Bisnis Ramadan: Jasa Penitipan Hewan Itu Cerah Saat Ramadan, Cemerlang Sesudah Lebaran

Banyak ide bisnis menjelang Ramadan, namun gak jarang potensinya meredup selepas Lebaran. Hal ini gak berlaku buat bisnis penitipan hewan.

Saat bulan puasa, bisnis penitipan hewan ramai oleh konsumen yang hendak mudik atau berwisata ke luar daerah. Hewan peliharaan jelas gak bisa dibawa bepergian ke mana-mana.

Kita bisa memanfaatkan kondisi ini dengan memberikan pelayanan buat  mereka. Namun bukan berarti bisnis ini bakal gak laku seusai Ramadan.

Justru kesempatan pada bulan puasa itu kita jadikan ajang promosi bisnis untuk selanjutnya. Caranya, berikan pelayanan terbaik buat hewan-hewan peliharaan, agar pemiliknya mau kembali lagi sebagai pelanggan.

Bisa saja kelak mereka mampir setidaknya seminggu sekali untuk sekadar grooming hewan kesayangan mereka. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini.

Untuk memulai bisnis penitipan hewan, kita lihat dulu segala komponen yang diperlukan sebagai modal. Dalam hal ini, hewan difokuskan pada anjing atau kucing, yang lazim sebagai hewan peliharaan.

jasa penitipan hewan
Ayo disiapin kandangnya, kalau gak nanti kabur bisa repot tanggung jawab sama pemiliknya (Jasa Penitipan Hewan / beritadaerah)

MODAL PERALATAN DAN PERLENGKAPAN

Kandang besi besar: Rp 500 ribu x 2 = Rp 1 juta-> 1 kandang bisa muat 2 hewan kecil-sedang

Kandang kecil: Rp 250 ribu x 2 = Rp 500 ribu

Kandang kargo: Rp 100 ribu x 2 = Rp 200 ribu

Selang:  Rp 5.000 per meter x 5 = Rp 25 ribu

Blower: Rp 300 ribu

Gunting kuku: Rp 50 ribu x 2 = Rp 100 ribu

Sisir jenis pipih: Rp 50 ribu x 3 = Rp 150 ribu

Sisir jenis panjang: Rp 50 ribu x 3 = Rp 150 ribu

Sikat: Rp 30 ribu x 3 = Rp 90 ribu

Handuk: Rp  25 ribu x 5 = Rp 125 ribu

Sampo: 1 liter Rp 100 ribu

Kondisioner: 1 liter Rp 100 ribu

Pembersih mata 250 ml: Rp 80 ribu

Tisu basah khusus hewan: 100 pieces = Rp 30 ribu

Mainan: bola dan gigitan anjing Rp 50 ribu x 3 = Rp 150 ribu

Vitamin bulu: 100 tablet = Rp 120 ribu

Obat-obatan: kutu, luka, jamur =  Rp 200 ribu

Penutup mulut ukuran M, L, XL: masing-masing Rp 70, 80, 90 ribu (khusus anjing)

Mangkok makan: Rp 20 ribu x 5 = Rp 100 ribu

Makanan hewan: Rp 250 ribu ukuran 7 kilogram -> rata-rata 1 kilogram sebulan untuk satu ekor hewan

Total: Rp 4.010.000

Modal bisnis penitipan hewan diperkirakan Rp 4.010.000. Itu hanya hitungan kasar, ya. Biaya sewa tempat juga belum termasuk bila memang harus menyewa tempat.

MODAL TEMPAT DAN OPERASIONAL

Bila komponen biaya sewa tempat dimasukkan, nilainya akan melonjak. Di wilayah permukiman Jabodetabek, biaya sewa bakal lebih rendah, kira-kira Rp 60-80 juta per tahun. Biaya sewa di lokasi komersial bisa lebih dari Rp 100 juta per tahun.

Biaya buat gaji karyawan juga belum termasuk. Misalnya buka usaha di Jakarta, membutuhkan 1 karyawan. Berarti ada komponen pengeluaran gaji Rp 2 juta.

Ini belum ditambah biaya listrik dan air. Untuk keperluan ini, anggarkan saja Rp 1 juta per bulan.

Dengan begitu, biaya operasional: 2.000.000 (gaji karyawan) + 1.000.000 (listrik + air) = Rp 3.000.000

Total modal awal:

Rp 4.010.000 (peralatan) + Rp 60 juta (sewa tempat setahun) + Rp 3 juta (biaya operasional) = Rp 67.010.000.

jasa penitipan hewan
Kalau petugasnya takut, ya gak bisa dong ngerawat hewan peliharaan (Petugas / liputan6)

SUMBER MODAL

Nah, sekarang kita lihat berapa modal yang telah kita miliki. Gak perlu khawatir bila ternyata belum mencukupi. Kita bisa utak-atik hingga mendapat angka yang sesuai, misalnya nyicil beli satu-dua kandang dulu.

Atau beli peralatan paketan, misalnya paket grooming. Jangan lupa manfaatkan program diskon, termasuk dari kartu kredit yang dimiliki.

Agar gak kehilangan momentum Ramadan, kita bisa memanfaatkan layanan kredit tanpa agunan (KTA) sebagai tambahan modal. Kenapa KTA?

KTA adalah kredit yang gak memerlukan agunan atau jaminan. Prosesnya pun relatif lebih cepat, sehingga kita bisa segera buka usaha sebelum lewat Lebaran.

