Digandrungi Para Lelaki Kekinian, Ini Kisah Sukses Sepatu Brodo

Para cowok yang ngerti fashion pasti tahu sepatu Brodo. Selain merek ini adalah merek lokal, karya anak bangsa ini dikenal karena kualitasnya.

Brodo emang benar-benar memerhatikan kualitas dalam setiap produk yang dihasilkannya. Kulit yang melekat di sepatu mereka pun bukan kulit abal-abal, tapi beneran kulit asli.

Karena itu, jangan kaget kalau sepasang sepatu kulitnya dihargai Rp 500 ribu. Malah ada yang harganya sampai Rp 950 ribu.

Kepopuleran sepatu Brodo cepat menyebar di kalangan anak muda. Yang mulanya cuma dikenal Bandung, akhirnya merambah juga ke Jakarta dan kota-kota lainnya.

Karena tingginya permintaan, sejumlah outlet dibuka di beberapa kota di Indonesia, seperti di Jakarta, Bandung, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, Surabaya, Yogyakarta, hingga Makassar.

Di balik suksesnya sepatu Brodo sekarang ini, siapa sangka hadirnya sepatu ini berawal dari ketidaksengajaan Yukka Harlanda si pendiri Brodo. Gimana kisahnya? Yuk ikuti ulasannya berikut ini.

Ukuran kaki gak wajar yang berbuah hoki

Brothers Foevaa! -Kompas 30 Juni 2018

A post shared by Muhammad Yukka Harlanda (@yukkaharlanda) on

Ukuran kaki Yukka Harlanda yang gak normal siapa sangka bikin dirinya merintis usaha toko sepatu. Pria kelahiran 18 Juli 1988 ini memiliki ukuran kaki 46. Ukuran yang jarang dimiliki orang-orang seusianya. Karena ukurannya yang besar itu, ia sering kerepotan saat hendak membeli sepatu formal.

Sekalipun ada yang pas buat ukuran kakinya, ia merasa kurang tertarik dengan modelnya. Dan lagi pula harga sepatu yang ditawarkan kepadanya terbilang mahal. Sebab ia mesti impor sepatu tersebut.

Yukka yang waktu itu berstatus sebagai mahasiswa teknik sipil ITB pun mencari cara supaya bisa mendapatkan sepatu yang diinginkan.

Sang sahabat, Putera, akhirnya menyarankan untuk pergi ke wilayah Cibaduyut, sebuah sentra sepatu yang ada di Kota Bandung. Namun sesampainya di sana, ia dapat penolakan karena cuma memesan sepasang sepatu.

Beruntung, ada satu vendor yang mau terima pesanan Yukka. Di tangan vendor inilah konsep sepatu rancangannya sukses dibuat.

Melihat Yukka memakai sepatu baru, teman-temannya pun bertanya dari mana ia mendapatkannya. Yukka yang kebetulan kepengin buka usaha melihat ada peluang menguntungkan yang bisa ia petik. Dari sinilah ide buat buka usaha sepatu Brodo bermula.

Bersama sahabatnya Putera Dwi Karunia, temannya satu jurusan di ITB, mereka memesan 40 pasang sepatu dengan modal patungan. Modal Rp 3,5 juta dari tabungan Yukka, sedangkan Rp 3,5 juta lagi dari Putera.

Dengan modal Rp 7 juta itulah, mereka mulai bisnis sepatu pada 2010. Ini sekaligus sebagai awal dimulainya usaha sepatu Brodo.

“Kaldu ayam” yang menjelma jadi merek ternama

Menjadi seorang pria sejati berarti harus mampu keluar dari zona nyaman, berpetualang bahkan hingga ke ujung dunia untuk meraih mimpi dan meraih jutaan pelajaran berharga dalam setiap perjalanan. . Bertualanglah bersama Ventura, yang varian terbarunya kini menjadi bagian dari koleksi Brodo E+ Series. Material sepatu yang kuat dan tahan bating siap menemani perjalanan brothers bahkan pada medan yang sulit. . Bro @biaspurbandaru sudah membuktikan kekuatan dan kenyamanan dari Ventura. Brothers jangan mau ketinggalan! . Bertualang bersama brodo E+ Series dan jadilah pejuang tangguh meraih mimpi! . Yuk bagikan zona nyaman Brothers bersama sepatu Brodo se-kreatif mungkin dengan menggunakan #BrodoEplus dan nantikan kejutan spesial dari Om Bro . Kunjungi web https://rebrand.ly/BroEplusSeries untuk info E+ selengkapnya . [email protected] : @bro.do  Whatsapp (non call center): 081316914381  Call Center: 08118545555 . . . #KaryaAnakMagang #BrodoGentlemen #menstyle #kicksinframe #leathershoes #MadeinIndonesia #WeHaveABrightFuture #SalamGentlemen

A post shared by BRO.DO (@bro.do) on

Saat Yukka dan Putera mulai menjalankan usaha jual sepatu ini, nama Brodo sebenarnya belum dipakai waktu itu. Sementara itu, gak disangka-sangka penjualan 40 pasang sepatu kulit semi-bot Signore yang dijual seharga Rp 375 ribu sepasang laku keras.

Daripada sepatu mereka dijual tanpa nama, mereka terpikir buat memberikannya merek. Maka muncullah nama Brodo yang berarti kaldu ayam. Nama itu pun didapatnya karena kegemaran mereka membaca komik.

Berawal dari jualan langsung ke mahasiswa, Yukka dan Putera pun memutuskan buat mengembangkan Brodo lebih besar lagi.

Mereka pun akhirnya mendirikan perusahaan yang diberi nama PT Brodo Ganesha pada tahun 2012. Sejak itu, mereka memproduksi lebih dari 5.000 pasang sepatu.

Tentu aja keputusan besar yang mereka ambil membawa konsekuensi yang lebih besar dari sebelumnya. Semisal membuat outlet baru dengan pinjaman dari bank. Mereka pernah menunggak bayar cicilan. Lebih buruknya lagi pemberian gaji karyawan juga ikut tertunggak.

Namun, semua itu mampu mereka atasi. Buktinya, Brodo mampu meraup omzet hingga Rp 300 juta per bulan pada tahun 2014 dengan penjualan lebih dari 6.000 pasang.

Bahkan, di usia Yukka dan Putera yang belum genap 30 tahun, mereka udah mampu mempekerjakan lebih dari 138 karyawan.

Buat mereka, yang paling penting dan utama adalah kepuasan konsumen. Sebab konsumen yang puas bakal percaya dan mau beli lagi sepatu Brodo.

Ke depan, mereka berharap semakin banyak yang menyukai sepatu Brodo. Sebab dengan begitu, produk dalam negeri bisa bersaing dan lebih maju dibanding produk-produk luar.

Itulah kisah gimana sepatu Brodo bisa sukses seperti sekarang. Kehebatan Yukka dan Putera dalam menangkap peluang bikin mereka menjadi pengusaha sukses sekarang.

Dengan memaksimalkan potensi yang ada dan memberikan penawaran yang baik, sepatu Brodo jadi favorit banyak orang.