Cerdas Salurkan Bantuan ke Korban Bencana

Niat menyumbang… Mungkin itu yang terlintas di kepala kita saat mendengar ada bencana alam yang berturut-turut melanda di Tanah Air. Entah itu tanah longsor, banjir, gempa, gunung meletus, dan lain sebagainya. Berita terakhir, bencana tanah longsor melanda Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Lalu disusul banjir di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Hati langsung tergerak begitu menyaksikan penderitaan korban bencana. Betapa tak miris melihat rumah mereka porak-poranda, kehilangan anggota keluarga, dan ada yang luka-luka serius.

Walaupun tidak saling kenal, kita bisa melakukan sesuatu untuk meringankan beban mereka yang mengalami bencana. Bentuk bantuannya bisa makanan, pakaian, obat-obatan, dan uang. Tapi sebelum merealisasikan niat mendonasikan sebagian harta, pertanyaan klasiknya adalah,”Kemana bantuan itu disalurkan? Lembaga yang mana ya?”

Harus diakui, mencari lembaga penyalur sumbangan yang 100% bersih dan ideal itu bukan perkara gampang. Tapi bukan berarti tak ada ya. Meski belum ideal, cuma bisa memilih lembaga yang sebersih dan seideal mungkin.

Masalahnya, kita baru sibuk cari-cari lembaga yang itu pada saat terjadi bencana. Kan banyak tuh lembaga-lembaga yang menyatakan diri siap menyalurkan donasi dari masyarakat.

Misalnya saja yang berlabel lembaga swadaya masyarakat (LSM), yayasan, lembaga amal dan zakat (LAZ), dan lain-lain. Mereka ini gencar mempromosikan diri. Ada yang pakai iklan di televisi, brosur, sampai menyebarkan petugas door to door.

Jelas saja ini membuat usaha meneliti lembaga yang kredibel dalam urusan penyaluran bencana memang makan waktu lama. Padahal di saat bersamaan, bantuan kita diharapkan sesegera mungkin disalurkan.

Nah, biar tak kalang kabut dan kebingungan cari lembaga yang tepat, sebaiknya jauh-jauh hari kita sudah mengenal dengan dalam lembaga-lembaga tersebut.

Kok kesannya kita bisa meramalkan bencana yak? Maksudnya bukan di situ. Sebaiknya berpikir bencana itu datang kapan saja dan di mana saja. Dengan begitu kita tak gagap lagi buat memilih lembaga penyalur bantuan di saat bencana datang. Apa saja yang mesti dinilai?

1. Profil lembaga

‘Tak kenal maka tak sayang.” Ini idiom yang pas buat meneliti lembaga sumbangan. Kenali dan dalami profil lembaganya. Paling gampang mengetahui ciri lembaga pengumpul dana sosial resmi adalah memiliki surat keterangan nomor izin dari Kemensos. Selain itu juga mencantumkan apa nama dan bentuk program kemanusiaannya.

Mencari tahunya bisa mengakses situs lembaga tersebut (kan sekarang sudah banyak lembaga yang punya situs sendiri di internet). Atau bisa juga melalui informasi di media massa. Menilai profil lembaga ini juga perlu melihat siapa saja orang-orang yang memimpin lembaga tersebut.

2. Rekam jejak

Perhatikan kiprah lembaga tersebut selama ini. Misalnya saja sejauh mana respons dan reaksinya begitu bencana melanda. Strategi-strategi apa saja yang dilakukan dalam menghadapi bencana. Mulai dari penggalangan dana, penyaluran bantuan, dan aksi-aksi nyata saat di lokasi musibah.

3. Call center

Namanya saja lembaga resmi, pasti ada nomor telepon yang bisa dihubungi bukan? Nah, perhatikan apakah lembaga tersebut memiliki call center untuk berkomunikasi. Entah itu untuk mengkonsultasikan jenis bantuan, caranya, dan lain sebagainya.

4. Transparansi dan Akuntabilitas

Sebagai donatur, kita berhak tahu kepada siapa saja bantuan itu disalurkan. Berapa jumlahnya, dan digunakan untuk apa saja dana tersebut.

Akuntabilitas di sini bermakna pertanggungjawaban. Lembaga penyalur bantuan yang professional adalah mereka yang selalu memberikan laporan secara terbuka ke publik sebagai bentuk pertanggung jawaban. Laporan itu berisi berapa biaya pengelolaan bantuan, dan berapa akhirnya yang sampai pada penerima.

5. Partisipasi

Lembaga penyalur bantuan sejatinya tak hanya beraksi di saat bencana saja. Ada baiknya memilih lembaga yang tetap memberi bantuan dalam jangka panjang di lokasi bencana. Misalnya saja dalam bentuk memberikan pendidikan kepada anak-anak di lokasi bencana, ada program healing therapy, sampai pembangunan kembali lokasi bencana.

Lalu, kira-kira konkretnya lembaga apa saja ya yang bisa kita pilih buat urusan ini? Berikut ini ada lima lembaga yang bisa dipertimbangkan:

  • Aksi Cepat Tanggap (ACT)

ACT adalah lembaga kemanusiaan yang menspesialisasikan diri pada penanganan bencana alam dan bencana kemanusiaan dengan model terpadu (Integrated Disaster Management). Aksinya mulai dari emergency, rescue, medis, relief, hingga rekonstruksi dan recovery (pemulihan).

  • Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa masuk ketegori lembaga nirlaba milik publik yang mengkonsentrasikan diri mengurusi masalah sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf) maupun sumber dana lain dari perorangan dan kelompok.

  • Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU)

Lembaga ini lahir pada 10 Desember 1999 yang cakupan kegiatannya pada misi penyelamatan kemanusiaan di daerah bencana maupun daerah kritis, rehabilitas kemanusiaan (pembangunan air bersih, kesehatan, pendidikan), dan pembangunan masyarakat.

  • MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)

MER-C adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela dan mobilitas tinggi. Di samping itu, lembaga ini juga memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam.

  • Al Azhar Peduli Ummat

Organisasi ini dibentuk Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dengan mendayagunakan sumber daya dan partisipasi publik. Alokasi bantuannya misalnya mengatasi bencana kekeringan di daerah, musibah bencana alam, dan lain sebagainya.

Itulah sebagian lembaga yang bisa dipilih untuk menyalurkan sumbangan. Oh ya, perlu ditekankan ketika hendak menyumbang di sini bukan berarti semata-mata dalam bentuk uang atau sembako ya.

Ingat, menyumbang tak harus dalam bentuk uang atau barang. Bisa juga kok kreatif menyalurkan bantuan. Misalnya saja bila Anda membuka usaha laundry, kenapa tidak membuka bantuan menyumbangkan jasa pencucian pakaian untuk relawan atau petugas kemanusiaan. Kan keren itu!