Dari Jual Gorengan Sampai Cilok, 5 Pemilik Usaha Kecil Ini Sekarang Jadi Jutawan!

Usaha kecil-kecilan dengan untung besar bukan cuma mimpi. Jika saat ini kamu ingin mulai memiliki usaha tapi terkendala modal. Percayalah, modal berupa materi memang penting, tapi bukanlah satu-satunya modal yang diperlukan untuk sukses berbisnis.

Beberapa pengusaha di bawah ini berhasil menunjukkan bahwa dengan modal minim, usaha kecil-kecilan pun bisa beromset miliaran. Mau berdagang gorengan atau berjualan cilok, semua usaha gak bisa dipandang sebelah mata.

Masih belum percaya usaha kecil-kecilan bisa bikin jadi jutawan? Lima kisah di bawah inilah bukti nyatanya. Yuk simak bersama.

1. Penjual Gorengan Cendana, omset Rp 4 juta per hari

usaha kecil-kecilan
(Image: Penayasin)

Kamu yang tinggal di Bandung, mungkin sudah gak asing dengan Gorengan Cendana. Walau lokasinya di Bandung, pemiliknya H. Yusuf Amin adalah perantau asal Cirebon. Dari usaha gorengan ini, pada 2012,  Pak Yusuf telah berhasil mendapatkan omset harian hingga Rp 3-4 juta.

Sebelum sukses seperti saat ini, Pak Yusuf pernah mencoba berjualan sekoteng usai Isya di daerah Cihaurgeulis. Sayangnya, setelah dua tahun berlalu, usahanya tak memberi hasil yang memuaskan. Ia pun memutuskan menjadi pedagang gorengan.

Nama Cendana berasal dari lokasi tempat Pak Yusuf berjualan. Semula ia berjualan didampingi istri dan anaknya yang saat itu masih berusia dua tahun. Jerih payahnya akhirnya membuahkan hasil usai bertahun-tahun berjualan. Kini, ia telah memiliki belasan karyawan dan beberapa rumah tinggal.

2. Jualan jus dapat omset Rp 10 juta per hari

usaha kecil-kecilan
(Image: Icaanajmi)

Untuk sukses berbisnis, kejelian melihat peluang adalah salah satu kuncinya. Hal inilah yang dibuktikan oleh Nidya, perempuan kelahiran Pekanbaru yang baru berusia 21 tahun. Nidya memanfaatkan tingginya animo masyarakat terhadap dessert Thailand pada 2017 lalu.

Kini, Ia telah sukses berbisnis minuman sehat berbahan dasar mangga yang ia namakan Monggo Pku. Monggo Pku resmi dibuka pada 6 September 2017 lalu. Dengan bantuan seluruh anggota keluarganya, usahanya tersebut telah menghasilkan omset hingga Rp 10 juta per hari.

Tiap harinya, Monggo Pku berhasil terjual hingga 500 cup dengan harga jual Rp 25 ribu per cup. Hebatnya, pelanggan Monggo Pku tak hanya berasal dari kota Pekanbaru, melainkan juga kota-kota lain seperti Batam, Palembang, dan Bangkinang.

Nidya mengaku akan menggunakan keuntungan dari Monggo Pku untuk biaya kuliahnya.

3. Jualan bubur, omset Rp 4 juta per hari

usaha kecil-kecilan
(Image: Merdeka)

Tukang bubur naik haji bukan hanya dalam sinetron aja. Abah Odil, seorang pedagang bubur ayam telah berhasil memiliki omset hingga Rp 1,3 miliar per tahun atau sekitar Rp 4 juta per hari dari usahanya tersebut.

Saat ini, ia telah memiliki 4 cabang di kota Malang dengan penjualan per cabangnya sekitar 350-400 mangkok dalam sehari. Tahun 2016 lalu, Abah Odil pun berhasil menunaikan ibadah haji dari penghasilannya berjualan bubur ayam.

Melihat kesuksesannya saat ini, siapa sangka usaha bubur ayam yang dijalani Abah Odil adalah bisnis yang ke-19 setelah sebelumnya mengalami berbagai kegagalan. Menurutnya, butuh kerja keras dan kesabaran untuk mendapatkan keuntungan besar seperti saat ini.

 

4. Jualan cilok, omset Rp 13 juta per hari

usaha kecil-kecilan
(Image: Liputan6)

Ditipu berkali-kali oleh rekan bisnisnya, bisnis usaha kontraktor Asep harus gulung tikar. Bangkrut dan terlilit hutang, Asep pun banting setir menjadi pedagang cilok.

Bermodalkan uang arisan sang istri sebesar Rp 3 juta, ia pun nekat berjualan. Saat ini, Asep telah memiliki sekitar 300-an gerobak cilok di berbagai kasawan Jabodetabek.

Ada tiga kunci sukses yang diyakini Asep hingga saat ini, yaitu tekad kuat, keberanian, dan kejujuran. Dari semua outlet yang ia miliki, ia berhasil mendapatkan omset hingga Rp 400 juta dalam sebulan. Gak heran jika sekarang ia dijuluki sebagai juragan cilok.

5. Jualan seblak instan, omset Rp 16 juta per hari

usaha kecil-kecilan
(Image: Tokopedia)

Raih omset hingga miliaran dari berjualan seblak, emang bisa? Hal inilah yang sukses dilakukan Lofty Rainidi Kusnadi. Melihat banyak orang di sekitarnya yang menyukai seblak, ia mendapatkan ide untuk berbisnis seblak basah dengan konsep yang sedikit berbeda.

Menurut Lofty, walau terbilang mudah, membuat seblak basah tetap saja menyita waktu. Pada Desember 2012 lalu, ia pun terpikir untuk menciptakan seblak dengan konsep makanan instan bernama Mommyindo. Para penikmat seblak basah dapat menyeduh seblak Mommyindo secara praktis dalam waktu 5 menit layaknya membuat mi instan cup.

Ternyata, konsep seblak instan ini ramai peminat. Dalam sehari, Mommyindo laris terjual hingga 3000 cup dengan harga jual Rp 10-12 ribu per cup. Dari berbisnis seblak, Lofty berhasil meraih omset hingga Rp 500 juta perbulan atau sekitar Rp 6 miliar per tahun.

 

Lima pemilik usaha di atas mengaku bisnisnya tak selalu berjalan mulus. Beberapa di antaranya bahkan telah mengalami kegagalan berkali-kali sebelum berhasil dengan bisnis yang dijalaninya saat ini. Tekad yang kuat dan pantang menyerah menjadi modal penting mereka dalam berbisnis.

Jadi, udah siap jalani usaha kecil-kecilan milikmu sendiri?