Dapat Bonus dari Kantor, Aku Kudu Piye?

Dapat bonus dari kantor, siapa yang gak mau? Sejumlah dana tambahan di luar gaji utama ini sangatlah diharapkan sekaligus dikhawatirkan.

Bonus adalah bentuk apresiasi kantor buat pegawainya. Meski bukan kewajiban, pemberian bonus selalu diharap-harapkan oleh karyawan.

Ada setidaknya lima jenis bonus karyawan, yaitu bonus tahunan, bonus prestasi, retensi, gaji ke-13, dan profit sharing. Bonus tahunan diberikan sekali atau dua kali dalam setahun atas adanya keuntungan perusahaan.

Adapun bonus prestasi diberikan atas kinerja karyawan terkait. Kemudian retensi merupakan bonus “suap” untuk karyawan tertentu yang hendak mengundurkan diri tapi dicegah. Sedangkan gaji ke-13 umumnya diberikan ke pegawai negeri sipil.

Profit sharing mungkin menjadi bonus yang paling tidak familier di telinga kebanyakan orang. Bonus ini diberikan atas adanya keuntungan perusahaan kepada karyawan yang memiliki porsi saham di perusahaan tersebut.

Beberapa perusahaan menjalankan kebijakan memprioritaskan karyawan jika hendak membeli saham di sana. Jika punya saham, karyawan diharapkan bisa bekerja lebih giat karena keuntungan perusahaan berarti keuntungan pula buat karyawan itu.

Dana dari bonus bisa jadi tambahan uang belanja. Juga untuk keperluan lainnya, seperti biaya sekolah anak hingga liburan.

[Baca: Mulai Sekarang, Berani Bilang “Tidak” untuk Gaji Kecil. Gini Caranya Ngukur Gajimu Kecil atau Gak]

Namun dapat bonus, di sisi lain juga menimbulkan kekhawatiran. Sebab, adanya rezeki nomplok ini bisa menggoda nafsu boros dalam setiap individu, terutama yang memang susah mengatur keuangan atau abai terhadap pentingnya menjaga kekokohan finansial.

Karena itulah muncul pertanyaan klasik, “Kalau dapat bonus dari kantor, saya harus bagaimana?” Apakah dihabiskan? Ditabung saja? Diberikan ke orang tua?

Untuk membantu menjawabnya, poin-poin pertanyaan ke diri sendiri berikut ini bisa dipertimbangkan:

Sudahkah kebutuhan terpenuhi?

dapat-bonus
Hati-hati investasi bodong, bisa lenyap semua bonus tanpa hasil (bahananusantara)

Tengok lagi daftar kebutuhanmu. Kalau belum punya, bikin dulu. Kebutuhan itu antara lain bayar utang, jaminan kesehatan, biaya pendidikan anak, hingga investasi. Intinya adalah hal yang harus dipenuhi agar tak terjadi masalah.

Liburan bisa menjadi kebutuhan, namun kebutuhan tersier alias tak begitu wajib dipenuhi. Kalau kebutuhan primer dan sekunder sudah terpenuhi, barulah memikirkan kebutuhan tersier.

Bila mendapat bonus, sebaiknya alokasi utama ditujukan untuk kebutuhan primer. Bila mendesak, alokasikan semua bonus untuk hal ini. Misalnya ada utang yang harus dibayar segera. Jika tidak, aset terancam disita.

Kebutuhan berupa jaminan kesehatan mungkin yang paling sering luput dicermati. Padahal kebutuhan ini tak kalah penting. Jaminan kesehatan bisa didapatkan dari asuransi, termasuk BPJS Kesehatan.

[Baca: Buat Sebagian Orang, Sistem Komisi Lebih Menarik daripada Gaji. Ini Dia Alasannya]

Jadi, mengalokasikan bonus untuk mengikuti program asuransi dan BPJS Kesehatan juga merupakan ide bagus karena juga bisa menjadi sarana investasi masa depan. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada masa depan, termasuk bila kecelakaan menimpa atau menderita sakit parah. Jika ada jaminan kesehatan, kekhawatiran itu bisa lebih ditekan.

Apakah ada yang lebih butuh?

dapat-bonus
Jangan keblinger kalau dapat bonus, tetap mesti rasional (lentilla.info)

Sebagai anggota sebuah keluarga, tak ada salahnya ikut memikirkan masalah keluarga. Bahkan jika sudah punya keluarga sendiri, terpisah dari orang tua.

Misalnya ada adik yang sedang sakit dan butuh biaya pengobatan. Kita bisa saja alokasikan bonus sekian persen buat membantu meringankan biaya tersebut. Apalagi jika orang itu adalah anggota keluarga sendiri, seperti suami/istri dan anak.

Persentase alokasi bonus untuk poin ini harus dihitung berdasarkan kebutuhan dan status orang tersebut. Tentunya suami/istri dan anak bakal lebih diprioritaskan ketimbang saudara.

Lantas bagaimana dengan orangtua? Percayalah, kebanyakan orangtua tak mengharapkan apa-apa selain kesuksesan anaknya. Bila dapat bonus, salah satu cara berbagi kepada orangtua adalah mengajaknya makan-makan bersama. Itu juga sudah membahagiakan, karena mereka merasa mendapat perhatian.

Buat senang-senang boleh?

dapat-bonus
Liburan bareng keluarga bisa dipilih, terutama jika jarang berlibur (banjarmasin.tribunnews)

Tentu saja sangat boleh. Liburan ke Thailand, makan steak mahal, atau nonton maraton di bioskop, misalnya.

Apalagi jika masih jomblo alias tak punya pasangan/keluarga sendiri. Namun harus lihat lagi pertanyaan reflektif di atas. Apakah kebutuhan sudah terpenuhi?

[Baca: Buat yang Gajinya Rp 5 Juta, Atur Uangmu Kayak Gini Biar Gak Bokek Terus]

Karena itulah penting untuk membuat klasifikasi apa saja kebutuhan dan keinginan, agar duit bonus tak terbuang sia-sia. Dengan adanya klasifikasi, kita pun bisa membuat persentase atau porsi bonus berdasarkan prioritas.

Porsi buat kebutuhan harus lebih besar ketimbang keinginan. Dengan cara itulah kita bisa bijak saat dapat bonus, sehingga lebih berfaedah buat kondisi finansial.

Tidak lucu dong kalau masih punya banyak utang tapi bonus dipakai buat liburan. Itu lebih dari sekadar tidak bijak, melainkan menjadi bentuk bunuh diri finansial. Yuk, bijak memanfaatkan bonus dari kantor.