Cuma Tamatan SD, Sosok Ini Sekarang Bisa Jadi Konglomerat Tajir

Kamu mungkin udah gak asing sama nama Eka Tjipta Widjaja, sang pendiri Sinar Mas Group ini. Pada 2011, ia pernah menduduki peringkat ke-3 orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes. Selanjutnya, ia menjadi orang pertama terkaya di Indonesia menurut Majalah Globe Asia edisi Desember 2012 dengan kekayaan US$ 8,7 miliar.

Tapi, udah tahu belum kalau konglomerat keturunan Tionghoa ini ternyata hanya lulusan SD? Gara-gara gak punya uang buat melanjutkan pendidikan, usai lulus SD, ia justru sibuk berjualan keliling dengan sepeda.

Buat kamu yang lagi risau karena kerjaan gak kunjung lancar atau bahkan mulai putus asa gara-gara usaha belum kelihatan hasilnya, jangan sedih dulu. Yuk, kita belajar sama-sama dari kisah perjalan hidup Eka Tjipta Widjaja berikut ini.

1. Gak punya uang, ia pernah tidur di dek bawah kapal

Pada umur 9 tahun, Eka dan ibunya bermigrasi dari Fujian, Republik China ke Makassar. Ia berlayar selama tujuh hari tujuh malam dan tidur di dek atau lantai kapal bagian paling bawah. Untuk pindah ke Indonesia, mereka berutang ke rentenir sehingga gak punya cukup uang untuk makan enak dan bergizi.

2. Bekerja serabutan usai lulus SD

eka tjipta widjaja
(Image: biografiku)

Di Makassar, ia menyusul ayahnya yang telah tiba lebih dulu dan menjalankan toko kecil di sana. Selama dua tahun berdagang, barulah mereka bisa melunasi utang-utangnya.

Oleh sebab itu, Eka hanya bisa sekolah hingga SD. Usai lulus, ia membantu orangtuanya berjualan barang-barang dari toko ayahnya. Berkeliling secara door-to-door dengan sepeda.

3. Menjadi pengusaha sejak remaja

eka tjipta widjaja
(Image: alchetron)

Pada usia 15 tahun, Eka mencari pemasok kembang gula dan biskuit untuk bekerja sama dengannya. Hanya bermodalkan ijazah SD, tentu aja banyak yang menolaknya.

Tapi, hal ini gak bikin Eka menyerah, sampai ia berhasil mendapatkan pemasok. Akhirnya ia memiliki usaha sendiri yang berhasil memberikan keuntungan yang lumayan hanya dalam waktu dua bulan.

4. Jepang datang, bisnisnya hancur seketika

Saat usahanya mulai menjanjikan, Jepang datang menjajah dan membuat bisnisnya hancur tak bersisa. Ia pun terpaksa menjadi pengangguran.

Walau begitu, otaknya gak berhenti mencari jalan keluar. Saat berjalan-jalan di lingkungan dekat rumahnya, ia melihat ratusan tentara Jepang dan tumpukan terigu, semen, dan gula tak terpakai.

Besoknya, ia sudah siap membuka lapak di sana dengan membawa bahan minuman dan enam ekor ayam yang telah dimasak. Gara-gara sepi peminat, ia akhirnya mentraktir bos tentara Jepang di lokasi tersebut.

Strateginya ini berhasil membuat tentara tersebut membiarkan anak buahnya datang ke lapak Eka. Eka juga bahkan mendapat izin mengangkat semua barang terbuang yang kemudian ia jual kembali.

5. Kerja keras memanfaatkan tiap kesempatan

Gak cuma berjualan bahan-bahan seperti terigu, dengan semen yang ia dapatkan ia juga mencoba menjadi kontraktor pembuat kuburan, berjualan kopra –daging buah kelapa yang dikeringkan–, gula, wijen, dan teng teng (makanan Khas Makassar). Lagi-lagi saat usahanya mulai menunjukkan hasil, harga gula jatuh sehingga ia gulung tikar.

6. Berkali-kali gagal, tak pernah membuatnya menyerah

Eka terus berusaha dan kerja serabutan walau bisnis yang dijalaninya sering jatuh bangun. Pada tahun 50-an, dagangannya dijarah oknum tertentu sampai tak bersisa.

Tiga pulun tahun kemudian, pada 1980 ia membeli 10 ribu hektar lahan perkebunan kelapa sawit di Riau. Ia juga membeli mesin dan pabrik yang memuat 60 ribu ton kelapa sawit.

Bisnisnya berkembang pesat, hanya dalam waktu 1 tahun,  ia berhasil membeli hingga 1000 hektar perkebunan dan pabrik teh dengan kapasitas 20 ribu ton teh.

7. Melebarkan sayap bisnis di segala bidang

Dengan hasil dari bisnis kelapa sawit dan teh, ia membeli Bank Internasional Indonesia (BII) dengan aset mencapai Rp 13 miliar. Di bawah tangan dinginnya, bank tersebut berkembang dari 2 cabang hingga 40 cabang dan aset menjadi Rp 9,2 triliun.

Setelah bank, ia mencoba bisnis kertas dengan membeli PT Indah Kiat. Ia juga membangun ITC Mangga Dua, Green View Apartemen, dan Ambassador di Kuningan.

Selain bisnis, ia juga membangun Eka Tjipta Foundation (ETF)  yang berfokus pada pemberdayaan dan pembinaan, ekonomi masyarakat, dan pelestarian lingkungan hidup.

Eka Tjipta Widjaja
(Image: cancer-treatment)

Itulah kisah sukses Eka Tjipta Widjaja yang penuh inspirasi. Bukan satu atau dua tahun, tapi butuh belasan hingga puluhan tahun hingga Eka berhasil meraih kesuksesan dan jadi konglomerat.

Hal ini jadi bukti nyata bahwa sukses gak bisa diraih secara instan. Kerja keras, selalu belajar, dan pantang menyerah jadi tiga kunci yang juga penting.

Pendidikan memang penting, tapi kiprah Eka Tjipta Widjaja adalah bukti keterbatasan dan kemiskinan bukan hambatan meraih kesuksesan. Sukses dan kaya adalah takdir yang bisa kita ciptakan. Setuju?