Buat Kebutuhan yang Pasti kok Mengandalkan Pendapatan yang Gak Pasti? Mikir Lagi Deh!

Ada dua jenis kebutuhan, yakni yang pasti dan gak pasti. Begitu juga pendapatan. Pertanyaannya adalah gimana kalau memenuhi kebutuhan yang pasti dengan pendapatan gak pasti?

Booooommm. Itulah jawabannya.

Di sini, pendapatan gak pasti itu antara lain berupa bonus, insentif, atau hasil sabetan. Adapun kebutuhan pasti di antaranya tagihan bulanan, dari listrik, air, sampai kartu kredit, juga iuran pendidikan anak.

Namanya pendapatan gak pasti, datang atau tidak gak bisa diprediksi. Sedangkan kebutuhan yang pasti sudah tentu ada secara rutin. Berbahaya bila kebutuhan seperti ini mengandalkan pemasukan yang byar-pet seperti listrik di daerah pedalaman.

pendapatan yang gak pasti
Emang gak bisa diprediksi sih. Datang tak dijemput pulang gak diantar, itu namanya pendapatan gak pasti ehh salah ya.. itu ma Jailangkung (Jailangkung/Brilio)

Risikonya adalah tagihan gak terbayar lantaran pendapatan gak turun lancar. Lalu apakah pendapatan jenis ini gak dialokasikan buat apa-apa?

Ya gak begitu juga. Sebaiknya, alokasikan pendapatan gak pasti buat hal-hal ini aja:

1. Investasi

Bila belum punya sarana investasi, inilah saatnya merintis jalan itu. Alokasikan pendapatan gak pasti untuk memilih investasi yang dianggap paling pas, entah itu reksa dana, deposito, saham, properti, atau apa pun.

Bila sudah sadar investasi, perkuat modal dengan pendapatan tersebut. Bisa juga memperluas instrumen, dari mulanya hanya reksa dana kini melebarkan sayap merambah investasi properti. Yang penting, selalu berpikir masak-masak sebelum memutuskan berinvestasi.

2. Nambah tabungan dan dana darurat

Inilah cara paling aman untuk memanfaatkan pendapatan gak pasti. Simpan saja di tabungan untuk tujuan pada masa mendatang, misalnya beli mobil atau rumah. Bisa juga menyimpannya sebagai dana darurat.

Dana darurat berguna untuk kebutuhan darurat atau mendadak. Misalnya tiba-tiba kena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan yang tengah gonjang-ganjing. Ada pesangon, tapi gak langsung turun.

pendapatan yang gak pasti
Pendapatan seperti itu masukin aja ke tabunganmu (pendapatan/active train)

Pada saat inilah dana darurat bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari mencari kerjaan baru dan menunggu pesangon. Sebaiknya sih gaji per bulan dialokasikan setidaknya lima persen untuk dana darurat, tanpa menunggu pendapatan gak pasti.

3. Rekreasi atau liburan

Work hard, play hard. Kerja keras itu penting, tapi jangan lupa liburan. Nah, dana dari pendapatan gak pasti bisa disalurkan untuk kebutuhan itu.

Gak perlu jauh-jauh ke Hawaii atau Maladewa, ke Puncak pun sudah cukup. Yang penting pikiran kembali segar sehingga bisa kembali fokus bekerja.

Bila terlalu banyak kerja tanpa rekreasi, bisa-bisa stres. Kalau sudah stres, siap-siap saja menerima penyakit yang menyusul kemudian, dari tensi tinggi sampai stroke. Malah jadi gak bisa kerja.

4. Amal

Kewajiban beramal juga bisa dijalankan dengan dana pendapatan gak pasti. Namun jangan sembarangan beramal.

Dana amal juga perlu dimasukkan ke pos rencana keuangan. Gunanya, semua pengeluaran tercatat dan bisa digunakan untuk review pengeluaran pada bulan selanjutnya.

5. Berbagi atau rayakan dengan orang-orang terdekat

Yang terakhir ini pasti semua suka. Pendapatan gak pasti sejatinya sah-sah saja digunakan untuk hura-hura, misalnya duit bonus buat makan-makan bareng teman atau keluarga.

pendapatan yang gak pasti
Traktir-traktir teman sekali-kali gak apa-apalah asal jangan keseringan (traktir teman/askmen)

Tapi tentunya gak semua harus dihabiskan untuk kegiatan konsumtif ini. Mungkin 50 persen buat pesta, sisanya ditabung. Atau alokasi buat ditabung lebih besar.

Sebenarnya ada satu hal lagi yang bisa dilakukan dengan pendapatan gak pasti, yaitu melunasi utang. Tapi langkah ini gak selalu bisa diambil.

Sebab, kebanyakan utang atau kredit dari lembaga resmi mensyaratkan biaya penalti. Biaya ini muncul ketika kita melunasi utang sebelum waktunya.

Makanya, jika hendak memakai duit pendapatan gak pasti buat melunasi utang, lihat dulu biaya tersebut. Kalau gak ada, hajar saja daripada terus terbebani utang.

Tapi kalau ada, hitung seberapa besar. Bila terlalu banyak dan sangat merugikan, langkah ini bisa dipertimbangkan lagi.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Melunasi KTA Sebelum Jatuh Tempo, Untung atau Buntung?]

[Baca: Mau Pelesiran Lokal Rasa Internasional? Coba 6 Destinasi Ini]

[Baca: Gak Punya Dana Darurat? Siap-siap deh Menumpuk Utang]

[Baca: Jangan Salah, Ini Bedanya Menabung dan Investasi]