Biaya Produksi Bisnismu Bisa Lho Dihemat dengan 6 Cara Sederhana Ini

Biaya produksi adalah suatu hal yang wajib diperhitungkan dalam menjalankan sebuah bisnis. Dari biaya produksi, kita bisa menentukan berapa produk atau jasa yang bakal kita pasarkan.

Tujuannya untuk bisa mengkalkulasikan keuntungan yang kita dapatkan. Jangan sampai, demi memberikan kesenangan terhadap pelanggan, kamu memberikan harga super murah tanpa memperhatikan biaya produksi. Kalau kamu salah satu yang seperti itu, bisa diperkirakan bisnismu bakalan bangkrut, kecuali kamu sudah mendapatkan keuntungan yang sangat besar sebelumnya.

Jadi biaya produksi itu meliputi seluruh dana yang kita keluarkan demi keberlangsungan bisnis, misalnya membeli bahan, membayar listrik untuk kantor, menggaji karyawan, apapun yang berhubungan dengan pengeluaran rutin perusahaan.

Bagi kamu, yang saat ini tengah menjalani sebuah bisnis tapi masih skala kecil, ada baiknya untuk lebih berhemat. Pangkas sebagian biaya produksi demi keberlangsungan bisnismu. Jika masih skala kecil, kayaknya memang gak perlu deh mengeluarkan bujet lebih. Biar kamu pintar menghematnya, kita kasih beberapa cara untuk menghemat pengeluaran alias biaya produksi dikutip.

Baca juga: Jalan-Jalan ke Singapura, Jangan Lupa Kunjungi Pusat Belanja Murah Ini Ya!

1. Putuskan jaringan telepon tradisional

Jaringan telepon (Shutterstock).

Telepon tradisional sepertinya sudah jarang kita temui di bisnis-bisnis kecil. Nah ternyata, keputusan untuk memutus jaringan telepon adalah pilihan yang paling tepat untuk berhemat.

Bayaran telepon per bulannya bukanlah hal yang murah, dan saat ini sudah jarang orang yang menggunakan kabel telepon sebagai sarana komunikasi utama. Jadi, lebih baik kamu gunakan kontak pesan instan yang tersedia di perangkat ponsel pintar sebagai alat komunikasi.

Biaya yang lebih murah dan akses yang dinilai lebih cepat jadi suatu nilai plus penggunaan pesan instan untuk memangkas pengeluaranmu dalam berbisnis.

2. Kurangi penggunaan kertas

Kurangi penggunaan kertas (Shutterstock).

Berhemat-hematlah dalam penggunaan kertas. Kalau ada pekerjaan bisnis yang mengharuskan kamu mengirimkan sebuah dokumen yang penting, cobalah untuk gunakan email. Email memiliki keunggulan yang lebih cepat dan ramah terhadap lingkungan.

Dengan menggunakan email sebagai sarana pengiriman dokumen penting, kamu berarti sudah bisa berhemat banyak. Bayangkan kalau menggunakan hard copy, kamu harus mengeluarkan pengeluaran untuk tinta printer, membeli kertas, dan menanggung beban listrik dari printer.

Selain itu, dengan menghentikan penggunaan kertas, kamu juga turut berkontribusi untuk menjaga kelestarian lingkungan. Artinya, kamu turut melawan pemotongan liar pohon di hutan luas untuk kepentingan industri.

Jadi usahakan untuk gak menggunakan kertas untuk keperluan bisnis, kecuali jika memang benar-benar diharuskan dalam sebuah persyaratan tertentu.

Baca juga: Buka 24 Jam Tanpa Henti, Big Bad Wolf 2019 Targetkan 1 Juta Pengunjung

3. Menggunakan pemasaran bisnis secara online

Pemasaran bisnis online (Shutterstock).

Pemasaran melalui internet merupakan hal yang cepat, berbiaya murah, dengan hasil yang maksimal. Pemasaran secara online bisa kamu lakukan melalui media sosial, misal iklan di Facebook, atau Instagram.

Coba manfaatkan dua platform itu untuk memasarkan produk bisnismu. Caranya dengan membuat akun sendiri bisnismu, lalu pajangkan produk yang kamu jual berikut dengan deskripsinya. Jangan lupa, agar menarik perhatian pengguna lainnya, gak ada salahnya untuk memasang iklan di Facebook Ads atau Instagram Ads.

Jadi kamu gak perlu deh keliling-keliling sambil menyebarkan brosur yang jelas-jelas sangat menguras kantongmu.

4. Kurangi penggunaan kartu kredit

Kurangi penggunaan kartu kredit (Shutterstock).

Menggunakan kartu kredit dalam urusan bisnis memang sangat membantu. Apalagi jika kamu adalah pebisnis skala kecil dengan modal yang pas-pasan. Tapi, itu bukan cara yang bijak untuk jangka panjang.

Bisnis itu penuh ketidakpastian, seandainya kamu sudah menggunakan kartu kredit dalam jumlah yang lumayan banyak untuk modal, tidak menjamin bisnismu bakalan sukses, yang artinya justru membebanimu di masa depannya.

Baca juga: Lakukan Hal Ini Jika Ingin Menjadi Kaya Raya Saat Tua Nanti

5. Ketatlah terhadap bujet

Perketat anggaran (Shutterstock).

Anggaran biasanya dibuat di awal-awal bisnis berjalan atau awal tahun. Di situ dimuat dana-dana yang telah ditempatkan di pos-pos tertentu, misalnya untuk marketing, biaya listrik, gaji karyawan, atau biaya produksi lainnya. Biar bisnis kamu terarah dan lebih hemat, jangan sekali-kali menyeleweng dari anggaran yang telah dibuat.

Cobalah untuk lebih ketat soal anggaran, karena ini berkaitan dengan modal bisnis. Kalau kamu gak disiplin, yang ada nanti malah duitmu bakalan habis hanya untuk hal-hal yang sebenarnya gak penting.

Jangan lupa persiapkan di awal anggaran untuk hal-hal yang tak terduga. Tujuannya adalah sebagai langkah antisipatif supaya bujet di pos-pos tertentu tidak kamu otak-atik untuk keperluan mendadak.

6. Beli peralatan bekas

gak ada salahnya kamu mencari barang bekas layak pakai dengan kualitas baik.

Membeli barang baru secara eceran adalah hal yang biasa dilakukan oleh para pengusaha. Tapi, harus dipahami, bagi pengusaha skala kecil, itu adalah hal pemborosan. Memang secara kualitas mereka lebih tahan lama, tapi gak ada salahnya kamu mencari barang bekas layak pakai dengan kualitas baik.

Mengingat bisnis dengan skala kecil memiliki bujet yang terbatas. Dana tersebut juga gak cuman digunakan untuk membeli peralatan anyar, tapi juga untuk perencanaan lainnya. Jadi alangkah lebih bijak untuk menghemat biaya produksi, carilah barang-barang bekas yang masih layak, bisa mencarinya di situs-situs online terpercaya.

Itu tadi 6 hal yang bisa kamu lakukan khususnya pengusaha skala kecil untuk menghemat biaya produksi. Kalau diperhatikan semuanya bermuara pada pemanfaatan teknologi. Jadi terbukti kan kalau misalnya teknologi sangat membantu untuk bekerja secara efisien, efektif, dan tentunya murah. Semoga berjalan dengan lancar ya penghematan biaya produksinya! (Editor: Winda Destiana Putri).