabil banget. Akibatnya gak sedikit analis yang merekomendasikan investor memborong saham yang satu ini.

Ada cerita menarik di balik perusahaan pendiri beras Topi Koki, PT Buyung Poetra Sembada.  Mungkin kamu bakalan kaget dengan asal usul perusahaan yang juga memproduksi beras merek Sentra Ramos ini. Setelah kaget, kamu bakal terinspirasi deh.

Penasaran dengan cerita di balik kesuksesan beras yang selalu ada di supermarket besar itu? Yuk simak ulasannya di sini.

Dulu cuma pedagang beras di Cipinang

TOPIKOKI BAWA HOKI

A post shared by Beras Topi Koki (@topikoki_indonesia) on

Merek beras ini berasal dari sebuah toko bernama Toko Bujung yang didirikan tahun 1977 di Palembang. Bujung diambil dari nama pendiri toko tersebut, Bujung Sukarto (senior).

Toko ini kemudian diwariskan ke generasi keduanya yang namanya sama-sama Bujung Sukarto (junior). Pada tahun 2003, Bujung junior pindah dari kampung halamannya dan mulai membuka toko di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur.

Berdagang beras emang merupakan tradisi turun temurun dari keluarga pendiri brand Topi Koki ini. Mereka jelas menguasai betul seluk beluk dagang beras.

Meningkatkan mutu beras dagangannya

Sejak awal berbisnis, generasi kedua Bujung Sukarto tahu bahwa keuntungan dagang beras cukup tipis. Untung sekilo Rp 100 perak pada saat itu aja udah syukur.

Oleh karena itu, Bujung akhirnya melakukan inovasi dengan mengolah ulang beras. Dia gak pengin masyarakat dapat beras yang ada batu dan sejenisnya.

Mereka pun mengeluarkan modal buat beli mesin giling, stoner, pemisah menir, hingga mesin pemisah warna, biar kualitas beras yang dijual jadi bagus.

Asal kamu tahu nih, teknologi pengolahan beras Topi Koki bukan sembarangan. Mereka melakukan riset hingga ke Jepang, Cina, Thailand, dan berbagai macam negara lainnya. Teknologi mereka jelas bukan asal pasang.

Masuk pasar modern

Pada tahun 2005, PT Buyung Poetra Sembada gencar melakukan penetrasi ke pasar-pasar modern. Mereka gak puas cuma bisa jadi jagoan di pasar tradisional.

Mereka pun memasuki Alfamart, Hypermart, Carrefour, Hero Giant, Superindo. Lotte, Yogya, dan lainnya. Segala modernisasi produk pun dilakukan oleh PT Buyung Poetra Sembada.

Akhirnya pada tahun 2015 Topi Koki memperoleh sertifikasi ISO 9001-2008.

Gak punya sawah

Bisa jadi ini poin paling menarik. Sebagai produsen beras, mereka ternyata gak punya sawah sendiri. Lho, kok bisa?

Jadi gini… mereka membeli beras dari petani yang ada di lima provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan. Berasnya harus dari dataran tinggi. Setelah itu beras diolah kembali. Produk itu yang mereka jual dengan nama Topi Koki.

Pada tahun 2015, PT Buyung Poetra Sembada punya pabrik pengolahan beras berkapasitas 259 ribu ton.

Berbekal investasi saham, mereka pun berani melantai di bursa saham

Bujung Sukarto junior adalah orang yang hobi berinvestasi saham. Dalam wawancaranya di media, Bujung mengaku bahwa sejak 1996 dia rajin berinvestasi saham.

Perusahaan akhirnya melantai karena dorongan dari rekan-rekannya Bujung.

Pada Desember 2015, mereka melakukan IPO dengan menawarkan sahamnya sebesar Rp 400 hingga 500 perak per lembar.

Tiga tahun berselang, harganya udah naik hampir dua kali lipat. Pada Agustus 2018, saham PT Buyung Poetra Sembada dibanderol Rp 900an perak per lembar.

Itulah kisah perjuangan Topi Koki yang dulu cuma toko beras di pasar hingga akhirnya jadi raksasa beras yang sahamnya selalu direkomendasikan. Bujung dan usahanya jadi bukti kalau peran inovasi penting banget buat mengembangkan sebuah bisnis.