Debat Cawapres: Kritik Sandiaga Uno soal Ujian Nasional, BPJS Hingga Kartu Pra-Kerja

Sandiaga Uno dan Ma’ruf Amin beradu argumen selama 90 menit dalam debat calon wakil presiden (cawapres) putaran ketiga di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Maret 2019 malam.

Kedua kandidat cawapres mengutarakan perbedaan fokus program yang bertema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan kebudayaan.

Dalam debat cawapres itu, Sandiaga Uno melontarkan sejumlah kritikan terhadap pemerintah. Sementara itu, Ma’ruf Amin mengatakan akan ada 3 ‘kartu sakti’ jika menang di Pilpres 2019. Ma’ruf mengatakan 3 kartu ini dibuat sebagai tanda hadirnya negara.

‘Kartu sakti’ tersebut yaitu Kartu Kuliah, Kartu Sembako Murah, Kartu Pra-Kerja. Bak kartu truf, Ma’ruf menggambarkan ketiga kartu ini bisa jadi solusi masyarakat dalam menghadapi masalah biaya pendidikan, kebutuhan dapur, hingga modal mendapat kerja.

Untuk kartu Pra-Kerja, Ma’ruf mengungkapkan, pihaknya akan insentif atau honor antara 6 bulan hingga satu tahun untuk modal mendapatkan kerja.

Berikut, hasil debat cawapres antara calon wakil presiden nomor urut 02 dan cawapres nomor urut 01 dari program-program baik dari pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan kebudayaan:

Sektor pendidikan

Sandiaga Uno dan Ma'ruf Amin (Instagram/@sandiuno)
Sandiaga Uno dan Ma’ruf Amin (Instagram/@sandiuno)

Ma’ruf di sektor pendidikan berencana membuat Badan Riset Nasional sebagai lembaga koordinasi antara kementerian dan lembaga untuk mengelola dana riset.

Cawapres dari kubu Joko Widodo (Jokowi) itu menilai, badan riset tersebut bukan menambah kelembagaan, melainkan efektivitas kolaborasi antara pemerintah, akademikus, dunia usaha, dan industri.

“Kami sudah sepakat untuk menyediakan dana abadi riset, di samping dana abadi pendidikan, dan dana abadi kebudayaan,” kata Ma’ruf.

Mendengar pemaparan pria 76 tahun itu, Sandiaga berpendapat, rencana itu tidak efektif. Dia menilai, kehadiran badan itu berpotensi menambah rantai birokrasi dalam pengelolaan riset.

Suami Nur Asia Uno itupun memprioritaskan kolaborasi antara periset dan industri karena banyaknya hasil riset yang tak tersambung dengan dunia usaha.

“Kami akan memastikan dunia usaha mendapatkan insentif untuk investasi di dunia riset, baik fiskal maupun non-fiskal,” ungkapnya.

Di sektor ini, Sandiaga juga berencana menghapus ujian nasional (UN), serta menggantinya dengan penelusuran minat dan bakat.

Selain itu, Sandiaga juga mengungkapkan, pihaknya juga akan menerapkan konsep sekolah link and match. Artinya, penyedia lapangan kerja dan pencipta lapangan kerja tersambung dengan sistem pendidikan.

“Kami juga memiliki konsep sekolah link and match di mana kita hadirkan penyedia lapangan kerja dan pencipta lapangan kerja tersambung dengan sistem pendidikan,” ujar mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu.

Baca juga: Jadi Pengusaha dengan Harta Rp 4,4 Triliun, Ini 5 Tips Sukses Sandiaga Uno

BPJS kesehatan

Sandiaga Uno dan Ma'ruf Amin saat debat cawapres (Instagram/@sandiuno)
Sandiaga Uno dan Ma’ruf Amin saat debat cawapres (Instagram/@sandiuno)

Perbedaan pendapat minim terjadi sewaktu kedua kandidat berdebat persoalan di sektor kesehatan. Ma’ruf menyoroti capaian pemerintah dalam program Jaminan Kesehatan Nasional melalui Kartu Indonesia Sehat.

