Buat Top Manajemen: Jangan Cuma Bisa Menuntut, Membangkitkan Talenta Bawahan Juga Penting

Perusahaan yang kinerjanya lesu gak selalu berarti staf ataupun buruhnya kurang kompeten. Bisa saja masalah itu ada di atas alias top manajemen.

Mengatur orang, apalagi sampai ratusan dan bahkan ribuan, memang gak gampang. Namun manajemen mestinya punya kemampuan itu, karena itulah tugasnya.

Perusahaan bisa maju kalau manajemen dan staf bisa bekerja sama. Sayang, ada juga top manajemen yang kerjanya hanya menuntut.

Tuntutan ke staf memang perlu agar semangat mereka terlecut untuk meraih target. Tapiiii…..tuntutan semestinya dimbangi dengan dorongan membangkitkan talenta mereka.

Tujuannya adalah bawahan gak merasa seperti robot yang kerjanya diprogram itu-itu saja. Toh, jika talenta mereka terangkat, yang untung perusahaan juga.

Berikut ini cara membangkitkan talenta bawahan buat top manajemen:

1. Bikin pelatihan serius

membangkitkan talenta bawahan
Kalau lagi bikin pelathan tuh yang serius, biar karyawan makin pinter hehehe (Pelatihan Karyawan / Reframepositive)

Perusahaan wajib bikin pelatihan buat karyawan untuk mendukung talenta mereka. Namun bukan asal ngumpulin orang lalu dihadapkan pada trainer.

Trainer alias pelatih mesti berpengalaman dan tahu kebutuhan karyawan. Jika gak menemukan orang dari pihak eksternal, jajaran direksi juga bisa dipilih untuk membagikan pengalaman sekaligus memotivasi karyawan.

Pelatihan pun gak selalu harus disesuaikan dengan divisi karyawan. Misalnya pelatihan teknologi informasi, bisa diberikan ke bagian sekretariat atau akuntan.

Selain itu, pelatihan gak mesti berkaitan dengan pekerjaan. Sesekali bikin pelatihan menanam di wilayah perkotaan atau urban farming, kesehatan ibu, atau bahkan kecantikan. Ini perlu agar talenta karyawan di bidang lain bisa muncul dan terasah.

2. Tuntun, evaluasi, beri masukan

Manajemen mesti berperan seperti orang tua bagi karyawan. Dalam pekerjaan, sebisa mungkin mereka dituntun, dievaluasi, dan diberi masukan.

Dengan begitu, mereka merasa diperhatikan dan tahu kelebihan serta kekurangan masing-masing. Selain itu, mereka tahu apa yang mesti dilakukan untuk menonjolkan kelebihan dan menutup kekurangan.

membangkitkan talenta bawahan
Top manajemen mestinya bisa membaur dengan staf, merakyat gitu (Atasan dan Bawahan / Ecenter)

Misalnya, bikin meeting rutin tiap Senin untuk konsolidasi kerja seminggu ke depan sekaligus evaluasi seminggu ke belakang. Dalam rapat, tiap karyawan diminta melaporkan kinerja, sementara manajemen siap dengan penilaian dari mereka sendiri.

Laporan ini lalu dicocokkan dan diambil kesimpulan. Dari sini, manajemen bisa memberi tahu apa yang mesti diperbaiki selama seminggu kerja ke depan. Jangan lupa beri pujian jika kinerja mereka sebelumnya dianggap bagus.

3. Percayai mereka

Hubungan kerja yang baik haruslah berlandaskan kepercayaan baik manajemen dengan staf maupun antar-staff. Bukti kepercayaan dari manajemen adalah pendelegasian tugas ke staf, terutama yang dianggap punya kemampuan.

Contohnya diberi tugas menghadiri seminar nasional di luar kantor. Pilih staf yang dinilai bisa menjalankan tugas itu dengan baik, misalnya yang nilai kinerjanya A.

Selain menjadi bukti kepercayaan, pendelegasian tugas itu membuat si karyawan termotivasi bekerja lebih baik. Sebab, dia pasti mau diberi tugas yang penting semacam itu lagi di kemudian hari.

4. Sesuaikan tugas dengan kemampuan

Kadang staf mengeluh pekerjaan mereka gak sesuai dengan job description. Memang, manajemen bisa memberikan pekerjaan di luar kesepakatan.

membangkitkan talenta bawahan
Layaknya bidak catur, semua mesti bekerja sama biar perusahaan bisa maju (Bidak Catur / Elearningindustry)

Tapi semestinya pekerjaan itu gak jauh dari kemampuan staf. Misalnya karyawan level 3 diminta mengerjakan tugas level 1. Hal kayak gini

Atau sekretaris diminta ikut menghitung pajak untuk ikut tax amnesty. Mumpung duit tebusan masih rendah, proses penghitungan pajak mesti diselesaikan secepatnya sehingga karyawan diterjunkan semua. Begitu dalihnya.

Ini sangat berisiko karena sangat mungkin pekerjaan utama mereka terganggu, sementara job sampingan amburadul karena bukan bidang mereka. Multitasking mungkin cocok buat sebagian orang, tapi buat sebagian lainnya bisa berarti bencana.

Top manajemen sebagai pemegang kebijakan sangat menentukan arah maju perusahaan. Seyogjanya staf selaku eksekutor diajak ikut menentukan kebijakan juga, bukan hanya disuruh ini-itu.

Nan tak kalah penting adalah kesejahteraan seluruh karyawan. Jika hak-hak terpenuhi, lebih gampang untuk menuntut mereka melakukan kewajiban.

Sebaliknya, saat ada hak yang terlewat, karyawan bakal selalu punya pembenaran untuk menyimpang. Maju bareng atau mundur bareng, kita sendiri yang menentukan.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Jangan Mau Dinomorduakan, Ini Hak-hak Karyawan Perempuan yang Wajib Kamu Ketahui]

[Baca: Reguk Keuntungan dengan Bisnis Sayuran Organik Yuk]

[Baca: Ini Alasan Kenapa Multitasking Tidak Efisien dan Kurang Produktif]