KTA dari Standard Chartered dan DBS Bank, misalnya. Limitnya termasuk besar dengan tenor panjang. Untuk memperbesar peluang KTA cair, sebaiknya apply dengan status karyawan.

Jadi, bisnis ini bisa dijalankan sebagai usaha sampingan selagi masih kerja sebagai karyawan. Selain itu, umumnya permohonan KTA karyawan lebih gampang diterima ketimbang pengusaha.

ESTIMASI PROFIT

Sebelum menentukan besar dana yang perlu dipinjam dari KTA, lebih baik kamu hitung dulu perkiraan profit bisnis ini per bulannya.

Harga servis:

Biaya Penitipan:

– Anjing/kucing kecil: Rp 50 ribu per hari
– Anjing/kucing sedang: Rp 75 ribu per hari
– Anjing/kucing besar: Rp 100 ribu per hari

Biaya Grooming:

– Anjing/kucing kecil:  Rp 50 ribu (reguler); Rp 80 ribu (komplet plus vitamin dan obat)
– Anjing/kucing sedang: Rp 80 ribu (reguler); Rp 110 ribu (komplet plus vitamin dan obat)
– Anjing/kucing besar: Rp 100 ribu (reguler); Rp 130 ribu (komplet plus vitamin dan obat)

Saat masuk peak season seperti Ramadan, harga itu bisa dinaikkan hingga 30 persen. Tapi karena berstatus baru buka, sebaiknya jangan pasang harga terlalu tinggi agar menarik konsumen.

Misalnya dalam sebulan setidaknya ada 5 anjing kecil, 5 anjing sedang, dan 5 anjing besar yang menjalani grooming reguler. Lalu jumlah hewan yang dititipkan per harinya ada 5 anjing yang terdiri dari 2 anjing kecil, 2 anjing sedang, dan 1 anjing besar. Adapun, hari operasional dalam sebulan ada 20 hari.

Artinya, ada pemasukan:

(5 x Rp 50 ribu) + (5 x Rp 80 ribu) + (5 x Rp 100 ribu) = Rp 1.150.000 dari grooming

(2 x Rp 50 ribu) x 20 + (2 x Rp 75 ribu) x 20 + (1 x Rp 100 ribu) x 20  = Rp 7.000.000 dari penitipan.

Total omzet: Rp 8.150.000 per bulan

Total profit: omzet – biaya operasional = 8.150.000 – 3.000.000 = Rp 5.150.000

SIMULASI CICILAN

Gak perlu takut berutang. Berani taruhan, hampir semua pengusaha sukses di dunia pernah berutang untuk memutar bisnisnya. Yang penting, utang diambil dengan pertimbangan matang.

Berdasarkan perkiraan profit minimum sebesar Rp 5.150.000, batas utang KTA yang aman bisa kita hitung dengan persentase cicilan per bulan. Besarnya angsuran total selama sebulan yang direkomendasikan adalah 30 persen dari profit, berarti:

Rp 5.150.000 x 30% = Rp 1.545.000

Berarti, kita bisa mengalokasikan maksimal jumlah di atas untuk cicilan KTA.

Misalnya kamu sudah punya tabungan untuk modal awal sebesar Rp 50 juta. Dengan begitu, kamu masih butuh tambahan modal Rp 17.010.000. Untuk mudahnya, kamu bisa pinjam KTA Rp 20 juta. Sisa dana sekitar Rp 3 juta bisa kamu simpan sebagai dana darurat.

Dengan mengambil contoh KTA dari Standard Chartered, berikut perhitungan cicilannya:

Plafon pinjaman: Rp 20 juta

Tenor pinjaman: 24 bulan

Bunga per tahun: 19,08 persen

Cicilan per bulan: [pinjaman + (pokok bunga)] : 24 = [20.000.000 + (20.000.000 x 19,08% x 2)] : 24 = Rp 1.151.333

Jumlah cicilan di atas tentunya masih dalam batas aman kredit yang disarankan. Selanjutnya, kamu perlu menghitung petensi profitmu tiap bulan setelah dikurangi cicilan KTA:

Profit per bulan setelah mengambil KTA: omzet – biaya operasional – cicilan KTA = 8.150.000 – 3.000.000 – 1.151.333 = Rp 3.998.667

Capture SCBKalau sudah tahu estimasi profit dan cicilan KTA, PR kamu selanjutnya adalah memastikan bisnis penitipan hewanmu bisa terus berjalan paling tidak sampai utang KTA lunas. Lebih bagus lagi kalau bisa berkembang dan bahkan membuka cabang baru.

Membuka usaha adalah soal kejelian memanfaatkan momentum dan mengatur strategi bisnis. Dalam hal bisnis penitipan hewan, kita bisa mengembangkannya dengan menyediakan jasa grooming ke rumah-rumah.

Bisa juga bekerja sama dengan dokter hewan agar layanan kesehatan bisa diintegrasikan dengan kenyamanan. Untuk mewujudkannya, gak perlu takut berutang. Utang bukanlah hal terlarang dalam dunia usaha.

Yang penting, kita mengambilnya dengan pertimbangan matang dan kesadaran untuk melunasinya. Apalagi dalam momen Ramadan seperti ini. Kesempatan jangan sampai kita lewatkan hanya karena kekurangan modal.

CTA Standard Chartered NEW

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: 4 Hal Mendasar dan Penting Buat yang Mau Serius Buka Usaha]

[Baca: Sebelum Berutang, Cari Tahu Dulu Bedanya Utang Produktif dan Utang Konsumtif]

[Baca: Karyawan Lebih Berpeluang Dapat KTA Ketimbang Pengusaha, Benarkah?]