Biar Gak Dibohongin, Simak Nih 5 Informasi Palsu di Internet tentang Tilang dan Polisi

Penyebaran berita palsu alias hoax di Internet mungkin lebih cepat ketimbang pacuan motor Valentino Rossi kalau diadu. Modal baca judul, langsung klik share.

Masalahnya adalah banyak yang menjadi korban informasi palsu di Internet tersebut. Dan bukan hanya penghuni dunia maya, tapi juga mereka yang gak tahu-menahu soal penyebaran hoax tersebut.

Contohnya hoax soal polisi. Yang terbaru adalah polisi mendapat Rp 10 juta kalau menangkap pelanggar lalu lintas yang berusaha menyuap.

Info ini menyebar begitu cepatnya, sampai-sampai kepolisian turun tangan melakukan klarifikasi. Kalau info itu betul, dijamin gak ada polisi lalu lintas yang beli rumah dengan cara kredit. Soalnya, tiap hari bisa dapat puluhan juta rupiah.

Hampir tiap orang yang kena tilang polisi pernah coba menyuap. Hayo, ngaku….

Berikut ini adalah 5 informasi palsu di Internet tentang tilang dan polisi, termasuk soal rezeki nomplok Rp 10 juta buat polantas yang menangkap penyuap:

1. Denda Rp 10 juta

tilang dan polisi
Duit Rp 10 juta tuh gak sedikit bro, siapa yang mau kasih ya hehehe (Tumpukan Rupiah / Klimg)

Polisi yang menangkap penyuap dikasih Rp 10 juta, sedangkan penyuapnya dihukum 10 tahun. Ini hoax yang betul-betul gak masuk akal. Kalau benar ada aturan seperti ini, polisi yang kerja di bagian intel dan lainnya pasti pada minta dimasukin ke satuan lalu lintas.

2. Baut pelat nomor kepanjangan

Di Cirebon pernah ramai kabar orang kena tilang Rp 50 ribu gara-gara batu pelat nomornya kepanjangan. Informasi ini dipastikan palsu karena gak ada aturan tilang soal panjang batu pelat nomor.

3. CCTV di jalur Transjakarta

Polisi gak akan menilang pengendara yang masuk busway di Jakarta karena ada CCTV. Denda akan dijatuhkan ketika si pengendara memperpanjang STNK. Masalahnya, lihat deh di STNK, ada gak komponen denda tilang karena masuk busway?

4. Pilih slip biru

“Kalau ditilang, jangan mau dikasih slip merah. Pilih slip biru!” Begitu kira-kira bunyi informasi palsu di Internet tentang tilang dan polisi ini. Menurut info itu, kalau pilih slip biru bakal kena denda lebih murah.

Padahal, slip biru menandakan kita mengakui bahwa kita salah. Jadi, kita akan diminta membayar denda maksimal ke bank yang ditunjuk, yaitu BRI. Hakim akan mengadakan sidang dan memutuskan berapa denda yang harus kita bayar tanpa kehadiran kita di pengadilan.

Kalau ternyata dendanya lebih rendah, selisih pembayaran kita ke bank akan dikembalikan. Namun kalau dendanya sama besar dengan denda maksimal, ya wasalam. Slip pembayaran itu harus kita bawa ke kepolisian untuk mengambil SIM/STNK yang disita saat kena tilang.

Sedangkan slip merah diberikan kalau kita gak ngaku salah. Dengan begitu, kita diwajibkan datang ke pengadilan untuk mengikuti sidang. Saat sidang inilah diputuskan denda yang harus dibayar.

tilang dan polisi
Jangan cuma tahu surat cinta dong, surat tilang juga musti paham (Surat Tilang / Sadarhukum)

Setelah bayar denda di loket pengadilan, kita bisa langsung ambil SIM/STNK di tempat yang sama. Nah, proses ini bisa berjalan seharian, sehingga muncullah calo-calo yang menawarkan jasa mengurus sidang. Kalau pakai calo, berarti kita mesti bayar denda plus jasa calo itu, yang bisa sampai ratusan ribu rupiah.

5. Denda tilang naik

Dikabarkan pengendara yang ketahuan nyambi main hape dikenai denda Rp 750 ribu. Terus denda gak ada spion Rp 500 ribu. Bahkan sopir mobil yang lupa menutup rapat pintunya kena Rp 500 ribu.

Info ini juga palsu. Jumlah denda sudah ada aturannya. Angka-angka yang muncul dalam aturan itu adalah batas maksimalnya.

Jadi, jika dendanya Rp 500 ribu, bisa saja kita cuma bayar Rp 50 ribu berdasarkan pengadilan. Wong Rp 500 ribu itu maksimal.

Aturan soal tilang ada di Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Jadi, jangan mudah percaya apa yang tersebar di Internet, WhatsApp, BBM, dan lain-lain.

Kalau ada info terbaru soal tilang, pasti diumumkan di media massa baik cetak maupun elektronik. Perkara duit begini kita mesti hati-hati. Bukan mustahil polisi juga ikut bermain.

Meski salah dan kena tilang, kita mesti memastikan polisi menjalankan aturan yang berlaku. Rugi kan, keluar duit Rp 100 ribu tapi masuk ke kantor polisi.

tilang dan polisi
Kalau cuma mau main ke kantor polisi sih gak apa-apa, asal jangan karena kasus hehehe (Kantor Polisi / Saibumi)

Siapa tahu ikut sidang dendanya malah Rp 50 ribu. Sebanyak Rp 50 ribu sisanya bisa ditabung. Lumayan, kan, daripada lu manyun.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Gaji 4 Juta Bisa Beli Rumah, Nyicil Maksimal 20 Tahun]

[Baca: 8 Informasi Wajib Tahu Seputar Perpanjangan STNK Online]

[Baca: Polisi Palsu, Pegawai KPK Palsu, Waspadai 10 Petugas Abal-abal Ini]