Bujet Jebol Bayar Model Cantik, Brand Pakaian Dalam Victoria’s Secret Tutup 53 Outlet

Brand pakaian dalam wanita, Victoria’s Secret telah berdiri sejak tahun 1977. Roy Raymond, sang pendiri memiliki ide untuk membuat brand ini berkat keresahannya ketika ingin membelikan hadiah bagi istrinya. Saat itu ia ingin membelikan lingerie, tapi ternyata ia dipandang sebagai pria yang cabul.

Karena gak terima dengan perlakuan itu, ia pun akhirnya membuat sendiri brand yang kini sudah terkenal banget di seluruh penjuru dunia. Roy dan sang istri mengubah persepsi bahwa pakaian dalam tidak hanya disangkut pautkan dengan hal-hal cabul, tapi juga ada aspek yang lebih penting seperti kualitas, kenyamanan, dan daya tahan.

Untuk itu, berbagai macam inovasi untuk menghasilkan pakaian dalam dengan kualitas nomor wahid terus dilakukan. Strategi marketing mereka pun tak main-main, Roy menggunakan peraga seorang wanita langsung sebagai model katalognya.

Terbukti dalam waktu lima tahun saja Victoria’s Secret berhasil membuka 3 cabang dengan omzet mencapai US$ 4 juta atau Rp 57 miliar. Bahkan, di tahun 2012, mereka memperoleh laba bersih sampai US$ 1 miliar atau Rp 14 triliunan.

Setelah berjaya hingga 40 tahun, di awal tahun ini Victorias Secret dikabarkan menderita kerugian dan harus menutup beberapa tokonya.

Baca juga: Jual Pakaian Dalam tapi Punya Ferrari, Ini 6 Cara Hanan Supangkat Besarkan Bisnis

Penjualan menurun sebesar Rp 1,9 triliunan

victoria's secret
Salah satu gerai di Toronto, Kanada. (Shutterstock)

Dikutip dari CNN, perusahaan ini telah merugi sejak tahun 2017 silam. Pelanggan setianya telah berkurang sebesar 3,8 juta orang yang kemudian mereka beralih ke rival mereka yaitu Amazon dan brand pakaian dalam lainnya seperti American Eagle Aerie.

Mereka mengalami penurunan laba bersih dari US$ 919,5 juta tahun lalu, menjadi US$ 786,7. Jika diselisihkan, penurunannya sebesar US$ 133 juta atau Rp 1,9 triliunan.

Penurunan pendapatan ini dikarenakan dua hal, pertama adalah perusahaan sudah kehabisan inovasi untuk membuat pakaian dalam sesuai dengan pesanan. Kemudian, yang kedua adalah, mahalnya biaya strategi marketing dengan menggunakan selebriti top dunia sebagai modelnya.

Sebut saja Kendal Jenner yang dibayar sekitar Rp 135 miliar, kemudian Gigi Hadid Rp 121 miliaran, dan masih banyak lagi artis-artis top yang dibayar dengan harga fantastis. Satu-satunya strategi agar bisnis ini tetap berlangsung adalah dengan mengubah strategi marketing yang glamor ini atau paling tidak dengan menutup beberapa outlet.

Baca juga: Harga 9 Underwear Ini Ngalahin Pakaian Dalam Kim Kardashian

Tutup 53 outlet tahun ini

victoria's secret
Gerai yang terletak di Miami, Florida. (Shutterstock)

Dikutip dari Businessinsider, sepanjang 2019 ini, Victoria’s Secret sudah menutup 15 toko di Amerika bagian utara. Tentunya semua itu dilakukan demi keberlangsungan bisnis. Tapi, rencananya mereka akan menutup total sebanyak 53 toko yang tersebar di Amerika.

Meski tutup dalam jumlah yang gak sedikit, tapi Victoria’s Secret masih memiliki 950 toko di Amerika Serikat dan ratusan lainnya yang ada di seluruh penjuru dunia. Jika dibandingkan dengan pesaingnya, American Eagle Aerie justru mengalami peningkatan penjualan. Dalam kuartal pertama tahun ini, penjualan Aerie meningkat 32 persen.

Untuk bisa mengembalikan kejayaan Victoria’s Secret, sepertinya mereka memang sudah harus meninggalkan cara-cara strategi marketing yang kelewat mahal. Mereka juga harus mementingkan kepuasan pelanggan dengan memunculkan beragam inovasi baru, ketimbang membayar artis papan atas sebagai modelnya. (Editor: Ruben Setiawan)