Dia berfokus untuk peningkatan kualitas layanan disertai dengan distribusi tenaga medis dan suplai obat-obatan yang merata. Ma’ruf pun menyebutkan langkah preventif dan promotif kesehatan melalui Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga.

“Ini bisa mencegah stunting. Mendatang, kami menargetkan angka stunting turun 10 persen,” imbuhnya.

Sandiaga mengkritik pengelolaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Selain diskriminasi dalam pelayanan pasien BPJS, dia menyinggung permasalahan pengelolaan BPJS seperti tenaga medis yang tak mendapatkan bayaran tepat waktu, pelayanan rumah sakit yang buruk, dan ketersediaan obat yang terbatas.

“Kami akan membenahi sistem rujukan. Kami melihat pola rujukan menjadi pola pelayanan kesehatan agar tak menunggu berjam-jam di rumah sakit,” kata dia.

Baca juga: 8 Seleb Jadi Tim Pemenangan Jokowi dan Prabowo, dari Cathy Sharon Sampai Eko Patrio

Kartu Pra-Kerja

Sandiaga Uno dan Ma'ruf Amin saat debat cawapres (Capture Metro TV)
Sandiaga Uno dan Ma’ruf Amin saat debat cawapres (Capture Metro TV)

Kedua kandidat cawapres turut membahas strategi mengatasi persoalan pengangguran. Ma’ruf mengatakan, kubu Jokowi berfokus pada revitalisasi pendidikan vokasi, baik sekolah kejuruan, politeknik, maupun balai latihan kerja.

Melalui Kartu Pra-Kerja, mereka mengajak dunia usaha dan industri untuk mengatasi kesesuaian kebutuhan tenaga kerja dan ketersediaan lapangan kerja.

“Pemerintah sudah membangun infrastruktur darat, laut, udara, dan langit melalui Palapa Ring. Kami mendorong tenaga kerja kita menguasai teknologi, terutama teknologi digital,” bebernya.

Program ini merupakan proyeksi Jokowi-Ma’ruf dalam hal peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan pertama kali dikenalkan Jokowi saat Konvensi Rakyat pada 24 Februari 2019.

Dengan Kartu Pra-Kerja, lulusan SMA/SMK/sederajat dan lulusan perguruan tinggi akan mendapatkan pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan pemerintah. Diharapkan, penerima Kartu Pra-Kerja langsung ditempatkan di bidang pekerjaan tertentu.

Jika masih belum mendapatkan pekerjaan, penerima Kartu Pra-Kerja akan diberi insentif oleh pemerintah dalam jangka waktu tertentu.

OK OCE

Sandiaga Uno Rumah Siap Kerja (Instagram/@sandiuno)
Sandiaga Uno Rumah Siap Kerja (Instagram/@sandiuno)

Jika Ma’ruf Amin dan Jokowi akan mengeluarkan Kartu Pra-kerja, Sandiaga menyiapkan Rumah Siap Kerja untuk mengatasi kesenjangan kompetensi tenaga kerja dan lapangan kerja yang tersedia.

Program layanan satu pintu itu, menurut dia, bertujuan untuk mengarahkan tenaga kerja menjadi wirausaha.

“Kalau bisa, mereka bisa bergabung dengan program OK OCE. Kami yakin mereka bisa mendapat peluang,” imbuh pria 49 tahun ini.

Debat sempat memanas ketika menyinggung keberadaan tenaga kerja asing. Ma’ruf menyatakan pekerja asing diperbolehkan dengan diiringi transfer pengetahuan dan teknologi kepada pekerja lokal.

“Supaya anak-anak kita terampil dan memiliki akses keuangan,” kata dia.

Sementara itu, Sandiaga berpendapat pekerja asing di Indonesia harus menguasai bahasa Indonesia. “TKA harus terukur dengan aspek keadilan,” imbuh Sandiga.

Itulah hasil debat cawapres dengan program bertema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan kebudayaan dari kedua kubu. Bagaimana menurut kamu?